"Kau kenapa, Lima Belas?"
Alpheratz berjalan mendekati Fori dengan tampang bingung. Ia terkejut melihat wajah Fori yang entah bagaimana mendadak memandang ke arahnya dengan judes.
"Kenapa aku bisa ada di sini? Lalu kenapa muka jelekmu juga mendadak bisa ada di sini?" tanya Fori lagi dengan mata melotot jengkel.
"Aku? Muka jelek?" tanya Alpheratz kebingungan. "Aku datang ke sini untuk bertanya kepadamu cara memakan makanan yang kau berikan ini."
Fori melirik ke arah tangan Alpheratz dan kemudian mengangkat sebelah alis matanya.
"Cokelat?" ucapnya dengan heran. "Kau memakan makanan seperti ini di bumi?!"
"Hah? Bukannya kau yang tadi memberikan ini kepadaku?" tanya Alpheratz melongo.
Bukk!
Fori mendorong masuk cokelat berbungkus utuh di tangan Alpheratz hingga masuk ke dalam mulutnya dengan cepat.
"Begini caramu memakan makanan seperti ini, dasar pria bodoh!" serunya dengan ketus.
Fori kemudian memandang seluruh tubuhnya sendiri dan situasi di sekitarnya tanpa mempedulikan Alpheratz yang langsung tersedak. Ia menahan napas sejenak dan kemudian membenamkan kepalanya di kedua tangannya.
"Ini artinya aku sudah masuk ke tubuh Lima Belas?" desis Xynth yang sudah berada di dalam tubuh Fori dengan bola mata berkilat-kilat penuh dendam setelah sempat histeris sendiri. "Antares ... lagi-lagi dia! Lihat saja nanti, aku akan membakarnya hidup-hidup!"
"Antares...?" tanya Alpheratz dengan mulut penuh. "Kenapa mendadak kau marah kepada Antares?"
Xynth tidak menjawabnya. Ia menatap bengong ke arah bungkus pembalut di tangannya dan kemudian melemparnya ke samping rak mini market dengan jijik.
"Benda apa yang baru saja kupegang itu?! Bukankah itu ... benda bersayap milik perempuan?!""
"Lima Belas, kau kenapa?" gumam Alpheratz tiba-tiba bertanya sambil mengunyah bungkus cokelat di mulutnya. "Makanan ini kenapa susah sekali dikunyah? Terkadang memang manis, tetapi kenapa sebagian terasa kesat di lidah?"
Xynth kembali melirik ke arah Alpheratz dengan jengkel. Ia lalu kembali mendorong masuk seluruh cokelat itu ke mulut pria itu.
"Sudah kubilang, makan dengan bungkusnya, pria sialan! Apa otakmu d***u?!"
"K-kau ... sedang mengatakanku d***u?" ulang Alpheratz yang baru saja kembali tersedak hingga mukanya memerah. "Kenapa mendadak kau berubah drastis? Sekarang kau benar-benar terlihat seperti si b******k Xynth!"
"Kau bilang apa tentangku? b******k?!" Xynth menatap Alpheratz dengan tensi darah meninggi.
Dengan kesal, ia kemudian berusaha mengeluarkan kekuatan dari tangannya untuk menerbangkan Alpheratz jauh-jauh. Namun yang terjadi, kekuatan dari jarinya hanya setengah keluar dan tidak bahkan mampu mencapai Alpheratz yang masih terbatuk-batuk dengan mulut belepotan cokelat.
Ke-kenapa ini? Apa yang terjadi dengan kekuatanku? Kenapa aku tidak bisa menggunakannya dengan maksimal? Xynth, yang berada di tubuh Fori menggumam dalam hati dengan bingung. Apa hampir seluruh kekuatanku tertinggal dalam tubuhku sendiri?
"Berikan aku minuman tadi lagi," ucap Alpheratz mendadak membuyarkan lamunan gadis yang disangkanya masih adalah Fori. "Tenggorokanku terasa sakit. Aku mau minuman yang kau berikan kepadaku tadi!"
Tubuh Fori yang dimasuki oleh Xynth bergetar hebat saat mendengarkan ucapan Alpheratz kepadanya. "K-kau ... sedang memberikan perintah kepadaku, bocah Andromeda terkutuk?"
"Hmmh.. kenapa gaya bicaramu persis seperti, Xynth?" ucap Alpheratz dengan bingung sambil mencolek bahu Fori. "Cepat ambilkan minuman tadi untukku!"
"Ambil saja sendiri!" teriak Xynth sambil mendorong Alpheratz hingga pria itu membentur rak pembalut di mini market hingga rak itu terjatuh karena sedikit kekuatannya yang terbawa sampai ke tubuh Fori. "Berani sekali kau menyentuhku, pria c***l!"
"P-pria c***l?" ulang Alpheratz dengan mulut menganga setelah seluruh kepalanya tertimpa bungkus-bungkus pembalut berwarna merah muda. "K-kau manusia rendahan sedang menyebutku sebagai pria c***l?"
"Ada apa di sini?!" tanya petugas kasir dari depan ke arah lorong rak pembalut.
Pria kasir tersebut terbelalak ketika melihat kondisi rak terjatuh ke bawah lantai dan ada sosok pria dengan kepala penuh dengan bungkusan pembalut di lantai. Ia kemudian memanggil seorang rekannya untuk mendekat ke arah lorong itu.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya sang petugas kasir sambil menunggu kedatangan temannya yang seorang lagi. "Kenapa kalian membuat rak ini sampai jatuh?!"
"Ah, maafkan saya, tetapi pria ini adalah pria c***l!" ucap Xynth sambil mengangkang di tempat dan mengangkat rak itu kembali. "Dia tadi menyentuh badan saya di sini!"
Kasir itu tidak fokus ke arah Alpheratz dan malah menganga saat melihat tubuh mungil Fori yang dimasuki oleh Xynth tengah mengangkat rak tersebut kembali ke posisinya dengan bahunya. Ia semakin melongo saat melihat gadis mungil itu kemudian memukuli kepala Alpheratz yang juga ikut bengong di lantai dengan bungkus-bungkus pembalut.
"A-apa-apaan kau?!" teriak Alpheratz sambil melindungi kepalanya sendiri dari pembalut. "Kenapa kau lagi-lagi menyentuh kepalaku, manusia rendahan?! Aku akan membunuhmu!"
"Psst, jangan tunjukan kekuatanmu di depan manusia," bisik Fori dari sela-sela giginya ke arah telinga Alpheratz. "Lagi pula, berani sekali kau mengancam akan membunuh seorang perempuan! Kau laki-laki atau b*****g?!"
Xynth kini menampar wajah Alpheratz dan menjambak rambut pria itu dengan keras hingga pria itu mimisan seketika. Satu orang kasir lagi yang baru tiba di sana sontak ikut bengong saat melihat adegan kekerasan yang diperagakan Xynth dengan tubuh Fori ke arah Alpheratz.
"Menurutmu ... kita harus memanggil polisi?" bisik kasir pertama kepada temannya yang baru datang dan mematung di sana.
"Si-siapa mereka...," gumam kasir kedua masih tidak bisa bereaksi normal.
Keduanya masih terdiam kaku saat melihat Fori membanting tubuh Alpheratz di lantai dan langsung berjalan keluar dari mini market dengan langkah kaki yang mengangkang gagah layaknya seorang laki-laki jantan. Alpheratz sendiri masih bengong di tempatnya dengan mulut belepotan cokelat dan hidung yang mimisan.
"Di-dia ... seperti kakak ipar," gumam Alpheratz terperangah melihat Xynth yang melangkah keluar dan meninggalkannya.
Dengan cepat, pria itu kemudian segera beranjak dan ikut melangkah cepat keluar mengikuti Xynth. Ia berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Xynth sambil memandanginya dengan penuh tanda tanya. Sementara di bagian dalam mini market, dua kasir tadi hanya menatap kepergian mereka dengan wajah saling memandang.
"Syukurlah pasangan itu sudah pergi. Mereka sangat aneh sekali," ucap kasir pertama kepada rekan di sampingnya.
"Setidaknya mereka hanya menjatuhkan sedikit barang tanpa merusaknya. Mereka juga mengembalikan rak kita seperti semulai," ujar kasir kedua sambil menggaruk-garuk kepalanya. Keduanya lalu sama-sama tertawa di tempat mereka.
"Tunggu dulu," ucap kasir pertama, "lalu ... bagaimana dengan belanjaan minuman dan cokelat mereka tadi?"
"Mereka belum membayar belanjaan mereka?" tanya kasir kedua.
"Belum."
Keduanya kini sama-sama terdiam dan saling memandang sesaat. Setelah beberapa detik, keduanya pun langsung bergegas keluar untuk mengejar Xynth dan Alpheratz yang kini sudah berada di bagian tengah jalan raya.
"Hey kalian, tunggu sebentar!" teriak kedua kasir sambil berlari kencang ke arah Xynth dan Alpheratz. "Kalian belum membayar makanan dan minuman kalian!"
"Kenapa kedua orang itu?" tanya Alpheratz dengan bingung ke arah Xynth. Keduanya sama-sama tidak begitu jelas mendengarkan teriakan kedua kasir yang tengah berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.
"Apa mereka bermaksud memanggil polisi karena ulah cabulmu?" ucap Xynth bertanya balik ke arah Alpheratz dengan sama bingungnya.
"Aku? c***l?"
"Ah, persetan!" ucap Xynth mendadak kabur. "Aku tidak mau berurusan dengan polisi manusia!"
Alpheratz yang kaget melihat Xynth kabur, menoleh ke belakang dan melihat dua kasir tersebut masih berteriak sambil mengejar mereka dengan penuh nafsu. Pria itu pun kemudian melihat ke arah Xynth lagi yang sudah berlari menjauh dan kemudian dengan refleks ia pun ikut lari tunggang langgang.
"Apa-apaan itu?!" tanya Alpheratz sambil mengejar Xynth.
"Aku tidak tahu," jawab Xynth sambil berteriak ke arahnya. "Ini karena kau c***l jadi mereka akan memanggil polisi untuk memenjarakanmu!"
"Penjara? Maksudmu penjara manusia?" tanya Alpheratz lagi dengan masih tidak paham.
"Kau bodoh atau apa?!" seru Xynth dengan kesal. "Ya jelas penjara manusia! Kau pikir mereka akan membawamu kembali dan memenjarakanmu di Andromeda atau Kiklios?! Cepat sembunyi!"
Xynth kemudian dengan cepat langsung melempar badan Alpheratz untuk masuk ke dalam semak-semak di padang rerumputan dekat dengan daerah mereka. Pria itu lalu membekap mulut Alpheratz dengan cepat tanpa mempedulikan Alpheratz yang sudah megap-megap di tempatnya.
"Diam, mereka sedang berjalan ke arah sini!" bisik Xynth penuh ancaman ke arah Alpheratz.
Keduanya kemudian melirik ke arah lubang semak-semak dan melihat dua kasir tadi terlihat kebingungan di tempat mereka berdiri. Setelah memandang ke kiri dan ke kanan dan gagal menemukan Xynth dan Alpheratz, kedua kasir itu pun kemudian pergi lagi dari sana dengan tampang yang berbeban berat dan letih lesu.
"Ah, sialan," umpat Xynth mendadak ketika melepaskan tangannya dari mulut Alpheratz. "Sekarang tanganku penuh dengan cokelat dari mulutmu dan darah dari hidungmu! Dasar makhluk Andromeda sialan!"
Alpheratz mendadak terdiam. Kedua bola matanya tiba-tiba memandangi wajah Xynth dengan tatapan yang tajam.
"Tunggu sebentar," ucapnya mendadak. "Sejak tadi sikapmu berubah total dibanding sebelumnya. Kau mendadak memakiku dengan kasar dan menyebutku sebagai makhluk Andromeda.
"Katakan kepadaku,"---lanjutnya sambil mendekati wajah Xynth dengan penuh kecurigaan---"kau ... bukan lagi manusia Lima Belas, kan? Jangan-jangan kau... kau...."