Bab 74

1593 Kata

Aku kaget. Raut wajahku mendadak menjadi tegang. Aku melirik jam dinding masih pukul dua siang, tidak mungkin itu Satya. Apa lagi Satya berpesan kemungkinan ia akan pulang telat, karena hari ini ada kegiatan latihan tempur. “Ay, nanti pintu jangan lupa langsung kunci-kunci aja. Aku ini bawa kunci sendiri, kamu kalau udah malam, ngantuk, langsung tidur aja, jangan tunggu aku, takutnya aku pulang telat,” itu pesan Satya sebelum pergi ke Batalyon. Suara pintu di ketuk semakin keras dan konsisten. Aku bergeser ke ruang tamu sambil mengendap-endap. Dari balik tirai, aku bisa melihat siluet seseorang di balik pintu. Aku menutup mulutku, takut. Aku buru-buru berlari ke kamar, hendak mengambil handphone. Apa lagi kalau bukan menghubungi suamiku. Meskipun aku tahu dia pasti sedang bertugas. Tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN