Xynth di Tubuh Fori #3

1263 Kata
"Maaf, siapa ... ?" Alpheratz bertanya dengan wajah melongo. Ia menatap ke arah suster di depannya dengan sedikit bingung sambil mengancingkan seleting celananya yang sebelumnya coba dibuka oleh Xynth. "Ah, Fori biasanya memanggilku Suster Elsa. Aku adalah Kepala Panti Asuhan Immaculata dan merupakan orang yang mengasuh gadis tidak tahu malu ini sejak ia kecil sekali," jawab Suster Elsa dengan senyum lebar. "Kau tidak apa-apa," lanjut perempuan hampir setengah baya itu lagi. "Bagaimana kau bisa tidak menggunakan baju atasan sama sekali? Ini sudah mulai mendung dan dingin." "A-aku .... " Alperatz berhenti berbicara dengan bingung. Ia benar-benar sedang tidak mengerti situasi yang dihadapinya sama sekali dan hanya bisa terus melirik ke arah Fori yang tengah dimasuki oleh Xynth. Sementara Xynth sendiri tidak berhenti memandangi Suster Elsa dengan sama bingungnya. "Aku tidak membawa syal atau selendang," ujar Suster Fori lagi. "Datanglah ke panti asuhan kami, letaknya tidak jauh dari sini. Aku akan meminjamkan pakaian hangat untukmu." Suster Elsa tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Alpheratz. Ia kemudian membantu mengangkat tubuh Alpheratz dari ataas tanah dan memberikan dua kantong kresek belanjaannya ke arah Xynth begitu saja. "Bawa ini, anak nakal," ucap Suster Elsa dengan tampang sengit ke arah Xynth. "A-aku?" tanya Xynth dengan tampang terkejut. "Memangnya siapa lagi? Kau tidak lihat dirimu sendiri saat ini seperti apa?!" hardik Suster Elsa dengan mata memicing ke arah Xynth. "Kau baru saja berusaha melakukaan perbuatan tidak senonoh terhadap pria malang ini dan ... penampilan apa itu?!" Rupanya di mata Suster Elsa, kejadian tadi terlihat sangat mengerikan dan traumatis untuk Alpheratz yang menangis seperti babak belur oleh kelakuan Fori. Apalagi, ia kini melihat Fori, anak didiknya yang sedang kemasukan jiwa Xynth itu, sedang mengenakan baju dengan gaya super aneh dan tidadk jelas. "Tapi aku bukan Fori," ucap Xynth dengan refleks. Plakk. Suster Fori sudah memukul pelan kepala Xynth. "Jangan banyak alasan, bawa saja itu dan ikuti aku!" Wanita itu kemudian menarik tangan Alpheratz untuk mengikutinya dan tidak mempedulikan tampang protes Xynth sama sekali. Ia berjalan riang ke arah Panti Asuhan Immaculata yang tak jauh dari sana, lalu berusaha menjamu Alpheratz setibanya ia di sana. "Kau teman Fori?" tanya Suster Elsa kepada Alpheratz begitu mereka tiba di dapur panti yang sepi dari kehadiran anak-anak di sana siang itu. "Sepertinya kau pria yang diceritakan oleh Fori tempo lalu." "Fori...?" tanya Alpheratz sambil memandangi Xynth dengan bingung. "Lima Belas," bisik Xynth diam-diam ke arah Alperatz agar ia tidak membuat masalah di sana. "Ah, i-iya, aku teman Fori," jawab Alpheratz kemudian. "Fo-ri ... pernah berbicara tentangku?" "Ya, sepertinya kau pria tampan yang diceritakannya beberapa waktu lalu," jawab Suster Elsa dengan santai sambil menyodorkan sebuah kaos berukuran besar ke arah Alpheratz. "Jarang ada laki-laki berwajah sepertimu di sekitar Fori, jadi ... aku asumsikan kau pria tampan yang Fori bicarakan kepadaku." "Ahahaha, jadi ... dia sudah banyak bercerita tentangku meski kami baru saling mengenal?" tanya Alpheratz dengan kepala membesar sementara Xynth melongo. Pria itu mengangkat sebelah alis matanya ke arah Suster Elsa. "Lim ... Fori.... Ah, maksudku aku!" ucap Xynth masih tidak terbiasa dengan tubuh barunya sendiri. "Aku berbicara soal pria sialan ini?" Plakkk! Kepala Xynth sekali lagi mendapat pukulan pelan dari Suster Elsa. Suster itu memelototi Fori dengan wajah kessal. "Kau mengucapkan kata tidak sopan! Berbicaralah sopan kepada pria yang kau sukai. Begitu cara perempuan bersikap sopan kepada laki-laki yang mereka sukai!" "Fo-ri menyukaiku?" tanya Alpheratz dengan tampang semakin bengong. "A-ku menyukai dia?" Xynth ikut bertanya dengan wajah terkejut. "Seleraku pria seperti dia?!" "Jangan pedulikan Fori," ucap Suster Elsa lagi ke arah Alpheratz sambil menyodorkan secangkir cokelat hangat ke arah pria itu. "Dia tidak pernah dekat dengan pria mana pun sebelumnya. Dia bahkan tidak memiliki teman sebelum ini." "Fori tidak memiliki teman?" tanya Alpheratz lagi dengan wajah yang kali ini lebih serius. "Sejak sangat kecil, ia sudah masuk ke panti asuhan ini. Kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah