Kepergian anak perempuan kesayangan mereka, membuat pasangan Hendrik dan Maia berniat untuk pindah jauh ke luar kota. Meski mereka sekeluarga belum genap setahun tinggal di daerah itu, namun Maia tidak sanggup lagi tinggal di tempat yang membuatnya harus mengenang sang putri yang telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Walaupun sudah lewat beberapa bulan sejak kepergian Tasia, keluarga kecil itu masih belum bisa melupakan kesedihan yang mereka rasakan.
Hari yang cerah di pagi Senin, ketika persiapan mereka bertiga sudah selesai disiapkan, dan mobil-mobil pengangkut barang mereka telah berangkat sedari tadi. Sebelum pergi, Hendrik sekeluarga ingin berpamitan dengan George Owens, tetangga yang sudah banyak membantu keluarga mereka dalam memberikan dukungan untuk kembali menjalani kehidupan yang lebih baik selepas kepergian Tasia.
Mereka berutang banyak pada remaja laki-laki berparas tampan itu.
"Ehh? Paman dan Bibi akan pindah?"
Hendrik mengangguk. "Iya George, kami akan pindah ke luar kota."
"Mengapa cepat sekali?" George menggosok-gosok matanya, laki-laki berusia 16 tahun itu baru saja bangun dari tidur ketika pintu rumahnya diketuk dengan cukup kencang.
"Saya bahkan tidak mempersiapkan apa-apa untuk kalian bertiga," ucap putra tunggal pasangan Owens itu sekali lagi.
"Tak apa, George. Kau sudah banyak menolong keluarga kami," Maia tersenyum kecil. Duka yang ia rasakan berbulan-bulan karena kehilangan anak kesayangannya, membuat pola makan Maia menjadi tidak teratur.
George memandang wanita itu yang tampak lebih kurus jika dibandingkan dengan kedatangannya dulu. Memperhatikan wanita itu dari atas ke bawah. "Jangan lupa makan ya, Bi."
"George, kami akan pindah ke tempat yang jauh, dengan membawa kenangan indah tentang Tasia." Hendrik terlihat lebih bisa menerima kenyataan, walau dari sorot matanya menunjukkan hal sebaliknya.
George menatap keluarga itu selama beberapa saat, "Baiklah, saya mengerti."
Remaja dengan tinggi 176 cm itu lalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar. "Silakan masuk dulu, Paman, Bibi, dan juga ... Michael."
George melirik anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang sedari tadi diam tak bersuara. Dengan penuh kelembutan, George mengelus kepala Michael. "Jangan terlalu bersedih, sobat kecil. Kamu harus bisa melanjutkan hidup, dengan atau tanpa kakakmu."
"Tapi, Michael rindu dengan kakak," suara Michael terdengar bergetar, anak itu menggigit bibirnya berusaha menahan tangis. Sang ibu langsung memeluk anak itu.
George diam, menatap lurus pada keluarga kecil yang saling menguatkan satu sama lain. Ia tiba-tiba teringat dengan cerita Niels tentang pelaku pembunuhan Tasia. Sang pelaku telah dijebloskan ke dalam penjara, barang bukti tertuju kepada wanita gelandangan tersebut. Mulai dari sidik jari, bahkan pakaian terakhir yang Tasia kenakan. Semua tertuju kepada tunawisma yang sering berkeliaran di sekitar kompleks perumahan mereka.
Namun semua polisi-polisi itu tidak dapat menemukan jasad Tasia, meski sudah memaksa wanita tua itu untuk mengakui perbuatannya. George tertawa setiap mengingat cerita Niels. Tentu saja mereka tidak akan bisa menemukan mayat gadis kecil itu.
"Kami akan berangkat sebentar lagi," ucap Hendrik sambil menggendong Michael di tangan kanannya, "jadi kami tidak bisa berlama-lama di sini, George."
"Ah, tak apa, Paman. Silakan masuk dulu dan duduklah sebentar. Saya akan membawa minuman dan camilan."
Hendrik membawa istri dan putranya memasuki rumah besar milik George, awalnya mereka sempat tidak menyangka jika remaja itu tinggal sendiri di rumah yang dapat ditempati oleh satu keluarga besar. Tetapi alasan George membuat mereka berdua takjub. Anak itu ternyata ingin hidup mandiri.
Tak lama, George datang membawa nampan dengan 4 buah cangkir dan 1 teko berisi cokelat panas. Tak lupa pula ia membawa beberapa potong kue kering. "Maaf, jika saya hanya dapat menyajikan sesuatu yang sederhana, padahal ini terakhir kalinya kita bersama."
"Sudahlah, George, tak perlu repot."
Beberapa saat kemudian, tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
George menyesap minumannya dengan hati-hati, mata cokelatnya mengawasi gerak gerik keluarga yang sedang menikmati kue kering buatannya. Lagi-lagi, ia teringat dengan kejadian yang membuatnya malu di depan profesor.
"Ngomong-ngomong, Paman, Bibi, kalian berdua belum pernah berkeliling di rumah saya 'kan? Bagaimana jika saya mengajak kalian bertiga untuk melihat-lihat rumah ini sebelum kalian pergi?"
George menaruh cangkirnya kembali di atas meja. "Saya hanya ... tidak ingin kalian melupakan saya."
Maia dan Hendrik menatap George dengan haru, begitu bahagianya hati mereka diperlakukan dengan baik oleh tetangga yang belum sampai setahun mereka mengenalnya. Mustahil mereka menolak permintaan terakhirnya yang terdengar tulus itu.
"Tentu, George. Kami tidak akan melupakanmu."
George tersenyum samar. "Mari, saya antar berkeliling."

"Ini ruang bawah tanah, tempat khusus yang sering saya gunakan untuk mengetes penemuan saya."
George membawa masuk keluarga Hendrik ke dalam ruangan yang pengap dan memiliki penerangan yang remang-remang. George kembali melanjutkan, "Tempat ini luasnya sama dengan luas rumah sebenarnya."
Michael menatap ngeri ruangan gelap yang berada di hadapannya, anak berusia lima tahun itu lalu menarik-narik baju sang ibu. Hendrik lalu mengikuti George turun sampai ke dasar. George kemudian menyalakan lampu, dan begitu ia nyalakan ruangan itu menjadi terang dan tidak lagi terlihat menakutkan.
"Luar biasa," Maia berdecak kagum. "tempat ini mengagumkan. Walau pengap, tapi cukup nyaman untuk ditinggali."
George tersenyum. "Senang mendengarnya, tapi tunggu sebentar, saya mengambil sesuatu dulu di kamar."
Putra pasangan Owens lalu berlalu pergi meninggalkan Hendrik dan keluarga kecilnya di ruang bawah tanah. Michael berlari-lari kecil di ruangan yang luas itu sambil tertawa-tawa bahagia.
"Tempat ini kosong sekali dari barang-barang, coba lihat setiap bilik yang ada di sini."
Hendrik dan Maia memeriksa semua ruangan kecil yang ada di ruang bawah tanah. Entah apa guna dari ruangan dengan peralatan-peralatan tukang seperti palu, gergaji, bor bahkan ada peralatan medis di rumah anak laki-laki bernama George itu.
"Ma, itu ventilasi udara?"
Maia melihat ke arah yang ditunjukkan sang anak. "Sepertinya iya, tapi mengapa tempat ini tetap terasa pengap ya?"
Tiba-tiba penerangan tempat tersebut mati, sontak Michael berteriak ketakutan. Hendrik meraba-raba udara kosong, mencari anak istrinya yang sebelumnya berada tidak terlalu jauh darinya.
"GEORGE! GEORGE! LAMPU TEMPAT INI MATI! TOLONG KAMI!"
Hening. Tak ada sahutan dari sang pemilik rumah. Tentu saja tidak ada yang bisa mendengar teriakan mereka, karena ruang bawah tanah George dilengkapi dengan peredam suara. Pasangan suami istri itu lalu berpikir keras, bagaimana cara mereka bisa menemukan sakelar lampu dalam keadaan gelap. Michael masih terus menangis.
Ketika sunyi benar-benar melanda, terdengar suara pelan yang berasal dari atas kepala mereka. Seperti bunyi yang muncul dari radio yang tidak memiliki siaran. Hendrik spontan menutup hidung, aroma gas aneh mendadak memenuhi sekitarnya, membuatnya kesulitan bernapas. Matanya panas, seperti terbakar.
"Maia, Michael?" Hendrik terbatuk-batuk. Menurut dugaan laki-laki itu, aroma yang ia cium ini adalah gas yang keluar dari ventilasi yang sempat ditunjuk oleh putranya tadi. Pandangan Hendrik mulai berkunang-kunang.
"Su-suamiku," Maia mendengar suara lirih sang suami memanggilnya, disusul dengan suara batuk. Napas Maia seolah tertahan di tenggorokan. Matanya berair, rasanya benar-benar menyakitkan. "To-tolong."
Michael merangkak di lantai, mencari orang tuanya. Anak itu merasakan sesak di d**a, pandangannya langsung buram, walau tak ada objek yang dapat ia lihat karena hanya ada kegelapan ditangkap oleh kedua matanya.
Bibir Michael tidak bisa berhenti gemetar karena rasa sakit yang ia rasa. Sakit yang hebat menghujam kepalanya bertubi-tubi. Pandangan mata Michael semakin mengabur, seiring dengan bertambah pekatnya asap gas yang menyelimuti mereka di tempat itu.

George mematikan sakelar mesin gas yang dipasangnya di dinding sambil tersenyum lebar. Penemuan terbaru yang ia ciptakan dua minggu yang lalu berhasil diujicoba dengan baik. Gas bius yang dapat bertahan selama beberapa jam apabila dihirup manusia.
Awalnya, George sempat kebingungan karena tidak menemukan hewan yang dapat dijadikan eksperimen terhadap ciptaan barunya.
Namun beruntung, ada kelinci-kelinci percobaan yang bertandang ke rumahnya ketika mesin gas itu telah disempurnakan. Tanpa menolak, mereka dengan senang hati digiring ke tempat penguji coba mesin dengan gas bius yang nanti akan ia perlihatkan kepada peneliti dan profesor gila yang mengesalkan itu.
"Ya! Bagus! Uji coba sukses!" George pun tersenyum semakin lebar. "Lihat saja karya luar biasaku ini, profesor sialan!"