Bab 94

1705 Kata

Aku memapah Ayu, meski ia bilang ia bisa jalan sendiri, tapi aku tetap saja was-was. Aku merangkul pundaknya dan memastikan tubuhnya tak terhuyung-huyung saat berjalan. “Oppa, malu diperhatiin orang-orang tahu,” komentarnya. Aku sadar, Ayu pasti risi aku peluk seperti ini sambil berjalan. Padahal niatku murni hanya membantunya dan memastikan dia tidak terjatuh. “Biarin aja, mereka mungkin iri sama kelakuan pengantin baru,” jawabku dingin. “Pengantin baru? Udah mau empat bulan masih pengantin baru ya?” balas Ayu. “Mau 10 bulan, 10 tahum kek, aku anggap aja kita masih pengantin baru,” jawabku lagi. “Terserah,” ucapnya. Aku hanya tersenyum. Setelah sampai di depan ruang pemeriksaan dokter, Satya mendaftarkan namaku. Untungnya antrean dokter tidak terlalu panjang. Hanya menunggu satu or

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN