40. New Student

1270 Kata
"Apa semua berkas administrasi masuk yang diperlukan sudah selesai?" "Sudah, Paman." Laki-laki itu melepas topinya, "Kau yakin? Apa kau membawanya?" Gadis itu kembali mengangguk, "Iya, Paman. Semuanya sudah selesai dan kubawa dalam tas." Sebuah tangan besar mendarat di kepala Grace, membuat gadis itu mendongak sedikit untuk menatap ke arah sang paman, "Tersenyumlah, Grace. Kau tidak ingin teman-teman barumu melihat kau murung seperti ini, 'kan?" Seulas senyum tipis gadis itu sunggingkan, "Baiklah, Paman. Aku akan tersenyum jika ini memang yang terbaik untukku." Paman Grace menatap kemenakannya dengan serius, "Tidak, bukan senyum seperti itu. Maksud Paman, kau harus mengikhlaskan kepergian sahabatmu dan menjalani hidup dengan lebih baik. Ini sudah lewat setahun, dan kau masih dirundung kesedihan? Kuatkan hatimu, Grace. Lalu, tersenyumlah dengan tulus." "Ingat kata-kata Paman, yang mati, akan tetap mati. Alyssa memang telah tiada, kau boleh saja mengenangnya, Grace, tetapi jangan jadikan itu alasan untuk larut dalam kesedihan, karena yang hidup, harus tetap hidup." Laki-laki tersebut kembali mengusap kepala Grace dengan penuh kasih sayang, menatap anak dari sang kakak dengan lembut, "Kau mengerti maksud Paman, 'kan?" Setitik air bening lolos dari mata gadis dengan rambut ikal berwarna kuning keemasan, ia buru-buru menghapusnya. "Baik, Grace mengerti, Paman." Pamannya tersenyum, "Bagus, inilah kemenakanku, Grace Anastasia yang kuat!" Grace terkekeh pelan. Dukungan yang diberikan oleh sang paman membuat hatinya sekarang lebih terbuka. Kali ini, Grace benar-benar tersenyum. Bukan lagi senyum palsu yang menahan rasa sakit, melainkan senyum keikhlasan. "Terima kasih banyak, Paman Smith. Aku akan selalu mengingat kata-katamu." Smith tersenyum lebar, "Sama-sama. Nah, sekarang, naiklah ke mobil. Kita berangkat ke sekolah barumu." "Baik, Paman." ** George sedang disibukkan dengan daftar bacaan yang akan dibahasnya nanti dalam seminar. Netra cokelatnya memelototi buku setebal 127 halaman sambil sesekali diberikannya tanda baca dibagian yang penting. "George! Minggu ini kau bisa pergi?" "Maaf, aku sibuk." Gadis itu mendekatkan dirinya, merangkul tangan George dengan mesra sambil mencondongkan tubuhnya kepada laki-laki itu, "Kau ini! Sibuk terus .... Sesekali keluarlah dan pergi kencan denganku." "Hei, Maria Torad, minggir," seseorang datang menghampiri gadis yang tengah bergelayut manja pada putra keluarga Owens, laki-laki dengan poni yang disisir ke belakang itu menunjuk kursi, "aku ingin duduk." Maria--gadis itu berdecak kesal, ia tak menghiraukan Antonio-laki-laki yang menegurnya, Maria kembali mengalihkan perhatiannya pada George, "Ayolah, George. Bagaimana jika Sabtu malam? Mau ya?" "Tidak bisa, aku ada janji dengan Profesor." Ketika Maria tengah menyusun kata-kata yang pas untuk kembali membujuk George, laki-laki itu sudah lebih dulu bersuara, "Bisakah kau pindah saja? Tidakkah kau kasihan dengan Toni yang kursinya kau ambil? Lihat wajah malangnya." Antonio langsung memelototi George, sedangkan yang dipelototi hanya menatap buku di tangannya. Maria mendengus, ia lalu beranjak pergi meninggalkan George, dan tanpa menyerah, ia kembali bersuara, "Tapi ingat, ya! Lain kali, kita kencan!" "Ahh, gadis keras kepala itu, tidak menyerah juga rupanya." Antonio menepuk pundak temannya yang tengah bergelut dengan materi gravitasi, "Cobalah turuti keinginannya itu, George." "Yang dikatakan Toni benar," seseorang menyahut tiba-tiba, George dan Antonio melirik ke seseorang yang duduk di belakang pemuda Owens, "kau sudah menolak ajakan Maria sebanyak sepuluh kali minggu ini. Turuti saja permintaannya." "Kau saja yang kencan dengannya, Tom," jawab George acuh tak acuh. "Aku mau saja, tapi Maria yang tidak mau denganku." Antonio tertawa, "Berarti kau harus mengubah dulu wajahmu itu agar bisa tampan seperti George!" "Heh, seperti aku mau saja." Mereka bertiga lalu tergelak bersama. Tak lama setelah itu, seorang laki-laki datang memasuki kelas, kedatangannya membuat suasana kelas menjadi senyap. Ia kemudian berdiri di belakang podium. "Kelas kalian kedatangan siswi baru." Semua siswa siswi kelas 1A langsung heboh, sibuk membicarakan murid baru yang dimaksud oleh wali kelas mereka. Tom menggoyang kursi George dan mencolek Antonio bergantian, keduanya lantas menoleh. "Kau dengar itu? Murid pindahan di semester akhir! Mengapa tidak pindah saat awal semester ya?" Antonio mengedikkan bahu, "Entah," laki-laki dengan nama kecil Toni tersebut melirik George yang juga meliriknya, "mungkin ia punya akses masuk ke akhir semester ini berkat seseorang." "Semoga saja ia cantik dan kaya," gumam Tom dengan seringai andalannya, mencoba terlihat tampan, "aku bosan bermain dengan rakyat jelata!" "Meh, seperti kau bangsawan saja!" "Sstt, jangan berisik." George menatap lurus ke depan. "Baiklah, silakan masuk." Derap langkah sepatu hitam yang bertemu dengan ubin putih memancing rasa keingintahuan semua siswa kelas 1A, seperti apa gerangan rupa dari siswi pindahan yang masuk ke kelas mereka pagi itu. "Geez, man! Lihat!" Siswi pindahan itu tersenyum, tangan kanannya bergerak menaikkan anak rambut berwarna kuning keemasan miliknya yang jatuh, menyampirkannya ke belakang telinga dengan gerakan yang cukup sensual. Bibir mungilnya dipoles dengan lipstik nude warna coral, menambah kesan cantik yang ada padanya. "Halo, perkenalkan, namaku Grace Anastasia." George berpangku dagu, memandang gadis yang berdiri di depan kelas, tak disangka olehnya ia akan bertemu lagi dengan seseorang yang dikenalnya di masa lalu, senyum tipis hadir di wajah rupawan milik George. Semudah itukah takdir mempertemukan lagi keduanya?  "Lalu paginya, aku berterima kasih pada kakek karena sudah membantuku keluar dari kamar mandi yang terkunci!" "Haha, dasar konyol," Antonio tertawa ketika mendengar cerita Tom tentang kesialannya di pagi buta, remaja itu lalu melirik George yang terdiam memperhatikan sesuatu, "Ada apa, George?" "Kalian ... makanlah, aku akan duduk saja." George melangkah cepat meninggalkan kedua orang temannya, berjalan menghampiri seseorang yang sedang makan sendirian di kafetaria sekolah. "Hai, George." Sapa seseorang yang berpapasan dengannya. "Hai," balas remaja itu menyapa. Mata George tengah sibuk menatap gadis yang tampak murung walau di tengah keramaian sekali pun. Remaja itu lalu menarik kursi di depan sang gadis, menimbulkan derit yang menarik perhatian seseorang yang sedang menikmati makan siangnya. "George!" gadis itu terperanjat. Matanya terbelalak lebar begitu menemukan seseorang yang ia kenal di sekolah barunya. "Kau sekolah di sini?" Putra Erick Owens itu tersenyum tipis, agaknya teman satu sekolah menengah pertamanya itu tidak menyadari kehadiran George di kelas tadi. "Ya, aku sekolah di sini. Kita bahkan sekelas." "Oh ya? Kupikir ... kau akan memilih Benjamin Art sebagai sekolahmu," alis Grace terangkat. George mengetuk-ngetuk meja, "Awalnya memang, tapi akhirnya aku berubah pikiran. Aku lebih suka di sini." Gadis itu menghentikan makannya, "Benarkah? Aku baru tahu." George mengamati anak perempuan di depannya, gadis itu kembali terlihat murung. "Kau masih bersedih karena dia rupanya." Grace mendongak, memandangi pemuda yang pernah mengisi ruang hatinya beberapa tahun silam, "Ya, hampir bisa dikatakan begitu." "Tak perlu bersedih seperti itu, Grace. Biarlah yang mati tetap mati, karena kita yang masih hidup harus tetap menjalani kehidupan." Gadis itu tiba-tiba tertawa, memancing George untuk bertanya, "Kenapa?" "Kata-katamu persis seperti pamanku." George terkekeh, "Oh ya?" Grace mengangguk, "Pamanku juga mengatakan hal yang sama. Dia bilang kepadaku untuk menjalani hidup dengan baik dan melupakan kesedihanku. Aku juga harus belajar mengikhlaskan Alyssa. "Pamanku itu ... dia membantuku keluar dari kesedihan, juga selalu mendukungku. Pagi ini tadi, dia membantu mengurus kepindahanku ke sekolah. Aku benar-benar berterima kasih padanya." George bertepuk tangan, "Pamanmu terdengar hebat." "Tentu saja," Grace tersenyum kecil, "Paman Smith memang hebat." "Smith?" George menggumam. Pikirannya langsung tertuju pada panutannya yang bekerja di kepolisian. Mungkin hanya nama depannya saja yang sama. "Iya, Smith Hegner. Pamanku yang baik hati." George tidak tahu nama lengkap sang detektif, ia lalu menatap Grace, mencari kemiripan di antara keduanya, namun tidak ditemukannya raut wajah yang serupa di sana. Bel pun berbunyi, George lalu berdiri dan mengulurkan tangan, "Ayo kembali ke kelas." Grace mengikuti pemuda Owens itu dari belakang. Tanpa diketahui oleh keduanya, tiga pasang mata menatap mereka dengan sorot mata penuh ketidaksukaan. "Lihat jalang itu! Berani sekali mendekati George." "Mungkin, ia ingin berurusan denganmu, Marie." Maria tersenyum miring, "Baguslah, akan kuterima tantangannya." ** Tiga pasang mata mengawasi seorang gadis yang baru saja masuk ke sebuah bilik toilet, ketiganya lalu mendekat ke sana diam-diam seraya membawa ember berisi air. Salah seorang di antara mereka memberi aba-aba, "Satu, dua, ... ti-ga!" BYUR "HAHAHAHAA, RASAKAN ITU!" Grace menganga tidak percaya, seluruh tubuhnya basah tersiram air. Padahal ia baru saja masuk ke dalam toilet. Ia lalu mengendus aroma air yang mengotori seragam barunya, bau tidak sedap langsung menyambut indra penciumannya. "Uh, b******k!" Baru hari pertama masuk sekolah, sudah ada yang mengajak ribut dengannya, Grace lalu merapikan rambutnya yang basah, sepertinya ia harus keramas sekarang juga. Sabar, Grace, batin gadis itu geram. Setidaknya jangan mencari gara-gara di awal masuk sekolah. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN