Aku menunduk dalam-dalam saat tanpa sengaja mataku bertatapan dengan lelaki itu. Mendadak jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya dan telapak tanganku terasa berkeringat dingin. Ingatan masa kecilku tidak mungkin salah. Aku nggak mungkin lupa dengan sosok lelaki yang selama masa kecilku kuanggap begitu sempurna. Walaupun kerutan-kerutan di keningnya membuatnya terlihat tua, tapi tidak semudah itu aku melupakannya. Aku masih ingat lelaki inilah yang dulu sering memelukku, membawakan mainan dan makanan kesukaanku, dan menjanjikan hal-hal menyenangkan untukku. Nggak salah lagi. Lelaki yang sedang berbicara dengan Gara adalah sosok yang dulu pernah kupanggil dengan sebutan papa, sosok yang sama yang kutemui tadi pagi di makam mama. Dadaku terasa nyeri saat mengucapkan sebutan untuknya

