“Kamu gak apa-apa?” Aku bisa mendengar suara itu. Apakah barusan orang itu berbicara padaku? Aku berpikir dengan keras. Kini aku bukan hanya takut, tapi juga malu. Dari nada suaranya memang tidak terdengar mengancam apa lagi mengintimidasi, tapi aku tetap tahu diri. Aku yang salah. “Kamu gak apa-apa, kan?” ia mengulang pertanyaan. Akhirnya aku memberanikan diri, pelan-pelan aku menengok ke atas. Bertahap aku bisa melihat lehernya, kemudian bagian dagunya, bagian bibirnya, dan kini seluruh wajahnya. “Sat... Sat... Satya... beneran ini kamu?!” Aku berteriak sekencang-kencangnya. Tapi hanya di dalam hati. Perasaanku saat ini benar-benar campur aduk. Aku belum benar-benar menyadari apa yang sedang terjadi. Sedetik lalu, aku panik karena kehilangan barangku, sedetik kemudian merasa ta

