“Sekitar jam tujuh, Bu. Jam delapan kami harus sudah berangkat dari pelabuhan, apel dan pelepasan langsung di sana,” jawab Satya. “Oh, boleh mengantar?” sela besan. Aku jadi teringat ceritanya saat kami dalam penerbangan Jakarta-Manado tadi. Katanya, dulu besan pernah punya pengalaman dilarang untuk ikut mengantar pelepasan menantuku saat masih zaman saringan Taruna. “Gak boleh!” Jawab Satya. Aku kaget. “Boleh lah, Mak! Masa gak boleh,” lanjutnya. Aku membuang nafas lega. Aku kira menantuku yang tentara ini tidak pandai bercanda. Aku salah, Satya yang aku kenal sudah sejak ia masih sama-sama sekolah bersama Ayu, ternyata tidak banyak berubah untuk beberapa hal, anaknya sangat hangat. Yang berubah hanya penampilannya saja, yang dulu rambutnya berponi sekarang model cepak. Selebihn

