Pukul sepuluh malam Kinan terbangun dari tidurnya, padahal baru sekitar satu jam lalu kedua matanya bisa terpejam. Kinan beringsut duduk, menata bantal pada sandaran kepala tempat tidur dan menempatkan punggungnya di sana. Akhir-akhir ini punggungnya terasa pegal-pegal. Kinan tidak kaget, ibu mertuanya sudah pernah bilang tentang hal ini sebelumnya. "Yang sehat ya, Dek." Di tengah keheningan malam, Kinan mengusap-usap perutnya sendiri. Sebentar lagi anaknya akan lahir ke dunia. Sebentar lagi akan ada malaikat kecil di sampingnya. Tiba-tiba air mata Kinan menetes, ingat saat ia mengetahui jika dirinya hamil karena perbuatan Arya. Perempuan itu ingat saat-saat keadaannya begitu kacau. Ia juga sangat ingat saat dalam dirinya ada niatan akan meniadakan bayinya yang tak berdosa. Kinan menyesa

