Aku merasa diacuhkan saat Papa dan Gara sedang berbincang seperti saat ini. Mereka berdua mengobrol hal yang tidak kumengerti. Mungkin jika dibandingkan denganku, Gara lebih mengerti Papa karena mereka berdua menghabiskan waktu lebih banyak. "Aruna," panggil Papa tiba-tiba. Dia memintaku mendekat. "Apa Papa haus?" tanyaku karena mengira jika Papa haus setelah banyak berbicara dengan Gara. "Nggak, Papa hanya memintamu agar duduk bersama Gara di sini," sahutnya. "Aruna sangat mirip dengan Mamanya. Mungkin hanya sifatnya saja yang mirip dengan Om," ujar Papa. Dia menyentuh rambutku perlahan. "Sifat yang mana, Om? Apa Om juga keras kepala seperti Aruna?" tanya Gara sambil mengerling ke arahku. Aku tersenyum masam karena tahu Gara sedang menggodaku. "Tepat sekali, kami berdua memang sanga

