“Waduh, salah ngomong terus kalau udah ngomong sama kamu, Sat!” Udin menyikut tanganku. “Bercanda, Din! Wajar kalau kamu bilang dia cantik, emang orang lain juga banyak yang bilang gitu. Nah, kalau kamu bilang saya cantik baru itu lebih bahaya,” komentarku. “Parah… parah banget, saya harus segera operasi mata kalau saya tiba-tiba melihat kamu kayak gitu,” balas Udin tertawa. “Oh ya, ngomong-ngomong, siapa tadi namanya?” tanya Udin. Padahal kalau tidak salah aku sudah pernah memberitahunya. “Ayu,” “Hmm… tapi ngomong-ngomong, ini hanya saran seorang sahabat pada sahabatnya, kamu harus pasang kuda-kuda, Sat. karena merunrut indra keenam saya, Ayu banyak yang ngincer, bener gak Di?” ucap Udin lagi sambil melirik ke arah Andi. “Hah? Kok jadi saya dibawa-bawa, Din?” jawab Andi tak terima.

