“Pepatah bilang, lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali,” jawab Tias. “Basi!” kataku. Kemudian menyerahkan ponselku pada Tias, di mana nomor kontak Satya sudah aku buka, agar ia mudah menyalinnya. Aku bisa melihat Tias mulai menuliskan nomornya di hamdphone. “Ya udah, kita tidur aja yuk!” Sambungku. Kemudian mematikan laptop. Lalu naik ke atas kasur dan tidur di samping Tias. Aku berbalik ke arah tembok, karena malas mengobrol dengan Tias. Bukan apa-apa, jika kami mengobrol, bisa sampai pagi. Dan besok di kelas kami pasti akan mengantuk, besok jadwal mata kuliah dosen killer pula. Mataku mulai terpejam dan lama-lama aku pun tertidur. *** -TIAS- “Ayo, Yu, buruan!” seruku sambil mengambil tas kuliahku yang tergeletak di atas meja. “Oke, sebentar aku simpan piring-piringnya k

