-AYU- Aku sangat senang mendengar kabar, bahwa kakak iparku akhirnya akan melepas masa lajang. Sebetulnya aku sedikit tak enak, saat Satya terpaksa harus “melangkahinya”. Meski ia ikhlas, karena jodoh bukan bergantung dari umur, tapi dari takdir. Aku melirik ke arah Satya yang sejak tadi duduk di sebelahku. Ia terlihat sibuk membalas pesan pada kakaknya. Melihat wajahnya, aku jadi teringat saat-saat Satya menyatakan niatnya untuk menikah. Aku jadi penasaran bagaimana calon suami Kak Kirana melamarnya, pasti jauh lebih romantis dari yang dilakukan adiknya saat melamarku. Terbayang suasana makan malam dengan nyala lilin yang syahdu dan hangat, kemudian Sang Lelaki berlutut di hadapan Kak Kirana sambil menyodorkan cincin bermata berlian. Aduh, senangnya, mirip di film-film. Lamunanku buyar

