42. Deduction

1575 Kata
"Heh! Sedang apa kau di sini?" Grace menaikkan salah satu alisnya. Memang apalagi yang bisa dilakukan olehnya di tempat sepi berdebu, selain membawa sekeranjang bola tenis untuk dimainkan saat pelajaran olahraga. "Minggir," ucap Grace datar, tak ingin meladeni gadis di hadapannya. Maria memang sering sekali berbuat ulah. "Aku sedang bertanya padamu," gadis berambut hitam sebatas bahu berkacak pinggang di depan Grace, "Jangan-jangan kau ke sini karena ingin bertemu juga dengan George!" Grace mengembuskan napas panjang. Gadis berisik dan penggemar nomor satu dari putra keluarga Owens memang lah merepotkan. Ia tak habis pikir, kenapa George mau saja didekati perempuan yang bicaranya kasar dan suka seenaknya? "Maafkan aku, Maria. Tapi aku disuruh Mr. Arnold membawa bola-bola ini ke lapangan. Se-ka-rang juga," Grace berucap seraya memberi penekanan pada setiap kata. Maria tersenyum miring, "Kaupikir aku tak tahu ya? Aku tahu kaumembuntutiku tadi, kau ke sini ingin melihatku bersama George, bukan?" Maria menyedekapkan tangan di d**a, mencodongkan tubuh bak modelnya kepada Grace, "Aku akan menjadikan George kekasihku siang ini," bisik Maria dengan senyum kemenangan. Grace berusaha sabar ketika mendengar nama seseorang yang perlahan mengobati luka hatinya dengan perasaan bahagia keluar dari mulut gadis lain. Memangnya dia berhak cemburu? Sedangkan George bukanlah siapa-siapanya, selain teman biasa. Ya, cuma itu. "Aku akan melindungimu." Tergiang ucapan manis George, membuat pipi Grace kembali bersemu merah di saat yang tidak tepat, dan mengundang raut tidak suka dari Maria yang sedari tadi memperhatikan. "Berhentilah berada di sekitar George, aku muak dengan jalang sepertimu yang mendekatinya," desis gadis dari keluarga Morad yang terkenal dengan usaha mebel di kota Porto, kota kelahiran gadis berambut kuning keemasan. Grace memicingkan mata, tidak suka dengan kata-kata kotor yang terlontar dari mulut Maria. Ia langsung menaruh kembali keranjang yang berisikan puluhan bola tenis. "Jaga ucapanmu, Maria." Bukannya menurut, Maria justru mendekat, dagunya terangkat angkuh, "Kalau tidak, kau akan apa, hah? Mengadu ke George? Sayang sekali, dia tidak akan mendengarkanmu." "Aku tidak akan berbuat apa-apa karena kau bahkan tidak mengenal George lebih baik dari aku, dia tak mungkin seperti itu," ucap Grace sedikit berbohong. Gadis di hadapannya ini harus dibuat sadar terlebih dahulu. Maria mendengus, "Aku menyukainya sejak lama." "Aku juga," balas Grace tak mau mengalah. Maria memandang Grace dengan sorot benci, menyampaikan ketidaksukaannya terhadap gadis yang memiliki kulit wajah mulus laksana penggambaran rupa dari sesosok dewi yang menawan. Jujur, ia iri. Padahal Maria sudah menyukai George sejak pertama kali melihatnya. Ia bahkan mau saja mengubah kebiasaan buruk dan penampilannya hanya untuk menarik perhatian laki-laki itu. Namun, ia diabaikan begitu saja. Seolah tak cukup, datanglah siswi baru di kelas mereka dan langsung menarik perhatian George. Padahal Maria juga ingin akrab dengan pemuda yang lebih tertarik dengan aroma buku ketimbang feromon yang dihasilkan wanita. "Sudahlah, Maria. Kau boleh saja menyukai George, aku takkan menghalangimu. Tapi jangan cegah aku berteman dengannya. Dan juga hentikanlah semua kejahatanmu itu padaku," pinta Grace sungguh-sungguh. Bibir Maria bergetar pelan, gigi-giginya saling bergemeletuk di dalam. Darimana Grace si jalang mengetahui perbuatannya? Seingatnya, ia tak pernah mem-bully gadis itu secara langsung. "Aku pergi." Grace mengambil kembali keranjang yang sempat terlupakan olehnya, dan melewati Maria yang bergeming di tempat. Maria diam-diam merogoh isi tasnya, mengeluarkan mesin tato alis yang berbentuk seperti pulpen. Ia dengan cepat menarik lengan Grace, mengakibatkan gadis itu oleng ke belakang dan terjatuh. "Ah!" Otomatis, pegangan Grace terhadap keranjang plastik berisikan puluhan bola tenis meja pun goyah, seketika bola-bola itu berhamburan