"Katakan kepadaku,"---lanjutnya sambil mendekati wajah Xynth dengan penuh kecurigaan---"kau ... bukan lagi manusia Lima Belas, kan? Jangan-jangan kau... kau... Xynth?"
"Aku... Xynth?" ulang Xynth di dalam tubuh Fori dengan tampang setengah mati terkejut.
Pria itu tidak habis pikir bagaimana Alpheratz bisa menebaknya dengan tepat. Ia baru akan berkelit, tetapi mendadak Alpheratz tertawa tergelak-gelak.
"Ahahaha, ini memang tidak mungkin, kan?" ucap Alpheratz sambil menggaruk-garuk kepalanya sendiri. "Gaya berbicaramu mirip dengannya yang selalu meledak-ledak seperti kaisar. Meskipun begitu, mana mungkin pria aneh itu masuk ke dalam tubuhmu lebih cepat dari yang seharusnya!"
Xynth melihat Alpheratz kembali tertawa. Ia yang sebenarnya masih dalam kondisi tegang, akhirnya juga terpaksa ikut tertawa dengan kikuk.
"Ah, tempat ini gatal sekali!" kata Alpheratz kemudian sambil berdiri dari tempatnya. "Aku masih tidak mengerti kenapa kita harus melompat ke semak-semak begini. Aku bisa saja membuat dua orang tadi terlempar jauh-jauh dari kita."
Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan melihat ke sekelilingnya. Namun saat ia kembali menoleh untuk melihat Xynth, wajahnya mendadak mematung. Wajah Alpheratz sesaat kaku sebelum ia kemudian mulai mengarahkan telunjuknya ke arah rok yang dikenakan Fori.
"Manusia Lima Belas, apa kau baik-baik saja?" tanya Alpheratz dengan wajah ekspresi wajah yang tegang.
"Hmmh?"
Fori menggumam sambil masih menepiskan beberapa semak kering dari tubuhnya. Ia lalu memandang ke arah Alpheratz yang menatapnya dengan mata mendelik.
"Apa kau sekarat dan akan mati?"
"H-hah?"
Pria berambut putih kebiruan itu menunjuk ke arah bagian belakang rok Fori. "Kau ... bersimbah darah."
Xynth kemudian membalikkan badannya dan melongok ke arah bagian belakang roknya. Wajahnya langsung terkejut ketika melihat ada noda besar darah di bagian roknya dan ia kemudian langsung membisu.
"Apa kau tadi tertusuk sesuatu atau ada binatang yang melukaimu?' tanya Alpheratz kepadanya.
"Tidak," jawab Xynth dengan bingung.
"Atau ... apa kau sebenarnya sedang sakit?" Alpheratz kini bertanya dengan hati-hati kepadanya. "Di tempat kami, hal-hal seperti itu ... maksudku jika mendadak ada seseorang mengeluarkan darah dari dalam tubuhnya tanpa dilukai ... artinya seseorang itu sedang sekarat dan akan mati."
Xynth terdiam dan berpikir sendiri. Alpheratz benar, gumamnya dalam hati. Apa sebenarnya Lima Belas sedang sekarat dan akan mati?
"Kurasa ... kau harus segera pergi ke tabib manusia dan menyuruh mereka untuk mengobatimu. Bagaimana mungkin kau bisa bersimbah darah hanya di bagian itu saja? Kalau tabib manusia tidak bisa membantumu setidaknya kau bisa pergi untuk bertanya kepada Vega soal ini."
"Tu-tunggu sebentar," ucap Xynth tiba-tiba. Ia terpaku ke kata-kata 'bersimbah darah di bagian itu saja' yang diucapkan Alpheratz kepadanya dan teringat langsung sesuatu.
Benda bersayap milik perempuan di mini market tadi... jangan-jangan itu artinya Lima Belas sedang ....
Xynth mendadak menjerit di tempatnya dengan panik. Ia bergerak panik ke berbagai arah untuk mencari sesuatu dengan wajah yang merona merah bak kepiting rebus.
"Kenapa denganmu?" tanya Alpheratz dengan heran. "Apa kau benar akan mati?"
"Lima Belas sedang datang bulan, i***t!" teriak Xynth dengan jengkel dan panik. "Cepat cari sesuatu untuk membantuku menghentikan pendarahan ini!"
Alpheratz malah bertambah bingung. "Datang bulan? Maksudnya?"
"Siklus yang terjadi kepada manusia perempuan secara bulanan karena sesuatu di rahim mereka, semacam nebula di langit." jawab Xynth. "Ah, bagaimana aku bisa lupa soal ini. Ini ada di pelajaran sains manusia yang kupelajari sejak dulu."
"Nebula? Tempat perempuan di langit meletakkan kita sejak belum tercipta?" gumam Alpheratz. "Apa kau sedang mengandung dan akan melahirkan sampai berdarah-darah seperti itu?"
"Bukan!"
Plakkk.
Xynth menampar wajah Alpheratz dengan panik. "Berani-beraninya kau berbicara tidak sopan seperti itu kepada perempuan sepertiku. Lima Belas hamil? Gadis jelek ini masih murni dan belum tersentuh siapa pun!"
"Kau menyebut dirimu sendiri sebagai gadis jelek?" tanya Alpheratz mulai tersenyum sambil mengelus-elus pipinya. "Aneh, aku tidak menganggapnya seperti itu. Bagiku kau tidak terlalu buruk."
Buugh!
Xynth kini membenturkan kepalanya ke jidat Alpheratz dengan kesal sambil memegangi roknya dengan kedua tangannya. "Bukan saatnya bagimu untuk merayu Lima Belas! Cepat cari sesuatu untuk membantuku menutupi ini!'
Alpheratz melongo sambil mengusap jidatnya. "Kau ternyata sangat brutal dan pemarah. Entah kenapa kau mengingatkanku pada kaisar, kakak iparku."
Xynth tidak sabar melihat reaksi lamban Alpheratz. Dengan kesal, ia menarik kemeja sporty berwarna gelap yang sedang dikenakan Alpheratz dari tubuh pria itu.
Alpheratz yang masih berdiri di tempatnya langsung bengong melihat Xynth manarik baju dari tubuhnya sampai seluruh kancingnya terlepas dan sebagian bajunya robek terlepas dari bagian atas tubuhnya. Kini Alpheratz bertelanjang d**a dengan mulut menganga.
"A-apa yang kau lakukan, manusia perempuan?!" teriak Alpheratz panik sambil menutup bagian dadanya yang telanjang dengan panik. "Kenapa kau menelanjangiku di sini?!"
"Diam! Ini baju yang diberikan Capella. kan? Lagi pula aku bahkan sudah melihat burung perkututmu! Apa lagi yang harus kau sembunyikan dariku?!"
"Bu-burung perkutut?" gumam Alpheratz pucat pasi sambil memandangi Xynth dengan wajah tersinggung.
Xynth sendiri dengan cuek langsung melingkarkan kemeja Alpheratz di bagian pinggangnya.
"Ah ini tidak akan berhasil, darah ini sepertinya terus mengucur semakin banyak. Bagaimana manusia perempuan selama ini bisa menderita seperti ini? Aku butuh sesuatu yang lain untuk menghentikan darah ini," ucap Xynth dengan tampang ngeri. Pria itu kemudian mendapat sebuah ide setelah melihat ke arah Alpheratz. "Berikan celanamu kepadaku!"
"Celanaku?" tanya Alpheratz dengan wajah mendadak tegang. "Ti-tidak! Kau mau membuatku telanjang di dunia manusia seperti ini?"
"Aku membutuhkannya!"
"Kau pikir aku juga tidak membutuhkannya?!" bentak Alpheratz dengan sengit. "Tunggu di sini sebentar, aku akan berusaha mencari sesuatu!"
Alpheratz bergerak menjauh dari rengkuhan tangan Xynth dan segera melesat menghilang dari hadapannya dengan kilat. Hanya beberapa blok dari tempat itu, Xynth mendadak mendengar sebuah teriakan melengking dan histeris dari seorang perempuan tua di jalanan.
Ketika Alpheratz muncul, pria itu sudah menggenggam sebuah syal di tangannya dengan jidat yang sedikit benjol. Wajahnya merengut dengan emosi.
"Manusia ternyata adalah makhluk paling pelit dan egois!" Pria itu tampak mengomel-omel dengan kesal. "Aku hanya mau mengambil barang ini dari leher seorang nenek tua dan dia langsung memukul kepalaku dengan tas belanjaannya!"
"Itu namanya maling! Kau tidak malu sudah mencuri dari seorang wanita tua?!" seru Xynth dengan kesal. Namun dengan refleks ia langsung mengambil lembaran syal itu dari tangan Alpheratz dan kemudian mencoba melingkari mengikatnya di bagian pangkal pahanya.
"Kenapa ini tidak cukup?" gumamnya kebingungan. Ia lalu menatap lagi ke arah Alpheratz. "kenapa kau tidak mencuri perban saja dari rumah sakit di dekat sini?! Ini tidak bisa dipakai sama sekali!"
"Perban?" ulang Alpheratz balas menatapnya dengan mata terbelalak. "Kau berencana memakai perban untuk menutupi sekitar ... anu, selangkanganmu?"
"Harus ada sesuatu untuk menambal darah ini, kan?!" ucap Xynth dengan sengit. "Apa boleh buat, kemarikan celanamu saja!"
"Apa?!"
"Celanamu!"
Dalam waktu singkat, Xynth segera menarik jatuh badan Alpheratz dan mulai memaksa membuka celana panjang yang dikenakan Alpheratz. Alpheratz sendiri mulai menjerit histeris dengan wajah syok ketika melihat Xynth di dalam tubuh Fori berusaha menelanjanginya lagi.
"Hentikan! Manusia perempuan macam apa yang berani-beraninya melakukan tindakan tidakan tidak senonoh terhadap Pengeran Andromeda sepertiku?!" teriak Alpheratz sambil memberontak.
"Sudah kubilang, aku sudah melihat onderdilmu! Tidak ada yang perlu kau tutupi lagi, aku lebih butuh celana ini dibanding denganmu!"
Buugh!
Sebuah pukulan mendadak menghantam kepala Xynth dan membuatnya mendadak tersungkur jatuh ke samping Alpheratz. Baik Alpheratz dan Xynth kini menatap ke sosok di depan mereka yang mendadak muncul di sana.
Seorang wanita hampir setengah baya terlihat tengah melotot marah ke arah Xynth. Ia mengenakan pakaian kesusteran di seluruh tubuhnya dan membawa beberapa tas belanjaan di tangannya.
"Si-siapa kau?" tanya Xynth dengan wajah bengong ke arah suster di depannya.
"Siapa aku?!" bentak suster itu dengan mata yang melotot marah ke arah Xynth. "Aku mendidikmu selama belasan tahun di Panti Asuhan Immaculata dan hanya dalam sehari setelah menemuiku, kau mencoba memperkosa seorang laki-laki tidak bersalah dan berpura-pura tidak mengenalku?!"
"A-anu, Suster," jawab Xynth, "aku benar-benar tidak---"
"Ke sini kau!" pekik suster tersebut sambil menjewer telinga Xynth. "Bantu aku memasak makanan bagi anak-anak panti! Rupanya tidak saja sedang dicari-cari oleh polisi dan bolos kuliah, sekarang kau bahkan mencoba melecehkan seorang pria dengan tidak tahu malu!"
"Aku ... membantu memasak?" tanya Xynth melongo.
"Anak muda, maafkan tindakan gadis ini," ucap suster itu lagi sambil menatap ke arah Alpheratz dengan senyum hangat. "Kalau kau tidak keberatan, ikutlah dengan kami. Sebagai permintaan maaf atas tindakan Fori, aku akan membuat Fori memasak untukmu."