-ERFAN- Aku memperhatikan kedua perempuan ini berjalan ke arahku dengan tampang sangar. Ini kali pertama aku melihat mereka begitu. Biasanya mereka terlihat sangat manis dan mempesona, terutama Ayu. Tapi tidak hari ini. “Heh, kalau berani jangan cuma sembunyi di balik helm! Buka helm lu!” teriak Tias mirip preman terminal. Kurasa ia mencoba menggertakku. Tapi bukannya takut aku malah ingin tertawa. Sesuai permintaannya, aku pun membuka helm yang menutupi kepalaku. “Ada masalah apa ya, Kak?” ucapku dengan polos. Bercanda. “Erfan?!” teriak mereka berbarengan. Sudah seperti kelompok paduan suara. “Selamat pagi semuanya! Semoga harimu menyenangkan. Ada yang bisa dibantu?” ucapku persis seperti kata-kata yang biasa diucapkan petugas minimarket saat pertama kalinya pengunjung datang. “Er

