Bab 75

1699 Kata

Hampir saja aku teriak sekencang-kencangnya untuk memancing perhatian warga sekitar. Tiba-tiba suara Satya seperti terdengar mengisi kepalaku. “Ay, kenapa lampu depan gak dinyalain?” tanyanya. Aku masih terdiam. Merasakan apakah itu benar-benar suaranya, atau mungkin aku salah dengar. “Ayu?” ucapnya lagi. Aku memicingkan mata, dan mengamati dengan saksama orang di depanku. Lantas aku berlari ke dalam, ke arah sebuah saklar listrik, dan menekan tombol yang menghubungkan aliran listrik ke lampu teras. Benar saja, ada suamiku di sana. Sedang berdiri dengan wajah bingung menatapku. “Satya!” aku berlari ke arahnya dengan haru lalu memeluknya erat. Setelah itu aku menangis sejadi-jadinya. “Kamu kenapa, Ay? Kamu kangen sama aku sampai segitunya?” tanya Satya bingung dengan raut wajah yang s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN