"Tidak seru." George menggeleng cepat dan kembali berkata, "Ceritanya tak cukup menakutkan, malah terkesan dibuat-buat." Sean hampir saja memarahi George, jika saja dia tak ingat tempat, juga fakta di mana George merupakan anak seorang pengusaha yang cukup berpengaruh di kompleks tersebut. "Baiklah, sampai di sini saja aku bercerita." Sean mencoba tersenyum manis, meski dalam hati dia merasa sedikit kesal. Padahal dia sudah bersusah payah mengingat-ingat cerita bagus yang bisa ia ceritakan kepada anak kecil di depannya. Namun ternyata semua usahanya itu berakhir sia-sia. "Sebaiknya aku pergi." George memiringkan kepala, ekspresi penuh tanya pun terlihat. "Kemana?" tanyanya penasaran. Sean tersenyum dan memperlihatkan tas pinggangnya. "Aku harus pergi mengantar s**u lagi," jawabnya.