injsiden kecelakaan mendadak. Hanya Fori yang selamat saat itu. Semua teman terbaiknya di panti ini juga diadopsi dan pergi meninggalkannya. Itu makanya dia selalu seperti ini," ucap Suster Elsa menceritakan diri Fori kepada Alpheratz. Alpheratz kini menatap ke arah Xynth dengan pandaangaan misterius. "Tidak ada yang mau mengadopsi Fori saat ia kecil dulu?" Suster Elsa mengangkat bahunya sambil menghembuskan napasnya. "Gadis tidak sopan ini sebenarnya anak yang manis saat ia kecil. Ia manis dan sangat patuh. Sayangnya, ia hanya sedikit lebih sial dari yang lainnya. Berkali-kali aku memberikan profil Fori kepada banyak orang tua yang datang ke sini untuk mnegadopsi anak. "Sayangnya," lanjut Suster Elsa, "seperti ada sihir atau kutukan yang membuat mereka seolah tidak melihat Fori sama sekali. Selalu seperti itu, seolah dia ditakdirkan untuk terus hidup di sini. Fori sendiri sejak dulu tidak peduli. Dia tetap senang ada di sini dan akhirnya tumbuh besar seperti sekarang." "Tidak peduli dan berpura-pura tidak peduli adalah dua hal yang berbeda," celetuk Xynth mendadak dengan wajah serius. "Bagaimanapun, seseorang bisa saja merasa sedih tetapi terus berusaha menyembunyikannya baik-baik untuk menjaga harga dirinya." Suster Elsa tampak melihat ke arah Xynth dengan raut wajah yang sedikit heran. "Jadi selama ini kau ternyata sedih soal proses adopsi yang berkali-kali gagal?" "Hah?!" Xynth baru tersadar kalau ia berbicara sambil mengambil posisi pandangannya terhadap diri Fori dan lupa kalau ia sendiri sedang dianggap sebagai Fori saat itu. Pria itu kemudian tertawa canggung. "A-aku jelas tidak sedih. Aku hanya sedang pura-pura terlihat malang di depan pria ini. Hahaha!" "Teman-temannya sudah tidak ada yang berada di sini sama sekali?" tanya Alpheratz masih tidak tertawa sama sekali. "Dulu ada yang bernama Sega. Sega adalah teman pria paling dekat dengannya dan selalu melindungi Fori sejak kecil, tetapi Sega diadopsi oleh pemilik Yayasan Immaculata saat ini dan sudah jarang terlihat sama sekali. Itu jelas karena mereka sangat kaya raya, rumahnya ada di bukit yang tak jauh dari sini. "Lalu," sambungnya, "ada juga Beth. Teman Fori sejak ia kecil juga. Sayangnya Beth langsung diadopsi tidak lama setelah mereka berteman dekat. Meskipun begitu, sesekali Beth sering berkunjung ke sini meski sudah pindah ke Jakarta bersama orang tua barunya. Beth juga masuk ke kampus yang sama dengan Fori dan mereka satu asrama. Namun Beth juga sibuk dengan banyak aktivitasnya sendiri." "Bagaimana dengan teman-teman sekolahnya?" tanya Alpheratz sekali lagi. Suster Fori kini menatap ke arah Xynth dengan prihatin. "Gadis ini sejak dulu tidak bisa bergaul dengan teman-teman sekolahnya dan terus mengeluh kalau ia selalu dirudung di sekolahnya. Itu mungkin karena yayasan memasukkannya ke sekolah milik Immaculata yang rata-rata berisikan orang-orang sangat kaya raya. Dia gagal beradaptasi dengan benar." Suara jeritan tangis seorang anak kini terdengar dari lorong di atas mereka. Suster Elsa melirik ke arah atas plafon dan menatap keduanya lagi dengan cepat. "Fori, temani pria ini di sini sebentar. Aku harus ke atas karena pasti ada anak-anak yang sedang berkelahi di atas," ucap Suster Fori sambil bergegas. "I-iya." "Namamu tadi ...?" tanya Suster Elsa lagi sambil menghentikan langkahnya sejenak dan menoleh ke arah Alpheratz lagi. "Alpheratz. Namaku Alpheratz," jawab Alpheratz dengan sopan. "Baiklah, Alpheratz, kalau ada apa-apa katakan saja kepada Fori. Aku ke atas sebentar." Alpheratz menganggukkan kepalanya dan melihat Suster Elsa kini menghilang bersamaan dengan derap langkah cepat wanita itu menaiki tangga ke bagian atas panti. Pria itu sendiri kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Xynth yang masih tercenung di tempatnya. Saat Xynth tersadar bahwa Alpheratz sudah berdiri tak jauh darinya, sebuah jari telunjuk Alpheratz mengangkat dagunya ke atas dan membuatnya menengadah ke arah wajah Alpheratz yang sedang menatapnya dengan tajam. "Yang kau katakan di tempat pembelian minuman dingin tadi benar, hidupmu memang tidak seperti yang kubayangkan sebelumnya," ucap Alpheratz. "Kita punya banyak kesamaan, Lima Belas. Kurasa mulai sekarang, aku akan lebih menyukaimu. Setelah kupikir-pikir, kau ... sangat menarik."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN