39. Life Like Devil

1305 Kata
"Heh, apa dia mati?" George menendang kepala laki-laki yang terkapar di bawah kakinya beberapa kali dengan sepakan kencang. "Hei, bangun." George lalu berjongkok, memeriksa urat nadinya dengan wajah serius. Kemudian mengalihkan mata tajamnya kepada dua orang yang tergeletak tidak jauh dari orang pertama. George lalu menghampiri mereka satu-satu. "Oh, ternyata semua masih hidup ya." Tatapan George seketika berubah dingin. Tangannya disedekapkan di d**a. "Gara-gara sampah seperti kalian, aku harus mengulang pelajaran Kimia dan dipermalukan oleh para peneliti itu. Sialan." George lalu mengikat tangan laki-laki dewasa yang datang bersama keluarganya ke rumah orang yang akan mengantarkan mereka menemui Tasia, yaitu George Owens, tetangga tersayang mereka sendiri. Penyuka warna merah itu lalu mengambil peralatannya. "Kalian pikir aku akan dengan mudah memaafkan dan melupakan rasa malu yang terjadi saat itu? Heh, jangan membuatku tertawa." George memukul kencang kepala Hendrik dengan palu yang pegangannya terbuat dari kayu. Cipratan darah langsung mengenai wajahnya. "Ketahuilah, ini semua karena anak-anakmu, Paman." Memukul sekali lagi tempurung kepala Hendrik yang terkapar tidak sadarkan diri dengan sekuat tenaga, ia menghancurkan kepala manusia seolah sedang memecahkan kacang kenari dengan mudahnya. "Aku benci dipermalukan, aku benci diremehkan oleh orang-orang itu. Aku juga benci ... harus kehilangan nilai IPA-ku yang berharga. Ini semua gara-gara anak kalian!" George terus mengayunkan palu besi ke tubuh yang ia duduki. Tak kenal henti, tak mengenal kata ampun, George terus memukul badan Hendrik dengan palu yang ada di tangan kanannya. Peduli setan jika laki-laki itu bangun, toh, kepalanya sudah hancur. "Eeuuhuhh." George menoleh dengan cepat, melihat salah satu korbannya mulai sadarkan diri. Ia mendecih. Dengan cekatan, George menyeret tubuh tanpa nyawa itu ke salah satu bilik. Menatap luka dan memar yang terdapat di badan Hendrik, yang dibuatnya sendiri dengan kedua tangannya. Lantas beralih pada tengkorak kepala laki-laki itu yang retak. Puas dengan orang pertama, George pun berjalan menghampiri satu-satunya wanita di ruangan tersebut. Mengangkat dagu Maia dengan palunya, lalu menatap kedua mata wanita itu dengan tajam. "Lihat wajah cantikmu ini. Haruskah kulukis agar kau bisa tampak lebih cantik dan menarik lagi. Bagaimana menurutmu, hm?" George mengangkat tubuh Maia, mendudukkan wanita itu ke atas kursi. "Geo-George," lirih Maia sepenuhnya sadar, ia menatap remaja yang menjadi tetangganya dengan takut-takut. "a-apa yang ... kenapa ... kau melakukan ini?" "Kenapa Bibi bilang?" George melempar palunya ke sembarang arah, lalu mengambil cutter dan tali yang berada di bawah kursi. "Tentu saja karena aku sangat, sangat kesal. "Karena kedatangan kalian itu mengganggu, dan kehadiran kalian adalah musibah." George menurunkan mata pisau, dan kembali mendekati Maia. Cutter itu mengarah tepat ke leher wanita yang tidak berhenti gemetaran sejak tadi. "Kau takut? Sejujurnya aku melakukan ini karena ulah anak-anakmu yang tidak sopan terhadapku." "Nah, Bi...," George memutar cutter di tangannya selayaknya mainan, "mari kita lihat, seberapa lama Bibi bisa menahan rasa sakit ini?" Pisau tajam George arahkan ke wajah Maia yang tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena efek dari bius yang masih tersisa. "He-hentikan, George!" "Jangan lakukan ini!" "Ssstt! Diamlah, nanti konsentrasiku terganggu." Maia menjerit hebat ketika George mulai menyayat pipinya dengan perlahan, membuat pola tak beraturan dengan cutter di tangannya. Darah kental merembes keluar melalui luka sayatan yang dibuat oleh laki-laki itu. "Sudah kubilang padamu untuk DIAM!" George menekan dalam-dalam mata pisau di wajah Maia. Wanita itu semakin menjerit kencang. Berulang kali George menekan pisau itu di wajah Maia. "Bibi ini tidak bisa diam ya." George kemudian mengambil gunting taman dari dalam laci. Remaja itu lantas menatap Maia tajam. Ia menyeringai. "Harus diberi pelajaran agar jera rupanya." "TI-TIDAAAAAAAAAAKKKKK!" ** "Hmm, lalala, hm, hmm." George bersenandung riang, kedua tangannya sibuk membersihkan noda merah yang menempel hampir di sepanjang sisi mata pisau kesayangannya. Tak jauh darinya, tersusun rapi potongan tubuh yang beberapa saat lalu dipotongnya menggunakan pisau dapur. Baju tidur bermotif panda miliknya berubah merah karena berlumur darah. Setelah selesai dengan kegiatannya, George mengambil sebuah benda yang menyerupai bola bermata satu. Ia lalu memutarnya perlahan-lahan, melihat-lihat dan merasakan permukaannya yang kasar namun lunak itu dengan saksama. "Hm, haruskah aku mengambil keduanya?" George meraih wajah laki-laki dewasa dengan kondisi yang mengenaskan, dan mengambil satu lagi bola putih menggunakan telunjuk tangan kanan lalu mengelapkannya di permukaan baju. George menaruh bola-bola itu ke dalam toples yang juga berisi sebelah telinga yang telah dipotong. Lalu menulis catatan di jurnal besar berwarna biru: penelitian mengenai seberapa lamakah waktu yang diperlukan untuk telinga dan bola mata manusia, bertahan di toples air? George lantas mengamati karyanya dalam permainan bongkar pasang, semua bagian telah lengkap, hanya saja ia membutuhkan lilin. Ia memerlukan beberapa benda yang terbuat dari parafin agar ia dapat merekatkan masing-masing potongan tersebut seperti semula ke tempatnya. Sayangnya, ia kehabisan barang yang diperlukan. George lalu berpikir keras. "Haruskah aku pergi ke toko untuk membelinya?" monolog putra satu-satunya pasangan Owens itu sambil memejamkan mata. George mengendikkan bahu, ia pun melangkah meninggalkan bilik tempat ia bermain. Lalu menghampiri salah satu mainannya yang terikat di kursi. "Selamat malam Bibi Maia, bagaimana lidahmu?" George terkekeh. "Eungg ... hhhh. Uummhh!" George mendekatkan telinganya, "Apa? Aku tak mengerti ucapanmu." Lagi-lagi George terkekeh pelan. "Harusnya tidak kupotong lidahmu itu. Kau jadi terlihat seperti orang bodoh." George kemudian memperlihatkan pisau sepanjang 8 cm kepada Maia, pisau yang telah dibersihkan dan diasahnya sedemikian rupa agar tajam. Maia membelalakkan mata, menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Em! Emmm!" "Heh! Masih saja berisik," George mendecih. Tangannya yang kosong seketika menjambak rambut wanita dengan guratan luka di wajahnya. George tersenyum menatap hasil karyanya yang ia ukir di sana. "Tidurlah yang nyenyak!" Pisau tajam di tangannya dengan cepat ia tancapkan ke perut Maia, George lalu memutarnya, menyobeknya, mengeluarkan isi perutnya dan menikmati setiap gerakannya itu sambil tersenyum aneh. "Selamat menyusul putri kecilmu, Bibi." ** George kembali berkutat dengan jurnal harian yang berisi data mengenai risetnya. Seluruh pakaiannya berlumur darah. "Perbedaan tekstur daging babi dan manusia," eja George ketika sedang fokus menulis jurnal ilmiah. Ia lalu memperhatikan tulisannya. "Ah, tidak, tidak. Ini terlalu provokatif." "Manusia dan caranya bertahan hidup." George sekali lagi memperhatikan judul tulisan yang dibuatnya. Senyum tipis terlukis di wajahnya kali ini. "Hm, cukup bagus untuk judul makalah nanti." Remaja 16 tahun itu lalu sibuk merangkai kata di sebuah meja kerja tua, membuat rancangan untuk kegiatan presentasi Jumat nanti di sekolahnya. Tanpa ia ketahui, seseorang tengah merangkak pelan mendekatinya. "Ka-kak George." "To-tolong...." Terperanjat kaget, George langsung menghentikan aktivitasnya. "Michael? Astaga ternyata kau." George pun keluar dari meja kerjanya, menghampiri anak kecil tersebut dan berdiri menatapnya dengan datar. "Kenapa tidak berdiri dan lari-lari seperti dulu, heh?" "Le-lepaskan Mamaku, Kak...." Buk. George menendang kepala anak itu dan menekannya kuat-kuat. "Tak ada hakmu untuk berbicara denganku." Peraih juara satu lomba debat sel itu menginjakkan kakinya ke tangan-tangan kecil yang berani menyentuhnya. "Jangan menyentuhku bocah sial!" Michael tak menyerah. "To-long, se-selamatkan aku." George mengambil pisau berlumur darah miliknya secara diam-diam. Ia lalu tampak menimbang-nimbang jawaban, "Emm, selamatkan ya .... BAGAIMANA DENGAN INI!" TAK! "AAAAAHHHHH!" Empat jari terputus dari tangan mungil Michael yang terus meraung kesakitan, dan memicu kemarahan George. "Kau ini berisik seperti ibumu ya." Air mata terus mengalir, menuruni pipi-pipi berisi milik Michael. Tak bisa dipungkiri rasa sakit tak terhingga yang harus ia rasakan meski ia tidak mengetahui letak kesalahannya di mana, sampai ia harus diperlakukan kejam seperti itu. "Kau ... iblis. Pembunuh." "Ya, ya, ya. Aku memang hidup seperti iblis, untuk mencapai tujuanku maka itu diperlukan." George lalu berjongkok, lagi-lagi mengelus kepala Michael dengan lembut. "Apa kau mau melihat Tasia?" Remaja itu kemudian pergi meninggalkan Michael yang menahan kesakitan di tangannya yang terpotong. "Hei, lihat ini," George memanggil Michael, menarik perhatian anak laki-laki itu yang langsung membulatkan mata. Seringai kejam George perlihatkan. "kakakmu tiba untuk menjemputmu." "KAKAK!" Michael langsung terdiam melihat bagian yang terputus dari tubuh sang kakak, sekaligus memandang ngeri pada tengkorak yang George genggam di tangan. "Sorot matamu aneh! Kenapa? Ini jelas-jelas Tasia yang datang menjemputmu." "Itu ... bukan kakak." George melempar tengkorak kepala itu ke samping, dan menatap anak yang empat buah jarinya sudah dipotong olehnya. "Tentu saja ini kakakmu, bodoh. Bagaimana daging yang kalian makan dulu? Enak 'kan?" "Sebagian daging dan tulang anak itu, kuberikan ke Berto dan kalian tidak bisa menemukannya." George tersenyum, mengingat betapa lahapnya beruang cokelat itu memakan sisa daging yang ia lemparkan ke gua. Ia kembali meraih pisau sepanjang 8 cm dan menetak jari-jari kecil yang tersisa. Michael menjerit keras. "Anak nakal harus diberi pelajaran. Benar begitu 'kan, anak manis?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN