“Oh gitu, maaf ya, Kak, kalau gitu. Tapi Kak Erfannya gak ikut, Kak?” pegawai toko bertanya. Semakin ngaco. “Mbak, maaf bisa tolong langsung ambil barangnya aja? Soalnya saya ada janji sama penjahit juga, sekarang lagi ditungguin!” ucapku dengan tegas, entah kesal. Aku melirik jam tangan, sebuah kode keras supaya pegawai itu segera mengurus pesananku, alih-alih banyak tanya. “Oh... baik, Kak. Sebentar... ditunggu ya, Kak!” jawabnya dengan gugup. Lalu bergegas pergi ke gudang untuk mengambil souvenir pesananku. Tiba-tiba saja aku menjadi sebal dengan kondisi begini. Kenapa harus mengungkit-ungkit nama Erfan di saat seperti ini. Di tambah Satya tidak datang. Lengkap sudah sebuah pernikahan yang jauh dari kata pernikahan impian. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya, tapi malu. Tak la