memenuhi lantai. "Maria! Kau ini kenapa!" sungut gadis yang jatuh terduduk. Pantatnya terasa nyeri. "Berhentilah menyukai George," titah Maria, "atau aku akan menghukummu seperti yang sudah-sudah." Grace langsung berdiri, mendorong pundak gadis di hadapannya beberapa kali, sedangkan gadis itu memasang wajah angkuh. "Apa masalahmu, Maria!" Spontan Maria mengeluarkan mesin tato, bentuknya seperti pulpen namun ketika dinyalakan jarum-jarum tajam di bagian atas akan bergetar hebat dan melayangkannya pada Grace yang sempat menghindar ketika Maria berusaha menusuk matanya. Kemudian berdiri diam mengamati gadis gila di depannya dengan perasaan takut.  "Maria, ini tidak lucu! Benda apa itu?" "Tentu saja lucu, kau harus dihukum." Grace mundur perlahan, menjauh dari Maria yang bisa kapan saja mengayunkan mesin yang tengah menyala itu kepadanya. Alat pembuat tato itu tampak menyeramkan bagi Grace. "Jangan macam-macam, Maria!" "DIAM!" bentak sang gadis, matanya memelototi Grace tajam, sementara Grace berusaha untuk menjaga jarak, "tak ada hakmu untuk berbicara padaku, Grace. Kaupantas dihukum." Maria tiba-tiba maju dan mengarahkan alat itu ke wajah Grace. Grace spontan menepis mesin itu kuat-kuat hingga terjatuh ke lantai. Namun Grace lengah, ternyata Maria mengincar kepalanya. "Aah!" "Lemah sekali," ejek Maria tertawa sombong, ia mengangkat kepala Grace, membuat gadis itu menengadahkan wajah padanya, "kaupikir kau bisa mengalahkan aku?" Grace meringis, rambut-rambut yang tercabut dari kepalanya terlihat di telapak tangan Maria yang tampak menikmati perbuatannya. Tangan Grace terulur cepat meraih tangan Maria yang bisa ia gapai, dan langsung memelintirnya ke belakang. Sekarang, giliran Grace memblokir pergerakan Maria. "Lepas!" "Kau yang memulai semua ini, Mar!" gertak Grace. Ia tidak akan pernah membalas jambakan Maria, itu bukan kebiasaannya. Namun, ternyata Maria cerdik, ia yang memiliki tubuh lebih berisi dari Grace langsung membenturkan diri ke samping, otomatis Grace pun ikut terseret dan terbentur ke dinding. Cengkeraman Grace terlepas begitu saja, hal itu memberi kesempatan pada Maria untuk menjauh, lalu menampar wajah Grace dengan kencang. "Berhenti main-main denganku, Grace! Sudah kukatakan padamu! Kau tak bisa melawanku." Seumur-umur Grace tidak pernah ditampar oleh seseorang, bahkan oleh kedua orang tuanya sekalipun. Sementara Maria dengan mudahnya melakukan hal itu padanya. Tangan Grace mengepal kuat. Maria mengambil alat tatonya, di saat itu pula Grace maju dan menjambak rambut pendek Maria, salah satu tangannya menahan tangan kanan gadis yang terus memberontak. "Lepaskan! Kuberitahu perbuatanmu ini pada George!" ancam Maria, yang semakin menyulut kemarahan Grace. Grace menguatkan pelintirannya, tak melonggarkan tangannya sedikit pun, ia lantas mendorong Maria ke dinding, menabrakkan gadis itu dengan kencang. "Sekarang giliranmu dihukum, Maria." Sorot mata Grace menggelap, dipenuhi dengan kemarahan. Ia menubrukkan kepala Maria ke dinding, tidak cukup sekali, tapi berulang kali. Kening Maria mengeluarkan darah yang mengalir melalui luka yang tercipta karena berulang kali kepalanya ditabrakkan ke dinding beton, namun Grace tidak berhenti. Ia terlanjur sakit hati. Terakhir, Grace menampar wajah Maria dengan keras, menyebabkan gadis itu kembali terbentur ke dinding dan tak sadarkan diri. Seketika itu pula Grace tersadar akan perbuatannya. "A-astaga, apa yang sudah kulakukan?" ia melirik teman sekelasnya yang terbaring di lantai tak sadarkan diri. "Ba-bagaimana ini...." Grace terduduk lemas, tangannya gemetaran. "Apa yang harus kulakukan?" Tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi yang keras, Grace yang panik lantas mencari-cari gawai yang masih terdengar bunyinya, dan ia menemukan ponsel itu dalam tas Maria. Pupil Grace melebar, melihat isi percakapan yang ada di ponsel Maria. Hatinya sakit. "George...."  George melangkah santai menuju gudang lama yang terletak di belakang sekolah, hendak menyusul Grace yang dimintai tolong oleh guru olahraga. Ditambah, ada sesuatu yang harus ia selesaikan. George mengintip pesan terakhir dari seorang gadis. Maria [+529xxxx] : George, temui aku di gudang belakang. Ada yang ingin kukatakan. Harus datang ya. Pemuda Owens itu jelas tahu apa maksud Maria memanggilnya ke gudang siang bolong seperti sekarang. Tetapi, ia tetap memilih untuk mendatangi gadis Morad yang sering merayunya. Lagipula, George tetap tidak akan tertarik pada gadis mana pun. Ia sudah memiliki seseorang yang berarti. Pemuda itu tersenyum. Saat George hendak membuka pintu samping gudang lebar-lebar, terdengar suara teriakan yang disertai bunyi keras sesuatu yang ditubrukkan ke dinding. George mengenal betul dua suara itu. Dengan tenang, George berbalik mencari pintu gudang belakang. Masuk diam-diam tentu menyenangkan, bukan? Pintu belakang yang jauh dari depan gudang membuat George dapat memperhatikan keadaan tanpa takut diketahui oleh orang-orang di sana. Ia berdiri bersandar pada sebuah lemari tua. Grace melihat layar ponsel dengan ekspresi kesal. Maria terang-terangan meminta George untuk menjauhinya. Bahkan gadis Morad itu tak sungkan-sungkan melakukan hal yang tak sepantasnya perempuan lakukan. Dan itu berdasarkan kemauannya sendiri. Menawarkan diri kepada lelaki? Betapa murahnya gadis ini, pikir Grace geram. Di saat gadis berhidung mungil tengah menghapus semua hal tentang George di ponsel sang rival, Maria yang sudah sadarkan diri diam-diam mengambil alatnya. Dan menikam paha Grace. "HUWAAAA!" Gawai milik Maria terlempar sembarang. Grace menatap Maria yang tersenyum cemooh padanya, sedangkan keadaan gadis itu menggelikan. Darah di keningnya masih mengalir. "KAU!" Dengan susah payah Grace mencabut benda kecil menyerupai pulpen yang menancap di paha kanan, rasa sakitnya tak terelakkan. Grace mencoba berdiri dan menghampiri Maria. "Asshole!" ucapnya berulang kali sambil menginjak kepala Maria. "You damn bastard!" Di tempat yang remang-remang, tanpa disadari oleh dua orang gadis, berdiri diam seorang pemuda mengamati. Senyum anehnya mengembang begitu saja. "Good luck, dear." Grace menarik kepala Maria sekuat tenaga, menatap benci gadis itu. "Dengar, luka dibalas luka." Tangannya dengan cepat mengarahkan jarum mesin tato ke wajah Maria, Grace tertawa pahit. "Aku benci semua orang sepertimu, aku benci." "Ayo kita ukir wajahmu." ** George bertepuk tangan seraya melangkah menghampiri gadis yang sedang mengukir bunga di wajah gadis yang tak sadarkan diri. Ia cukup menikmati pertunjukan yang dilihatnya. Grace terperanjat kaget. "George!" Grace langsung melempar benda di tangannya dan duduk bersimpuh di depan George, air mata mengalir turun di pipi tirusnya, "Tolong rahasiakan ini, George! Tolong bantu aku...." George hanya diam membisu, Grace kembali memohon, "Tolong aku! Ini bukan salahku ... sungguh. Maria lah yang memulainya." "Baiklah, akan kurahasiakan." George melangkah mendekati Maria yang tertelungkup di lantai, ia mengambil sebuah botol kecil dan mengeluarkan tablet berwarna hijau dari kantong bajunya, menangkup mulut sang gadis dan memasukkan tablet ke dalam mulut Maria, "Ini berguna untuk membuatnya linglung." "A-apa itu?" George tersenyum, "Tidak perlu tahu. Lihat saja nanti efeknya." Pemuda Owens bangkit berdiri, hendak beranjak meninggalkan Grace tanpa mengingat gadis itu yang tengah terluka. "Tunggu, George!" cegat Grace lantas menghentikan langkah pemuda dengan iris cokelat. Wajah gadis itu memerah. "Aku menyukaimu," ungkapnya setelah sekian lama. "Berpacaranlah denganku, George." George bergeming seraya menatap Grace yang memandangnya seperti gadis-gadis lain. Jelas, bukan ia yang George harapkan. Pikirannya menerawang jauh ke belakang, mengingat pesan seseorang kepadanya. 'George, kuharap kaumenjaga kemenakanku dengan baik' Pemuda itu seketika tersenyum lebar, janji haruslah ditepati, bukan? "Tentu, aku menerima ajakanmu, Grace...." 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN