"Hei, Grace, ayo pulang."
"Tunggu, George," gadis itu sibuk merapikan buku-buku yang ada di mejanya, buku yang memenuhi mejanya tersebut lalu dimasukkan ke dalam tas, "aku hampir selesai."
George mengangguk, pemuda itu berdiri seraya memasukkan kedua tangannya ke kantong celana.
Tom dan Antonio yang bersama dengannya menatap George heran. Hal langka jika melihat seorang George Owens menunggui seorang gadis. Meski anak itu sudah sempat bercerita, jika Grace adalah salah seorang temannya ketika ia sekolah menengah pertama. Bahkan, hal ini sudah berlangsung selama satu minggu.
"Kita searah, 'kan?" tanya Grace sambil menyampirkan tas merah mudanya ke bahu. George menggeleng, "Aku pindah rumah."
Grace manggut-manggut, "Benarkah? Lalu orang tuamu?"
"Hanya aku yang pindah karena itu rumah yang orang tuaku beri."
Grace memukul George sambil tertawa kecil, "Dasar orang kaya."
Keduanya lalu berjalan beriringan, menyisakan dua orang sahabat George yang mengekor di belakang.
Sudah seminggu sejak kepindahan Grace ke Pascal High School. Sejak insiden yang menimpa gadis itu di hari pertamanya, banyak kesialan yang terjadi. Seperti permen karet di kursi, buku catatan yang bertuliskan 'b***h' dengan tinta berwarna merah, sampai disiram dengan air kotor.
Grace sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu, dan ia tidak ingin membalasnya. Karena ia bisa mengatasi sendiri para pencari masalah itu, tetapi tidak sekarang.
"Argh, menyebalkan!"
Grace menatap tidak percaya pada isi lokernya yang dipenuhi dengan sampah, dinding loker yang seharusnya berwarna hijau, sekarang ternodai oleh lipstik merah yang jelas bukan kepunyaannya.
"Ada apa?" George datang menghampiri dengan wajah datar, "Seseorang lagi-lagi mengotori lokermu?"
"Bukan seseorang, pasti sebuah grup!" Grace berdecak kesal.
George lalu menarik tangan Grace, menjauhkannya dari loker, "Biarkan saja, nanti Tom dan Antonio yang bersihkan."
"Hoi!"
"Kenapa kami?"
Grace menahan pemuda Owens, "Tunggu," gadis itu kembali menghampiri loker penyimpanannya, mengambil sepatu hitam dan menggantinya dengan sepatu olahraga yang tengah ia pakai.
"Ya, ayo pulan–AH!"
Tubuh Grace hilang kendali, gadis itu hampir jatuh jika saja tak ada tangan kokoh yang menangkap dirinya. George menatap dengan bingung, "Ada apa?"
"Kakiku, owh!" Grace duduk di lantai seraya memegangi kaki kanannya, dengan cekatan George melepas sepatu milik Grace dan tercengang mendapati darah mengalir dari telapak kakinya yang terluka.
"Ada apa?" Tom dan Antonio berebut menanyakan apa yang terjadi, netra cokelat George seketika berubah dingin, mengeluarkan sebuah benda kecil yang menjadi penyebab luka Grace.
"Ada yang dengan sengaja menaruh paku payung ini ke dalam sepatu," ucap George, menunjukkan sebuah paku payung yang bernoda darah. Grace meringis kesakitan.
"Kita ke ruang kesehatan," George membelakangi gadis yang memiliki nama belakang Anastasia, menunjukkan punggungnya.
Melihat perlakuan George kepadanya dengan netra yang bergetar, mau tak mau gadis itu kembali mengingat perasaannya dulu terhadap putra pasangan Erick dan Joly Owens beberapa tahun silam. Grace menggigit bibirnya, menahan diri.
Dibantu oleh Toni, Grace naik ke punggung George. Pipinya langsung bersemu. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benaknya, kini lebih dulu terealisasikan oleh tindakan spontan laki-laki yang menjadi teman satu sekolahnya dulu.
Jika terus seperti ini, bisakah Grace kembali jatuh ke cinta pertamanya?
Maaf, Alyssa. Kau tentu lebih tahu perasaanku terhadapnya melebihi siapa pun, batin Grace seraya membenamkan wajah di tengkuk George, menghirup aroma maskulin yang ada padanya.
Andai saja sahabatnya masih hidup, mungkin Grace takkan pernah merasakan perlakuan seperti ini. Diam-diam, ia bersyukur.

George menyesap Americano yang sepuluh menit lalu ia pesan, sebelah tangannya mengetik pesan kepada seseorang dengan cekatan.
Hari itu, Niels mengajak George bertemu di kafe Mocca yang menjadi tempat pemuda Owens itu menunggu.
"Maaf George, sudah lama?"
George refleks menoleh pada suara berat yang terdengar dekat dengannya, pemuda itu tersenyum, "Ah, tidak. Aku baru saja sampai."
Niels menarik kursi, dan menekan bel. Seorang pelayan perempuan datang untuk menuliskan pesanan, "Satu Caramel Macchiato," pinta laki-laki berambut pirang sambil tersenyum kecil.
Setelah pelayan pergi dengan pesanan, Niels menatap George yang sedang sibuk memainkan ponsel, "Maaf memanggilmu ke sini karena ada yang ingin kubahas denganmu, George."
"Tak apa, Kak. Aku juga ada janji dengan seseorang, jadi sekalian saja," pemuda berambut cokelat dengan warna netra serupa itu meminum lagi Americanonya.
"Oh ya? Kebetulan, aku juga ada janji dengan opsir Smith."
Suasana mendadak sunyi di antara keduanya, Niels lantas memandang George serius, "Jadi, yang ingin kubahas denganmu adalah perihal kasus Tasia, tetanggamu itu.
"Bagaimana kabar mereka?" tanya Niels tiba-tiba. George tersenyum kecil, "Mereka pindah ke tempat jauh."
Niels diam sesaat, lalu kembali bersuara, "Tentu berat bagi mereka. Sebenarnya, aku kemari bukan untuk membahas itu. Aku ingin menanyakan tentang kau yang tersenyum saat wanita gelandangan itu ditangkap."
George tersenyum, "Seperti ini?"
Niels tampak ragu, "Ya ... mungkin?"
Pemuda dengan hobi berburu itu tergelak, "Aku pikir ada apa. Ternyata hanya ini. Sebenarnya aku tersenyum waktu itu karena melihat Pak Smith."
"Opsir ... Smith? Kenapa?"
George menyandarkan tubuhnya di dinding kafe yang bernuansa minimalis dengan kebun bunga di tiap sudutnya, senyum pemuda itu merekah, "Itu karena aku menjadikan opsir Smith sebagai panutan, sejak pertama melihatnya aku jadi ingin sepertinya."
"Kau ingin jadi sepertiku?"
George terhenyak, ia langsung mengubah posisi, memperhatikan kedatangan seseorang yang menjadi bahan pembicaraan mereka saat itu. Smith tersenyum, "Kenapa ingin sepertiku, George?"
Remaja 16 tahun itu menggaruk pipinya, "Karena ... aku mengagumi kinerjamu dalam bekerja. Sejak pertemuan pertama kita, Pak."
Smith duduk di sebelah Niels, yang berarti berhadapan langsung dengan George. "Senang rasanya mendengar ada seseorang yang mengagumi orang sepertiku."
Niels memandang keduanya bergantian, ia jadi teringat dengan tujuannya dulu masuk ke kepolisian.
"Aku ke toilet dulu," Niels beranjak melangkah meninggalkan dua orang yang sibuk bercerita, padahal ia juga ingin berbagi kisahnya tentang kekagumannya terhadap Smith. Walaupun dulu, Smith belum mengenalnya.
"Kau datang karena Niels?"
"Ah, tidak juga," George tersenyum lebar, "Saya ... ada janji dengan seseorang."
"Masa remaja yang menyenangkan, pasti seorang gadis yang sangat cantik," goda Smith.
George menggeleng cepat, "Bukan, Pak. Kami hanya teman biasa."
Smith lalu menceritakan tentang seorang gadis yang seusia dengan George, mengatakan bahwa ia sangat menyayangi gadis itu. George membisu, tatapannya tidak bisa ia alihkan sama sekali dari wajah Smith yang tampak bahagia.
"Kemenakanku itu benar-benar butuh perhatian ekstra, aku tak tega melihat ia bersedih."
Seseorang memasuki kafe dengan terburu-buru, rambut ikal panjang berwarna pirang miliknya sedikit berantakan, "George! Maaf terlambat."
Smith dan George menolehkan kepala mereka bersamaan, gadis itu terperanjat ketika melihat seseorang yang ia kenal, "Ah, Paman! Sedang apa Paman di sini?"
George memandang bingung Grace, "Paman?"
Smith tertawa, "Ternyata George ada janji dengan kemenakan tersayangku. Aku jadi tidak khawatir lagi dengan keselamatannya."
Grace tersipu, ia lalu duduk di samping George, menekan tombol dan menunggu pelayan datang, "Sejak kapan kalian berdua saling kenal?"
"Sudah lama sekali," George pun tertawa mendengar jawaban Smith. Pemuda Owens itu lalu menatap Smith dalam-dalam. Nama lengkap opsir adalah Smith Hegner. George tersenyum kecil. Ia akan catat hal itu baik-baik.
"Loh, semuanya berkumpul. Seru sekali." Niels datang dan duduk dengan nyaman. Smith tiba-tiba menoleh padanya, "Kita harus segera pergi. Ada kasus penyelundupan yang harus kita selidiki."
Niels melirik pada dua orang remaja berbeda jenis kelamin yang berdandan rapi di depannya, ia pun tersenyum jail, "Baik, Pak. Ayo pergi. Nah, kalian berdua, selamat bersenang-senang ya."
Smith berdiri, merapikan mantel panjangnya dan memandang kedua orang itu lama, laki-laki itu tersenyum, "George, kuharap kau menjaga kemenakanku dengan baik. Grace adalah gadis yang paling kusayangi."
George tersenyum menawan, "Tentu, Pak. Saya akan menjaga Grace seperti Anda menjaganya."
"Bagus, sering-seringlah ke rumah. Sebab, aku juga tinggal serumah dengan pacarmu itu."
Wajah Grace kembali memerah, "Paman!"
"Berbahagialah, Grace. Semoga kau bisa melupakan kesedihan tentang sahabatmu itu. Kami pergi dulu."
Kedua detektif itu pun berlalu, menyisakan dua orang remaja yang terdiam dengan pikiran masing-masing. Grace melirik George, kuharap ... aku selalu bisa bersama dengannya.
George tersenyum dan menolehkan kepalanya menghadap Grace, "Aku akan melindungimu."
Dan mendapat pengakuan dari Smith Hegner, batin pemuda Owens itu sambil diam-diam menyeringai.
"Terima kasih," gadis itu tersenyum dengan hati yang terus berdebar. Perasaannya yang sempat memudar terhadap pemuda itu, kini muncul kembali.