Aku sudah sampai di depan pintu rumah Tias, kulirik jam masih pukul 2 siang. Tapi rumah begitu tampak sepi. “Hmm... apa mereka lagi tidur siang ya?” Aku bergumam. Sebelum mengetuk pintu, aku menoleh dulu ke arah kaca. Tapi aku tidak bisa melihat dengan jelas ke dalam karena kaca terhalang oleh tirai tipis, hanya bangku-bangku ruang tamu saja yang dapat kulihat, itu pun samar. “Permisi!” aku mengetuk pintu. Sudah beberapa kali aku mengetuk pintu belum saja ada jawaban. Aku merogoh ponselku dari dalam tas, kalau tidak salah aku masih menyimpan nomor kontak Tias. Namun belum sempat aku mencari nomornya. Pintu rumah pelan-pelan terbuka. “Maaf, cari siapa ya, Mbak?” seseorang bertanya. Aku dapat melihat seorang perempuan hampir sebaya denganku keluar dari ruang tamu. Aku memang belum per

