"Aku tak menyangka George akhirnya berpacaran juga setelah sekian lama."
Tom mengaut pop corn dari mangkuk milik Antonio tanpa izin, lalu memakannya dengan rakus. Tak sepenuhnya mendengarkan perkataan sahabatnya. "HEI! Itu punyaku!" seru Antonio murka.
Tom hanya tertawa, Antonio langsung menyembunyikan makanannya di belakang tubuh. Kedua orang teman George itu sedang menunggu pemuda pemilik nama belakang Owens di ruang tamu. Mereka ada janji mengerjakan tugas astronomi.
"Apa-apaan kalian ini."
George datang menghampiri kedua orang temannya dengan ekspresi dingin, menatap tajam pada kekacauan yang terjadi di ruang tamu rumahnya yang seperti terkena badai. Tom langsung berdiri dan menunjuk Antonio dengan ekspresi serius, "Bukan aku, George. Tapi Toni!"
"Hey, man. Kau berbohong," desis Antonio tidak suka. Bukan perbuatannya, tetapi malah ia yang dituduh.
"Bersihkan," titah George kesal.
Antonio dengan sigap berdiri dan mengambil penyedot debu di belakang lemari. Sedangkan Tom merapikan bantal sofa yang ia jadikan bantalan p****t. George menghela napas panjang, ia menghampiri sofa terdekat dan memghempaskan dirinya di sana.
"Aku ada janji hari ini dengan Grace," ungkapnya setelah dua orang temannya selesai membersihkan ruangan. Tom yang lebih dulu rampung, duduk di samping George. "Bukannya kami ke sini untuk mengerjakan tugas?" tanyanya cepat.
George menyandarkan tubuh tegapnya di sofa berwarna maroon, lalu berucap, "Aku tahu. Tapi apa boleh buat, Grace mendadak ingin bertemu denganku di taman dekat alun-alun kota. Mana bisa kutolak ajakannya?"
"Baiklah, pergi saja," Antonio datang dan duduk di seberang George. "tapi kami berdua ikut dengan kalian," lanjutnya lagi.
"Kami ini kencan. Mengapa kalian berdua mau ikut?" George tidak mengerti mengapa dua orang temannya ingin ikut bersamanya.
Tom dan Antonio sontak tertawa bersama, "Tentu saja untuk menjaga kalian dari penganggu!"
George mendengkus, "Terserahlah, tapi jangan mengekor di belakang kami. Grace tidak suka."
Pemuda Owens itu lalu mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari kantong celana panjangnya, hal itu tak luput dari mata tajam Tom yang selalu penasaran.
"Apa itu, George?" tanyanya ingin tahu.
"Oh, ini...," George menggantungkan ucapan, "hanya untuk jaga-jaga saja. Barangkali kupakai nanti."
Ia tersenyum samar.
**
Grace melihat jam yang melingkar di tangan kirinya yang seputih s**u, menunjukkan pukul tujuh. Hampir sepuluh menit ia menunggu kekasihnya datang ke tempat janjian mereka. Gadis itu kembali melihat riasan wajahnya di layar ponsel.
"Hei, Manis. Sendirian saja?"
Grace menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas tangan warna biru tua, matanya memicing tajam memperhatikan tiga siluet yang perlahan mendekat.
"Siapa kalian?" tanyanya penuh selidik.
"Hoo, kekasih Owens rupanya."
Salah satu dari ketiga orang itu menghampiri Grace yang mundur beberapa langkah. Jalan yang gelap tak dapat membuat Grace mengenali wajah-wajah itu. "Kami selalu melihatmu bersama George Owens, kau kekasihnya, bukan?" tanya salah satu dari mereka.
Grace mulai menyadari situasi. Laki-laki berhidung besar dan mancung itu terkekeh melihat ekspresi ketakutan yang diperlihatkan oleh Grace.
"Apa mau kalian!?" tanya Grace setengah berteriak. Mereka bertiga hanya tertawa.
"Lihat gadis ini, cantik sekali."
"Dia tak pantas dengan si penggila buku itu," sahut salah seorang di antara mereka.
"Badannya bagus juga."
Ketiganya lalu tertawa lagi dengan keras. Jantung Grace berdetak kencang, ia tiba-tiba merasa takut dengan situasi ini. Tangannya mencengkeram tas tangan dengan kuat. Bagaimana cara menghubungi George di saat mendesak? Ia benar-benar ketakutan sekarang.
"Hei, ayo ikut kami bertiga."
Laki-laki dengan mantel kerah tinggi menjilat bibir begitu melihat gadis cantik di hadapannya. Sesuatu di bawah sana mendadak mengeras. Salahkah ia bila ereksi melihat seorang gadis dengan penampilan menarik? "Mari bersenang-senang dengan kami," ajaknya sembari tertawa.
Grace mundur perlahan, "Jangan macam-macam! Atau aku laporkan kalian ke polisi!" ancamnya tegas.
Ketiga lelaki itu hanya tertawa mengejek. Seorang di antara mereka bahkan menirukan cara berbicara Grace. Laki-laki berhidung besar maju, "Memangnya polisi bisa apa? Mereka tidak bisa menangkap kami."
"Ya, kau bahkan tidak mengenal siapa kami bertiga," jawab laki-laki dengan kaos hitam.
Grace menelan saliva. Ini gawat, batinnya cemas.
Gadis itu dengan cepat mendorong laki-laki di dekatnya, dan berlari ke arah pertokoan. Bersyukur dalam hati ia tidak memakai sepatu tinggi. Hanya saja sepatu botnya sekarang, benar-benar tidak nyaman saat dibawa lari.
Laki-laki berhidung besar kembali menjilat bibir. "Kabur ke tempat yang bagus," ucapnya.
Grace berlari ke salah satu bangunan, menuruni tangga dan membuka pintu teralis sebuah studio foto yang sudah tidak terpakai. Kesalahan besar untuknya melarikan diri ke sana.

"KYAAA!" Langkah Grace yang lambat membuat para lelaki m***m itu berhasil menemukannya. "Mau ke mana, Gadis Manis?"
Grace berontak dalam kurungan orang-orang yang berhasil menangkapnya. Air matanya berderai berjatuhan. "Lepaskan aku!" raungnya tak berdaya.
Laki-laki bermantel mendekatkan wajahnya ke Grace, meraih dagu gadis itu dan langsung menciumnya. Melumat bibir ranum gadis yang terus-terusan berontak dalam cengkeramannya dengan rakus.
Mereka melepas seluruh pakaian gadis malang yang terus menangis menutupi tubuh polosnya. Salah satu di antara ketiga orang itu berdiri dan membuka ritsleting celananya.
Grace kembali menjerit.

George memandangi layar ponsel dengan gelisah. Melihat itu, Antonio mendekat. "Ada apa, kawan?" tanyanya memastikan.
"Lokasi Grace mendadak berubah dari tempat kami janji bertemu." George menatap tajam aplikasi yang menunjukkan lokasi terakhir kekasihnya. Ia mendadak khawatir dan waswas.
"Aku duluan!"
George berlari meninggalkan kedua orang temannya menuju tempat janjiannya dengan Grace. Lokasi Grace berubah mengarah ke pertokoan tua. Ada sesuatu yang tidak beres, pikirnya gusar.
George meraba kantong celananya, memastikan ia membawa alat yang sempat ditegur oleh Tom. Amarahnya memuncak.
"KYAAA!"
Teriakan perempuan yang terasa familier di telinga membuat George mempercepat larinya, ia mencengkeram ponsel kuat-kuat. Bertahanlah Grace, batinnya berharap.
Titik yang menunjukkan lokasi terakhir Grace berada di sebuah gedung yang bertuliskan Studio Foto Gerald. Pemuda Owens bergegas masuk ke dalam. Tak jauh di belakangnya, ada dua orang yang mengikuti.
Pintu besi yang ditutup membuat George marah, sekuat tenaga ia menendang benda itu dan berteriak nyaring, "GRACE!"
Netra cokelatnya terpaku sesaat, melihat Grace hampir diperkosa oleh tiga orang laki-laki yang kini memandangnya dengan raut wajah terkejut.
"Ho, Owens sudah datang rupanya." Ketiganya lalu tertawa mengejek.
"Kalian...," geram George. Salah satu dari mereka mendekat, tak ayal George langsung berlari menerjangnya.
George mengayunkan tangan kanannya ke ulu hati orang yang tadi hampir melecehkan kekasihnya, laki-laki itu terkekeh melihat gerakan George yang begitu lamban. Ia dengan mudahnya menghindar.
Bzzzttt!
Namun, ternyata pukulan itu hanyalah pengalih dari serangan sesungguhnya. George dengan cepat mengarahkan alat kejut listriknya ke dagu sang pria yang langsung berteriak kesakitan.
"Hei! Selamatkan Fredy!"
George memukul pria itu menggunakan alatnya sedemikian rupa, dengan luka lecet yang menghiasi rahangnya. Laki-laki bernama Fredy itu terkapar pingsan di lantai. Dua orang temannya bergegas menghampiri. "Fer! Fer! Bangun!"
Laki-laki berkaus hitam menoleh cepat dan menatap nyalang pada George yang menatapnya tak kalah tajam. Kedua orang itu langsung menyergap putra Erick Owens, memeganginya agar tidak berontak.
"Kau ini! Kenapa menyerang orang sembarangan, hah!?" ruangan yang remang-remang menjadikan pandangan di sekitar tidak terlalu jelas terlihat. George berusaha memutar otak, mencari solusi di tengah situasi bodoh ini.
George melirik pria di samping kirinya, tubuhnya lebih kurus dari George. Namun, dia begitu tinggi. Pemuda beriris cokelat lalu melirik ke sebelah kanan. Dibandingkan dengan yang di sebelah kiri, pria di sebelah kanan tampak lebih kecil darinya. Dalam kondisi yang cukup gelap itu, George mengidentifikasi rupa dan ciri ketiga orang yang berani macam-macam dengan anak kemenakan Smith Hegner, seseorang yang ia kagumi.
"GEORGE!"
"Sobat! Apa kau di sana!?"
Antonio dan Tom yang datang menyusulnya, membuat lengkungan tipis di bibir George semakin naik. Setidaknya, ia dapat meringkus ketiga lelaki ini bersama dua orang teman atlet tinju dan karatenya.
Tak berselang lama, ketiga lelaki itu berhasil ditaklukkan. George langsung menutupi tubuh Grace, memeluk gadis itu dan berusaha menenangkannya.
"Aku takut, George." Suara Grace yang bergetar membuat George iba.
"Tenanglah, semuanya sudah berakhir." George menepuk-nepuk punggung kekasihnya. Jika hal ini menganggu Grace dan gadis itu melaporkan kepada Smith, maka George tidak akan pernah mendapat kesempatan lagi dari lelaki itu.
Aku akan melepaskan kalian untuk hari ini, batinnya seraya menatap datar ketiga orang pemuda yang telah ia ketahui identitasnya.
Bersiaplah untuk rasa sakit yang akan kalian jumpai, wahai Kakak Kelas.