9-Marah Atau Cemburu?

2114 Kata
Ketika sahabat mencemburui sahabatnya apakah itu tanda tali persahabatan telah berubah menjadi tali cinta? ***   Jasmine membelokkan mobilnya ke gedung perkantoran. Pagi ini, dia memang kembali membawa mobil. Alasannya? Lagi pengen. Dia terkadang kasihan dengan Varlo atau Valan yang menjemput ke rumahnya. Usai mobilnya terparkir, Jasmine turun dari mobil dengan tas slempang menyampir di bahu kiri. Dia berjalan sambil memasukkan kunci mobil ke dalam tas. “Jas!! Jasmine!!” Samar-samar dia mendengar ada yang memanggil. Dia berbalik, dari kejauhan terlihat Valan berlari ke arahnya. “Ngapain coba lari-larian gitu?” tanya Jasmine ketika Valan sampai di depannya. Valan mengatur napasnya yang naik turun. Sambil perhatiannya tertuju ke wajah cantik Jasmine yang entah kenapa hari ini terlihat begitu cerah itu. Arah pandang Valan lalu turun ke kemeja batik panjang dan rok pensil selutut yang dikenakan Jasmine. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Entah untuk alasan apa, dia suka dengan penampilan Jasmine. “Woy! Malah ngelamun!” Puk!! Jasmine menepuk kening Valan. “Udah, yuk, masuk.” Valan melihat Jasmine berbalik lalu berjalan masuk. Seolah sadar, dia buru-buru mengejar hingga langkah mereka sejajar. “Nanti makan siang bareng yuk!” Jasmine menoleh sekilas lantas menjawab. “Gue nanti makan siang sama Varlo. Kalau lo mau ikut nggak apa-apa.” Valan menghentikan langkah. Dia kecewa mendengar jawaban Jasmine yang menolak ajakan makan siangnya dan lebih memilih makan siang dengan Varlo. Jasmine yang merasa tidak ada suara langkah kaki di belakangnya seketika menghentikan langkah. Dia menoleh dan melihat Valan yang berdiri mematung itu. Jasmine mendesah, dia merasa Valan aneh sejak melihat dirinya berciuman dengan Varlo tempo hari. “Lan! Lo jadi patung atau gimana sih!!!” Valan yang tersadar buru-buru bergerak. Dia melangkah mendekati Jasmine dengan senyum segarisnya. “Siapa juga yang jadi patung,” jawabnya sesampainya di sebelah Jasmine. Jasmine tidak melanjutkan obrolan itu, dia melanjutkan langkah menuju lift yang tinggal beberapa langkah di depannya. “Lan! Lo bareng gue nggak! Kalau enggak gue tinggal!” Valan yang entah sejak kapan kembali terbengong seketika menatap Jasmine yang menatapnya kesal itu. Dia lalu berjalan ke arah lift tanpa semangat. Tring! Bunyi pintu lift tertutup. Jasmine menoleh ke Valan yang berdiri di belakang, tepat di ujung. “Gue ngerasa lo aneh,” ungkap Jasmine. Valan mengangkat wajah, menatap Jasmine yang bersandar di sebelah pintu lift dan menatapnya tajam itu. Dia mengalihkan tatapannya ke arah lain. Terlalu lama melihat Jasmine membuatnya ingat ketika wanita itu berciuman dengan kakaknya. “Lan! Lo denger gue ngomong nggak, sih?” tanya Jasmine mulai geram. “Denger. Siapa yang aneh, sih? Gue biasa aja.” Jasmine mengangguk, mungkin hanya perasaannya saja atau Valan yang tengah berbohong? Jasmine hendak membuka suara, tapi benda persegi panjang itu telah terbuka tanda mereka telah sampai di lantai tujuan. “Gue anggep gitu tapi kalau emang lo berubah, gue nggak bakal tinggal diam, Lan. Gue bakal ngubah Valan gue asyik kayak dulu,” ucap Jasmine lalu berjalan lebih dulu dan masuk ke ruangannya. Sedangkan Valan, berdiri mematung. Dia sedang mencerna ucapan Jasmine. Terlebih dalam kalimat 'Valan gue.' Apa Jasmine anggep gue miliknya? Valan menatap ke pintu ruangan Jasmine yang tertutup itu. Jika memang demikian, apakah tali sahabat akan putus dan digantikan sebuah ikatan cinta?   ***   Varlo mengetikkan sebuah pesan untuk Jasmine. Setelah terkirim, dia buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku. Hari ini Varlo terpaksa membatalkan makan siangnya dengan Jasmine. Bukan tanpa alasan Varlo melakukan itu. Dia baru saja mendapat kabar dari perusahaan tempat dia melamar kerja kalau hari ini ada sesi interview. Varlo mengantupkan kedua tangan di depan bibir. Dia sedang berdoa semoga perusahaan incarannya menerimanya sebagai arsitek. “Silakan masuk, Pak.” Varlo tersenyum ketika seorang wanita mempersilakan masuk ke ruangan. Dia lalu berjalan penuh percaya diri. Ingat, cara jalanpun akan dinilai saat sesi interview perusahaan besar. Sejam kemudian Varlo baru menyelesaikan sesi interview. Dia mendapat pertanyaan seputar kehidupan pribadi, pengalaman dan tentu saja wawasan dalam dunia arsitek. Dia yang sudah mempersiapkan itu jauh-jauh hari tidak kesulitan menjawab dari setiap pertanyaan. Sekarang dia tinggal menunggu hasilnya yang akan keluar tiga puluh menit lagi. Varlo duduk di ruang tunggu dengan gelisah. Kedua kakinya bergerak karena tidak sabar menanti hasil. Ketika sedang gugup, Varlo merasakan getaran di ponselnya. Dia merogoh sakunya lalu melihat notif pesan masuk yang dia tebak dari Jasmine. Varlo membuka pesan itu dan membaca satu kalimat yang tertera. Iya. Itulah balasan Jasmine. “Huh!!” Varlo mendesah, dia sudah menghubungi Jasmine dari tadi dan baru dibalas wanita itu sekarang, singkat pula. Dia hendak membalas pesan itu ketika mendengar pintu di depannya terbuka. Varlo mengurungkan niatannya lantas berjalan ke seorang wanita yang sedang menempelkan papan pengumuman itu. Beberapa pelamar berbondong-bondong mendekat untuk mengetahui hasilnya. Gerakan mata Varlo menyapu tulisan kecil dalam sebuah kertas A4 hingga tatapannya berhenti di namanya. Dia membaca keterangan dalam nama itu, “diterima.” “Terima kasih, Tuhan,” doanya. Varlo lalu membaca lembar sebelahnya, pengumuman kapan karyawan baru mulai bekerja. Dia terbelalak, tidak percaya kalau besok mulai bekerja. Dia belum berbelanja alat tulis dan keperluan lainnya. Varlo memang sengaja meninggalkan alat kerjanya. Pikirnya di Jakarta pasti dia bisa beli lagi, lalu sekarang dia butuh alat itu untuk besok. “Hai. Kenapa wajahmu terlihat bingung? Kamu nggak diterima?” Arah pandang Varlo tertuju ke wanita yang kira-kira seusia Jasmine berdiri di depannya itu. Dia lalu tersenyum tipis. “Gue diterima.” “Terus kenapa keliatan bingung?” “Gue belum beli peralatan.” “Lo arsitek?” Varlo mengangguk, tidak ingin tahu lebih bagaimana wanita di depannyaitu tahu kalau dia adalah arsitek. “Gimana kalau kita belanja bareng? Gue juga arsitek tapi alat-alat gue udah nggak enak dipakai.” Sudut bibir Varlo tertarik ke atas. Di hari dirinya diterima kerja dia sudah mendapat teman yang seprofesi. “Oke. Kita berangkat sekarang,” ajak Varlo tak sabar.   ***   “Pesan gue di read doang!!” Valan menatap Jasmine yang duduk di depannya sambil mengotak-atik ponsel itu. Dia tidak perlu susah-susah bertanya siapa yang membuat Jasmine seperti itu, pastilah Varlo. Valan bisa menebak seperti itu karena sekarang Jasmine makan siang dengannya, bukan dengan Varlo. Dia tadi cukup kaget ketika waktu istirahat Jasmine masuk ke ruangan dan mengajaknya makan siang dengan muka bete. “Lagi sibuk kali,” jawab Valan asal. Jasmine menatap Valan dengan pandangan menyelidik. “Varlo lagi sibuk apa memang?” Valan tersenyum kecut, benar dugaannya kalau Jasmine sebal ke Varlo. Dia menyandarkan tubuh di sandaran kursi lalu menggeleng tanpa menatap ke arah lawan bicaranya. “Terus kenapa tadi lo bilang sibuk?” tanya Jasmine yang bertambah kesal. “Gue asal jawab doang tadi.” Jasmine menyandarkan tubuh seperti Valan. Dia menatap sahabatnya yang juga menatapnya itu. Untuk beberapa detik tatapan mereka bertemu setelahnya Jasmine yang lebih dulu memutuskan kontak mata itu. “Lo serius sama kakak gue?