Hadiah Ulang Tahun
Suara tepuk tangan memenuhi ruang rapat utama Grup Jayadi.
"Selamat, Bu Stella!"
"Proyek kita akhirnya berhasil!"
"Kita akhirnya mendapatkan kontrak itu!" sahut pegawai lainnya.
Senyum tipis muncul di wajah Stella Stefani Jayadi. Setelah sibuk beberapa bulan terakhir, bahunya terasa sedikit lebih ringan. Proyek pembangunan kawasan industri di Jawa Timur akhirnya selesai.
"Selamat, Nona Stella."
"Kinerja Anda luar biasa."
"Pak Surya pasti bangga."
Mendengar nama ayahnya disebut, senyum Stella sedikit melemah. Sudah tiga tahun sejak ayahnya meninggal. Tetapi hingga hari ini, ia masih merindukan sosoknya.
Ayahnya adalah satu-satunya orang yang selalu percaya bahwa dirinya mampu memimpin perusahaan suatu hari nanti. Dan perlahan, Stella yakin kalau dia hampir mewujudkannya.
Setelah rapat selesai, para karyawan mulai meninggalkan ruangan. Stella membereskan beberapa dokumen di meja. Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk. Dari Ayu Lestari – ibu tirinya.
[Pulanglah malam ini ke rumah utama. Ada makan malam keluarga.]
Stella mengangkat alis. Makan malam keluarga? Tidak biasanya ibu tirinya itu mengundang makan malam bersama.
Mungkinkah dia sudah tahu kalau proyeknya berhasil, maka dia sengaja mengundangnya untuk merayakan kesuksesannya.
[Baik.] Stella membalasnya dengan singkat.
Malam harinya. Rumah utama keluarga Jayadi terlihat lebih ramai dari biasanya. Lampu taman menyala terang. Beberapa pelayan sibuk menyiapkan makanan.
Begitu memasuki ruang makan, Stella langsung menghentikan langkahnya. Di atas meja berdiri sebuah kue ulang tahun besar. Lilin angka dua puluh enam menyala di tengahnya.
Stella membeku. Hari ini memang ulang tahunnya. Tapi karena terlalu sibuk bekerja, ia lupa kalau ini adalah hari jadinya.
"Selamat ulang tahun Stella."
Suara Ayu terdengar dari belakang. Stella menoleh. Wanita itu berjalan mendekat bersama Gisel – adik tirinya dengan memasang wajah tersenyum.
Senyuman yang sopan. Tidak terlalu hangat. Tetapi cukup tulus. Setidaknya terlihat seperti itu yang ditampilkan.
"Terima kasih Ibu, Gisel. Aku sendiri malah lupa ulang tahunku sendiri.”
Stella sedikit canggung. Momen seperti ini jarang terjadi di antara mereka.
"Kamu terlalu sibuk dengan proyek itu, sampai lupa jadinya.” Ayu memeluk Stella dengan hangat.
"Terima kasih sudah ingat ulang tahunku Bu. Aku terharu.”
"Kamu sangat mirip ayahmu. Sangat pekerja keras,” ucap Ayu sedikit memujinya.
Kalimat itu membuat Stella terdiam. Ayu menuangkan teh ke dalam cangkirnya.
"Ayahmu pasti bangga di surga."
Entah kenapa, mendengar itu membuat hati Stella sedikit menghangat.
Mereka kemudian makan malam sambil mengobrol ringan. Di sini Ayu dan Gisel terlihat lebih dominan dalam percakapan. Stella hanya menjawab singkat dan mengangguk sopan saja.
Setelah makan malam selesai, Ayu menyerahkan sebuah amplop putih.
"Apa ini?"
"Buka saja!”
Stella membuka amplop itu. Matanya langsung membesar. Dua tiket pesawat pulang pergi. Dan paket liburan eksklusif selama satu minggu di sebuah resort pribadi.
"Paket liburan?"
Ayu mengangguk. "Hadiah ulang tahun untukmu."
Stella benar-benar terkejut. "Untukku?"
"Tentu saja." Gisel ikut menimpali. Wajah bulatnya tersenyum seolah hadiah itu darinya. Sudut matanya melirik setengah iri.
"Aku tidak perlu liburan."
"Kamu perlu liburan, setidaknya bisa rileks dan manjakan diri sendiri."
Ayu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Sejak ayahmu meninggal, kamu tidak pernah berhenti bekerja."
Stella tidak membantah. Karena itu benar.
"Aku baik-baik saja."
"Tidak." Ayu menggeleng. Wajah tegasnya menatap wajah Stella dengan tatapan intimidasi.
"Kamu hanya berpura-pura baik-baik saja."
Ayu melanjutkan. "Proyek terakhirmu sudah selesai dan sukses, Kamu berhak libur untuk menyegarkan badan kamu yang penat."
"Tapi liburan selama seminggu itu terlalu berlebihan. Aku lebih suka bekerja.”
"Anggap saja ini hadiah karena kerja kerasmu."
Stella memandangi tiket itu. Resort tersebut terkenal sangat mahal. Bahkan ia pernah melihatnya di majalah bisnis.
"Ini hanya membuang waktu dan uang."
"Anggap saja aku sedang mencoba menjadi ibu yang baik." Ayu terdengar memaksa.
Selama ini dia memang kurang perhatian. Tapi Stella maklum, karena dia memang bukan prioritasnya. Masih ada Gisel – putri kandungnya.
"Pergilah bersenang-senang." Ayu berkata pelan.
"Kalau aku jadi kamu, aku akan pergi tanpa ragu. Mencari pria tampan di sana. Katanya bule di sana banyak yang tampan dan gagah. Sayangnya Mama tidak membelikan aku juga,” gerutu Gisel yang usianya beda tiga tahun dengan Stella.
Ayu tertawa mendengar Gisel yang merajuk. Stella menunduk melihat tiket di tangannya. Mungkin ibu tirinya benar. Ia memang membutuhkan istirahat.
***
Tiga hari kemudian. Stella tiba di lokasi tujuan liburannya. Sebuah pulau eksotik yang jauh dari keramaian. Laut biru membentang sejauh mata memandang.
Pemandangan di sana terlihat sempurna. Pulau ini terlalu sepi. Orang bakal mengira kalau pulau itu disewa untuk dirinya sendiri. Tidak ada turis yang lain. Hanya beberapa orang yang berdiri di sekitar area dermaga. Itupun pasti pegawai resort ini.
Mereka mengenakan pakaian hitam dan terus mengawasinya. Stella mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman itu.
Saat masuk ke area bangunan resort, ada seorang pegawai langsung menawarkan welcome drink yang terlihat segar. Stella meneguknya sampai habis karena memang tenggorokannya terasa haus setelah turun dari kapal.
Dan saat malam tiba, kegelisahan itu justru semakin kuat. Ia mencoba menghubungi Hana, asistennya di Jakarta.
Tidak ada sinyal seluler. Apa ponselnya yang bermasalah, atau memang di sini tidak bisa menangkap sinyal. Stella mencoba memakai jaringan internet yang ada di resort. Tapi rupanya jaringan internet pun tidak ada.
Sejenak Stella berusaha untuk tetap tenang, meski hatinya mulai menaruh curiga. Sejak sampai di resort, ia tidak melihat tamu atau pengunjung lainnya. Tapi sebelum dia mengantisipasi kemungkinan yang terburuk terjadi, Stella merasa matanya sangat mengantuk.
Tubuhnya lelah dan ingin segera tidur, mungkin karena perjalanan pesawat, darat, dan laut membuat dia menjadi mengantuk. Tak lama setelah itu, dia tidak sadarkan diri.
***
Alangkah terkejutnya Stella ketika membuka matanya, tubuhnya dalam keadaan terikat dan berada di tempat asing. Bukan lagi kamar hotelnya.
Tubuhnya terikat di sebuah panggung melingkar dengan puluhan mata menatapnya. Sorot lampu tembak langsung mengarah padanya.
Stella memberontak dan berusaha melepaskan ikatan yang menutup mulutnya.
“Lepaskan aku? Siapa kalian?” teriak Stella menatap ke semua orang yang tengah menatap dirinya dengan penuh minat.
Belum sempat dia mendapat jawaban. Terdengar suara yang membuat shock gadis itu.
“Puncak lelang malam ini akan ditutup oleh gadis yang masih perawan. Namanya Stella Stefani Jayadi. Dia gadis cantik, seksi, dan yang paling menawan di antara para gadis malam ini. Bagaimana Tuan-Tuan?”
Tubuh Stella meremang ketika mendengar suara orang yang berbicara di mikrofon. Orang itu melelang dirinya seperti barang seni.