Bibir ini selalu berkata tidak. Tapi hati selalu tidak bisa menolak.
***
Jumat sore di mana hari yang ditunggu karyawan karena esok hari libur. Banyak yang melakukan hal seru atau merencanakan liburan untuk esok hari di hari Sabtu. Namun itu tidak berlaku bagi Jasmine. Jumat sore dia hanya duduk di ruang tengah sambil menonton tv.
Biasanya Jumat sore seperti ini Jasmine manfaatkan dengan wisata kuliner atau sekadar jalan dengan Valan. Kali ini mereka tidak melakukan kegiatan itu karena Valan pergi ke Batu untuk mengunjungi kedua orangtuanya.
Kedua orangtua Jasmine sedang ada di Medan sampai Rabu depan. Dia yang anak tunggal dan tidak begitu dekat dengan sepupu lainnya membuatnya sendirian di rumah kalau orangtuanya sedang pergi, seperti sekarang ini.
Jasmine menyandarkan tubuh di sofa menatap langit-langit ruang tengahnya hingga ingat dengan lelaki yang mulai jarang menampakkan diri. Varlo, sejak lelaki itu bekerja jarang mengunjungi, jarang menelepon, bahkan lelaki itu seperti ditelan bumi hilang begitu saja.
Kedua tangan Jasmine mengusap wajah. Kenapa dia jadi kepikiran Varlo yang mulai menjauh? Harusnya dia senang karena tidak ada yang mengganggu. Namun, hatinya berkata lain. Tanpa sadar dia mulai terbiasa dengan tingkah aneh Varlo yang selalu mendekatinya itu.
Drtt!!
Bunyi ponsel bergetar membuat Jasmine tersentak. Dia menegakkan tubuh lalu mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja. Lelaki Gila.
“Halo.”
“Halo, Sayang, kamu lagi di mana?”
Jasmine menunduk mendengar Varlo memanggilnya seperti biasanya. Hal itu membuat efek yang besar bagi Jasmine. Dia jadi senyum-senyum tak jelas.
“Halo, Jasmine, kamu denger suaraku?!”
Nada cukup tinggi dari Varlo membuat Jasmine tersentak. Dia menggeleng mengenyahkan perasaan aneh yang hinggap di hatinya. “Nggak usah teriak, kali! Gue nggak budek!”
“Aku kira kamu nggak denger. Kamu lagi di mana?”
“Di rumah.”
“Ya sudah aku ke tempatmu, ya. Tunggu aku.”
Jasmine membuka mulut hendak menjawab ucapan Varlo. Namun, bunyi tut tut tut dari ponselnya membuat Jasmine menggeram tertahan.
“Ck! Gue belum ngiyain atau apa udah lo matiin aja!” gerutunya.
Jasmine melempar ponsel ke sisi sofa sebelah. Sudut bibirnya tertarik ke atas mengingat Varlo akan ke sini. Yah, setidaknya dia tidak menghabiskan sore ini sendirian.
***
Varlo turun dari motor, menyerahkan helm ke pengendara motor itu lalu menatap rumah di depannya.
Tadi saat menelepon Jasmine, Varlo baru keluar dari kantor. Dia rindu dengan Jasmine hingga memutuskan untuk menghubungi. Varlo sadar, sejak mulai bekerja dia jarang berdekatan dengan pacar sepihaknya itu.
Sesampainya di depan pintu Varlo menekan bel. Dia menunggu dengan satu kaki bergerak-gerak, tidak sabar menanti wajah cantik Jasmine.
Di dalam, Jasmine mendengar bel berbunyi. Dia berjalan ke depan lalu membuka pintu. Di depannya terlihat Varlo yang mengenakan kemeja tosca dengan celana hitam. Perhatian Jasmine lalu tertuju ke rambut Varlo yang berantakan itu.
Merasa sedang diperhatikan Varlo menyentuh rambut lalu merapikan dengan tangan. “Berantakan, ya? Kena helm tadi.”
Jasmine mengernyit. Arah pandangnya lalu tertuju ke halaman rumahnya yang kosong, tidal ada mobil terparkir. “Lah, mobil lo ke mana?”
“Dipersilahkan masuk dulu dong, Sayang.”
Bibir Jasmine mencibir mendengar protes itu. Dia membuka pintu lebih lebar lalu memiringkan tubuh, agar tamu terhormat itu masuk lebih dulu.
Varlo melangkah masuk lalu duduk di sofa panjang. Dia mendongak menatap Jasmine yang masih berdiri di pintu itu. “Sini dong.”
“Gue ngerasa kalau lo tuan rumahnya.”
Jasmine memilih duduk di sofa single di depan Varlo. “Mobil lo ke mana?” ulangnya.
“Mobil dari bokap itu sebenernya. Gue mah nggak punya mobil.”
“Sama aja, kali. Kan, bokap lo beliin buat lo.”
Varlo menegakkan tubuh, menatap Jasmine sambil menggeleng itu. “Beda, Sayang. Aku udah kerja. Aku punya prinsip kalau udah kerja bakal ngurangi pemakaian fasilitas dari bokap nyokap.”
Jasmine tertegun tidak percaya Varlo memiliki prinsip seperti itu. Dia mengira Varlo lelaki hedon yang selalu memuja kemewahan.
“Rumah sepi banget. Kamu sendirian?” tanya Varlo kala tidak mendengar suara apapun dari dalam. Dia lalu menatap Jasmine yang menatapnya dengan terbengong itu. Doa bangkit dari posisinya sedikit membungkuk dengan tangan menyentuh pipi Jasmine. “Jasmine. Kenapa bengong?”
Jasmine tersentak merasakan kulit dingin itu mengenai pipinya. Dia mendongak dan menemukan wajah Varlo tidak jauh dari wajahnya. Tangan Jasmine terangkat, menjauhkan tangan Varlo dari pipinya.
“Gue heran aja lelaki kayak lo punya pikiran kayak gitu,” ucap Jasmine yang sebenarnya tidak nyambung dengan pertanyaan Varlo tadi.
Varlo kembali duduk lalu terkekeh kecil. “Emang aku kayak gimana? Kok sampai nggak percaya?” tanyanya yang mengerti arah pembicaraan Jasmine.
“Gue kira lo suka hambur-hamburin duit buat seneng-seneng dan main wanita,” jawab Jasmine mengungkapkan apa yang ada dibenaknya.
“Enggaklah. Nggak gitu banget kok. Kalau aku hambur-hamburin duit itu juga duitku sendiri bukan duit minta orangtua.”
Varlo tersenyum manis tidak mengira saja Jasmine sampai memikirkan ucapan tentang prinsip hidupnya tadi. “Kamu di rumah sendirian?”
Jasmine mengangguk, kembali ingat akan nasibnya yang kesepian.
“Nggak keluar sama temen-temenmu?”
“Nggak. Temen baik gue cuma Valan.”
Mendengar jawaban Jasmine ada perasaan tidak suka melingkupi hati Varlo. Dia iri dengan Valan yang menduduki posisi penting dalam hidup Jasmine. Varlo menggeleng, dia tidak mau kepikiran hal itu. “Mau ikut aku aja? Nanti subuh aku sama temen kantor berangkat ke puncak.”
Seperti mendapat cahaya yang begitu cerah, seperti itulah sudut bibir Jasmine tertarik ke atas. Namun, senyum itu hanya berlangsung beberapa detik. Dia tidak ingin lelaki di depannya itu besar kepala karena nyatanya dia sangat senang dengan ajakan lelaki itu.
“Ke mana? Naik apa?” tanya Jasmine pura-pura cuek.
“Ke puncak, Sayang. Kan tadi aku udah bilang,” jawab Varlo gemas. “Nebeng sama temenku,” lanjutnya menjawab pertanyaan kedua Jasmine.
“Ogah ah kalau nebeng. Kalau pakai mobil gue, gue mau,” jawab Jasmine dengan senyumannya.
Varlo menggaruk tengkuk yang tak gatal, menimbang-nimbang menyetujui ucapan Jasmine atau tidak. Di sisi lain dia ingin mengajak Jasmine karena temannya rata-rata mengajak pasangan. Namun, kalau memakai mobil Jasmine dia seperti lelaki tidak bermodal saja.
“Nggak usah mikir aneh-aneh. Pokoknya pakai mobil gue. Gue baru mau ikut!” ucap Jasmine seolah tahu apa yang menjadi perdebatan dalam benak Varlo.
“Iya, deh, iya. Habis subuh aku ke sini.”
Jasmine tersenyum puas. Dia mengangguk antusias sebagai jawaban untuk Varlo.
***
Jasmine menggerakkan kaki dengan bosan. Sekarang dia sedang di rest area SPBU menunggu salah satu teman Varlo yang katanya mual itu. Dia tidak tahu pasti, karena dia tidak satu mobil dengan teman Varlo itu.
“Sabar ya, Jas.”
Jasmine menoleh ke wanita yang duduk di sebelahnya sambil memangku seorang anak kecil itu. Dia tersenyum tak enak ke Raisha. Tanpa sadar dia tadi menunjukkan kebosanannya, padahal teman Varlo sedang mengalami kesusahan. “Maaf, ya. Gue orangnya emang nggak sabaran.”
“Gue sebenarnya juga gitu, tapi tunggu bentarlah. Kasihan Fena lagi mual-mual.”
Jasmine manggut-manggut. Jadi yang mual itu Fena, batinnya. Dia lalu mengalihkan pandang, melihat Varlo yang terlihat sedang bercanda itu.
“Eh itu Fena udah keluar.”
Mendengar nama Fena disebut Jasmine menoleh ke Raisha. Dia mengalihkan tatapannya ke arah pandang Raisha hingga melihat tiga orang wanita keluar dari toilet. Arah pandang Jasmine tertuju ke wanita yang dirangkul oleh dua temannya yang dia tebak Fena itu.
“Pantes mual. Dia cuma pakai celana pendek sama tank top doang. Udah tahu ke Puncak pakai baju kayak gitu,” gerutu Jasmine tanpa sadar.
“Gue tadi juga mikir gitu sih, Jas. Udah yuk, kayaknya udah mau berangkat.”
Jasmine melirik sekilas ke Raisha lalu berdiri berjalan mendekati Fena. Dia berdiri di belakang Varlo dan mendengar ucapan Fena.
“Gue masih mual banget, Varlo,” ucap Fena yang terdengar manja.
“Makanya pakai baju anget. Pakai jaket,” jawab Varlo.
Jasmine mendengus mendengar jawaban penuh perhatian dari Varlo itu. Dia lalu menarik ujung jaket Varlo hingga lelaki itu menoleh. “Ayo masuk mobil,” ajaknya.
Varlo mengangguk lalu berbalik untuk pamit ke teman-temannya. “Ini tetep lanjut, kan? Kalau gitu gue ke mobil dulu. Parkir di ujung gue.”
“Iya lo duluan aja. Ada yang mulai jalan kok.”
Varlo menarik pundak Jasmine dan melingkarkan tangan. Dia lalu melihat Jasmine yang menguap itu. “Ngantuk, ya? Bentar lagi dilanjut aja.”
Jasmine mengangguk. Sebelum berhenti di rest area dia sedang tidur tapi mendengar pintu mobil dibuka membuatnya terbangun. Varlo sebenarnya meminta agar tetap di mobil, tapi Jasmine enggan di mobil sendirian.
“Ke Puncak pakai baju kurang bahan gitu. Mual, kan, jadinya,” gerutu Jasmine sambil memasang sabuk pengaman.
Varlo yang duduk di balik kemudi hanya terkekeh mendengar gerutuan itu. “Nunggu anak-anak dulu, ya. Lihat tuh, mereka belum pada masuk.”
Jasmine mengalihkan pandang ke jendela pintu. Dia melihat Fena and the geng yang masih berdiri itu. Diam-diam Jasmine melihat Fena yang membungkuk dan memegangi perut itu. Entah kenapa dia yakin kalau Fena hanya mencari perhatian.
“Gue tidur, ya. Kalau udah sampai bangunin,” ucap Jasmine bosan melihat Fena dari kejauhan.
Varlo melihat Jasmine yang mulai meringkuk iti. Dia mendekat ke kursi penumpang dan menarik kursi itu agar sandarannya tidak begitu tegak.
“Begini lebih nyaman, Sayang,” ucapnya yang melihat Jasmine melotot ke arahnya itu.
Jasmine diam tidak membalas lalu berbaring meringkuk. Dia menggosok kedua tangan lantas mulai memejamkan mata.
Perhatian Varlo masih tertuju ke Jasmine. Dia melihat wanita itu yang kedinginan. Varlo memutar tubuh mengambil tas ransel yang dia letakkan di bangku belakang. Lalu mengambil selimut kecil yang sengaja dia bawa dari rumah.
Varlo mulai melingkarkan selimut itu ke tubuh Jasmine. d**a pria itu sesak oleh sebuah rasa yang belum dia ketahui namanya. Varlo lalu menunduk, mencium kening Jasmine lembut.
Jasmine yang sebenarnya belum terlelap merasakan bibir hangat Varlo di keningnya. Dia juga merasakan sesuatu aneh yang menghimpit dadanya.
***
Kedua tangan itu masih saling bertautan. Si pemilik tangan seolah enggan melepaskan genggaman tangan yang nyatanya begitu nyaman itu.
Jasmine tersipu. Sejak turun dari mobil hingga sampai villa, dia dan Varlo bergandengan tangan. Awalnya Jasmine menolak, tapi lelaki itu hanya diam dan mengeratkan gengaman itu.
“Cowok-cowok tidurnya di lantai bawah. Nah, cewek-cewek di atas. Yang belum sah jadi suami istri nggak usah aneh-aneh minta sekamar.”
Jasmine mendengarkan ucapan Raisha yang berdiri di dua anak tangga itu. Fokus Jasmine lalu tertuju ke Varlo yang berdiri di sebelahnya. Saat menatap Varlo, dari ekor matanya ada beberapa orang yang menatapnya tajam. Jasmine menoleh dan melihat Fena and the geng menatapnya. Jasmine mendengus, yakin kalau tiga wanita itu menyukai Varlo. Dengan sengaja dia menyandarkan kepala di lengan Varlo.
Varlo yang serius mendengarkan Raisha membacakan jadwal kegiatan, seketika menoleh saat merasakan lengannya terbebani. Dia tersenyum melihat Jasmine yang menyandarkan kepala di lengannya itu. Karena gemas Varlo mendekat dan mencium puncak kepala Jasmine. “Bentar lagi istirahat lagi aja,” bisiknya.
“Hem.” Jasmine mengangkat tangan yang masih dalam genggaman tangan Varlo. “Lepas. Gue mau ke kamar.”
“Ngapain sih dilepas nyaman kayak gini juga.”
“Tapi kan gue mau ke kamar,” ucap Jasmine sambil celingukan melihat teman-teman Varlo yang mulai membubarkan diri itu.
“Ya udah yuk aku anter,” ucap Varlo lalu berjalan lebih dulu di depan Jasmine.
Jasmine menatap tangannya yang digenggam Varlo. Bibirnya boleh berkata lepas tapi hati dan rasa nyaman yang mendominasi tidak bisa membohongi.