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Valan. Selama mengenal Jasmine, wanita itu tidak pernah sesebal ini ketika ada orang yang tidak membalas pesannya. Dulu malah Jasmine yang sering tidak membalas pesan, sekarang semua telah berbeda. Valan merasa Jasmine sudah jatuh ke dalam pesona kakaknya. “Gimana maksud lo? Gue nggak ada hubungan sama abang lo.” Jasmine menunduk, pura-pura mengamati kukunya yang pendek yang tidak pernah dia panjangkan itu. Dia sebenarnya hanya mencari kesibukan, enggan dicecar Valan oleh pertanyaan seperti tadi. Melihat Jasmine yang tidak menatapnya membuat Valan kesal. Dia memajukan tubuh lalu memiringkan kepala. Dia melihat sudut bibir Jasmine membentuk sebuah senyuman. “Jas, gue udah peringatin lo. Jangan deket-deket kakak gue kalau lo nggak mau sakit hati. Lo tahu sendiri gimana kelakuan kakak gue. Gue cuma nggak mau lo sakit hati.” Jasmine mengangkat wajah. Dia bisa melihat sorot lembut dari mata sahabatnya itu. “Gue tahu kakak lo kayak gimana. Gue udah coba buat ngejauh. Tapi seberapa keras usaha gue sekeras itulah Varlo deketin gue.” “Terus lo nyerah dan milih deket sama kakak gue?” Jasmine terdiam. Apa dia sudah menyerah dan memilih dekat dengan Varlo? Jasmine menggeleng tidak tahu pasti apa yang tengah dia lakukan. “Enggak. Gue ngikutin alur yang ada.” Valan mengusap wajah. Kalau Jasmine seperti ini tidak menutup kemungkinan bisa jatuh hati ke Varlo. Rasanya hati Valan tidak sanggup menerima semua itu jika memang benar itu terjadi. “Lo nggak perlu takut yang berlebihan, Lan. Gue pasti bisa jaga diri,” ucap Jasmine menenangkan Valan. “Semoga.” Makanan yang mereka pesan datang. Mereka lebih memilih menyibukkan diri dengan makanan tanpa melanjutkan atau membuka obrolan. “Eh itu bukannya Kak Varlo, ya?” Valan memicingkan mata melihat punggung seseorang yang dia kenal. Tadi dia sedang meminum air jeruk, tidak sengaja menatap ke sosok lelaki yang dia kenal utu. Jasmine yang mendengar nama Varlo disebut seketika mengalihkan pandang ke arah pandang Valan. Mata Jasmine memicing melihat apa yang ada tidak jauh di depannya. Varlo sedang duduk dengan seorang wanita. “Oh jadi ini yang disebut ada urusan!” gerutu Jasmine. Valan mengalihkan pandang dan melihat raut kemarahan di wajah wanita berbaju batik itu.   ***   Varlo baru saja selesai berbelanja dengan Raisha. Ternyata Raisha baru pertama bekerja setelah sekian lama lulus dari jurusan arsitek. Varlo yang baru beberapa jam mengenal merasa nyaman berteman dengan wanita berambut pendek itu. “Jadi kenapa lo baru kerja sekarang?” tanya Varlo setelah mereka duduk berhadapan. “Ngurus anak dulu, lah.” “Jadi lo udah nikah?” Raisha mengangguk mantap. Tidak asing baginya jika ada yang kaget dengan statusnya. “Iya gue nikah waktu umur dua puluh tahun. Sekarang gue udah punya dua anak. Satu cewek satu cowok,” jawabnya bangga. “Terus apa yang bikin lo milih kerja?” tanya Varlo penasaran. Dia melihat Raisha yang menatap dengan pandangan menerawang. “Pengen ngerasain gimana cari duit sendiri. Kebetulan suami ngizinin asal gue nggak lupa sama tugas gue sebagai seorang istri,” jawab Raisha dengan senyuman setelah mengakhiri kalimatnya. Varlo melihat bagaimana Raisha bahagia dari cara wanita itu bercerita. “Kalau gue udah jadi suami, gue nggak bakal izinin istri gue kerja.” “Kenapa gitu?” “Nggak tega aja ngeliat dia kerja terus pulangnya ngurus anak sama suami. Lebih baik gue yang capek kerja. Istri gue jangan,” ucap Varlo sambil terkekeh. “Lelaki emang beda gimana merlakuin istri tapi satu yang pasti, mereka ngelakuin itu karena cinta. Btw lo udah ada pasangan? Dari cerita lo kayaknya lo belum nikah,” tanya Raisha sambil memperhatikan Varlo. Varlo mengangkat bahu tak mau mengklaim Jasmine sebagai calonnya meski dia telah mengklaim wanita sebagai pacarnya. Dia tidak tahu sampai kapan hubungannya dengan Jasmine seperti ini. Ah terlalu jauh sepertinya membicarakan hubungannya, Jasmine saja masih ogah-ogahan dekat dengannya. “Jadi ini yang namanya ada urusan?” Varlo dan Raisha tersentak. Mereka mendongak menatap seorang wanita yang berdiri di sebelah meja mereka. Tak lama seorang lelaki mendekat dan berdiri di belakang wanita itu. Varlo yang sadar dengan kehadiran Jasmine seketika berdiri. Dia menatap Jasmine dan Valan bergantian. “Kalian kenapa ada di sini?” Jasmine memutar bola matanya malas. Dia sudah menebak kalau Varlo akan kebingungan dengan kehadirannya. “Kenapa? Kaget gue dateng? Ini tempat umum kali!!” jawabnya ketus. Varlo yang melihat raut kemarahan Jasmine menarik tangan wanita dan membimbing agar duduk di sebelahnya. “Sayang, kenapa marah-marah?” tanyanya sambil mengusap punggung tangan Jasmine dengan ibu jari. “Siapa yang marah? Gue cuma kesel aja lo bohong. Bilangnya ada urusan eh makan berdua sama cewek,” ucap Jasmine sambil melirik wanita yang duduk di depannya itu. Raisha yang merasa ada kesalahpahaman turun tangan. “Kayaknya ini salah paham. Gue sama Varlo baru aja belanja peralatan. Kami baru diterima kerja.” Ucapan Rasiha membuat Jasmine menoleh ke Varlo. Dia melihat Varlo mengangguk menyetujui ucapan Raisha. “Kenapa lo nggak ngomong? Chat cuma di-read doang.” Varlo menepuk kening dengan tangannya yang bebas. Dia lalu merogoh ponsel membuka pesan dari Jasmine yang belum sempat dia balas. “Maaf. Tadi mau bales, tapi keburu ada pengumuman.” Jasmine menatap Varlo dengan pandangan menyelidik. Berusaha mencari tahu apakah lelaki di depannya itu tengah berbohong atau tidak tapi nyatanya lelaki di depannya terlihat begitu yakin dan tidak ada tanda-tanda berbohong. “Oh,” responsnya. Sudut bibir Varlo tertarik ke atas. Dia tidak menyangka Jasmine akan semarah ini. Marah atau cemburu? batinnya. Dia mendekat lalu mencium pipi Jasmine gemas. “Gemesin banget kalau lagi marah-marah kayak gini,” ucap Varlo sambil terkekeh geli. Jasmine hanya mampu menunduk malu. Bagaimana bisa dia tadi marah-marah di depan Varlo dan teman lelaki itu? Seperti sedang melabrak pacar playboy-nya yang selingkuh saja. Jasmine menggeleng, nyatanya Varlo memang playboy, tapi saat ini tidak berselingkuh. “Maaf ya aku udah bikin kamu marah,” kata Varlo sambil menarik Jasmine ke dalam pelukannya. Mereka melupakan seseorang yang masih berdiri mematung, menatap kemesraan yang terjadi dengan pandangan terluka. Sahabat yang diam-diam mencintai Jasmine, lagi. Valan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN