“Fan, gue nih, maaf kalo ganggu waktu istirahat lu,” “Santai aja, Bang. Ini gue baru beres meeting. Ada apaan, Bang? Kantor aman?” tanyaku. Yang menghubungiku adalah Bang Abi. Semenjak aku memutuskan memantau kantor dari jarak jauh. Aku memercayakan segala urusan operasional harian pada Bang Abi sebagai COO. Meski cara memimpinnya lebih emosional dibanding aku—karena seperti itulah wataknya, tapi Bang Abi memiliki beberapa kelebihan dibanding caraku memimpin. Dia tidak pernah mengenal kata “gak tega”. Jadi kadang malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Tak banyak yang suka dengan gaya kepemimpinan Bang Abi. Tapi aku adalah salah satu yang justru mengagumi cara Bang Abi. Gara-gara dia, aku bisa mencapai titik ini. “Secara keseluruhan aman sih, tapi ada sedikit kendala,” jawab Ba

