Bab 88

1518 Kata

-KIRAN- Aku menelan ludah, mendengar ucapan Abidzar. Aku tahu ia sedang dalam kondisi emosional, tapi tak seharusnya ia berkata semacam itu. Meski sangat ingin aku membalas, tapi aku tahan sebisa mungkin, karena pasti akan berujung tidak baik. Baik dalam hubungan kami maupun situasi panas saat ini. Abidzar, aku sudah sangat mengenalnya, ia termasuk tipikal orang yang sangat berapi-api dan mudah meledak-ledak. Meski semua itu ia lakukan karena ada alasannya. “Ya udah, sekarang gue harus apa? Gue kan gak bisa nentuin juga jodoh Si Satya siapa, Bi,” jawabku ketus. “Ya udah, lupain aja, anggap gue gak pernah ngomong kayak gitu,” respon Abidzar. Mungkin ia merasa sedikit tak enak padaku. Bagaimana pun juga Ayu menikah dengan Satya, yang sudah barang tentu adik kandungku. Setelah Abidzar cu

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN