44. Revenge

1231 Kata
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini, George?" "Kita sudah mengetahui identitas mereka yang ternyata adalah kakak kelas kita yang sombong. Apa kita harus memberi mereka pelajaran?" "Kita harus cepat mengambil tindakan!" Tom melirik sahabatnya yang tengah menulis sesuatu di buku catatan berwarna kuning. Pemuda Owens tampak begitu menekuni kegiatannya itu tanpa memedulikan hal lain, termasuk ucapan temannya sendiri. "George, apa kau mendengarkanku?" Kesabaran seseorang ada di tingkat yang berbeda-beda, begitu pula dengan Tom yang sudah menunggu mulut George terbuka dan menceritakan masalah yang dihadapi olehnya. Namun, ia hanya diam. Tidak tahukah Tom jika George mendengarkan semua perkataannya sejak awal? Hanya saja, George tengah menyusun strategi balas dendam terhadap orang-orang itu sehingga mengabaikan eksistensinya. "Kau ini selalu bersikap seperti itu! Cobalah bercerita sesekali kepada kami, George! Aku dan Antonio dengan senang hati akan membantumu, kawan!" Tom memang tidak main-main dengan ucapannya. Ia akan dengan senang hati membantu sahabatnya jika sahabatnya itu sedang kesusahan. Dalam hal ini, George sedang kesusahan karena menghadapi kasus kekasihnya yang dilecehkan orang lain, dan itu jelas sangat tidak menyenangkan. "Kau itu memang keras kepala ya! Kami kan sudah bilang kalau-" Perkataan Tom terhenti saat George melemparkan buku ke wajahnya dengan keras. Ketika ia memperhatikan sahabatnya itu, George sedang tersenyum miring. Kebiasaan saat menemukan sesuatu yang menarik. "Coba buka halaman 19, di sana terjawab semua yang akan aku lakukan." George menatap Tom yang sedang membaca catatannya dengan teliti. Ia beruntung dipertemukan dengan dua orang yang kini menjadi sahabat baiknya. Antonio dan Tom dapat diandalkan dalam segala hal yang cukup mudah dilakukan oleh mereka. Salah satunya saat Maria ditemukan pingsan di gudang, dengan luka goresan benda tajam di wajah. George tahu itu adalah perbuatan Grace, karena itulah mereka membuat bukti palsu, sehingga tidak akan ada yang mengetahui bahwa Grace lah penyebabnya. Jika saja Maria tidak sibuk menuduh Grace, mungkin akan ada banyak yang percaya terhadapnya. Tetapi, karena dia membual hal tidak masuk akal mengakibatkan tidak ada satu orang pun yang mempercayai gadis sombong itu setelah apa yang ia perbuat. Tom menyerahkan lagi buku George, lantas menatap tajam sahabatnya, "Ganti saja rencanamu, George. Ini mengerikan." Kening George berkerut bingung. Bagian mana yang mengerikan? "Tidak bisakah kita menggunakan ini saja?" Tom langsung menggeleng. "Jelas tidak bisa. Aku tahu perasaanmu, hanya saja ini terlalu mengerikan untuk sekadar balas dendam semata. Kau berniat menyakiti hingga membunuh mereka?" tanyanya dengan serius yang dibalas anggukan oleh George. "Tch! Ubah saja! Kau pikir penggunaan Kloroform itu dapat diterima semua orang? Lalu, apa-apaan rencana menyakiti mereka ini!" Tom menatap ngeri buku catatan berisi daftar rencana menyakiti tiga orang berandal yang dibuat oleh sahabatnya. Ia tadi melihat dengan jelas kata memukul, darah, dan pingsan. Bukan kata-kata yang menyenangkan. George mendesis. "Tak ada yang mustahil. Kita perlu membius mereka dengan cairan ini. Ayolah, jangan payah, Tom!" sungutnya tak habis pikir dengan Tom. "Kau gila? Kloroform itu sudah dilarang penggunaannya! Ia dapat merusak ginjal dan liver seseorang. Mari ubah rencana kita, George!" Tom tetap bersikeras. "Kau tidak mengerti rasanya," ucap George, ekspresinya dingin. "Ini bukan masalah biasa, Tom! Grace diperkosa! Kekasihku hampir dinodai orang lain, dan kau pikir aku keterlaluan membalas mereka semua?" Tom menghela napas panjang, ia lalu tersenyum simpul kepada sahabatnya. "Aku mengerti, Kawan. Bahkan, jika aku di posisimu maka aku akan melakukan hal persis seperti itu. Tapi, tolong jangan membahayakan dirimu sendiri." "Kita ganti ke rencana yang menggunakan otak, tanpa fisik sama sekali," ia masih berusaha membujuk George untuk tidak mengambil keputusan yang gegabah dalam situasi sekarang. George mendengkus, mengabaikan kebaikan hati yang ditawarkan padanya. "Apa yang berbahaya? Justru yang kulakukan ini sudah benar! Kau tidak melihat para penjahat di luar sana yang hanya diberikan hukuman ringan dan terlalu biasa?" "Bagaimana dengan kasus pemerkosaan yang menimpa gadis seperti Grace? Korupsi seperti salah satu Kepala Polisi di daerah Barat? Mereka dengan mudahnya lolos begitu saja! Kau tidak melihat para korbannya yang berusaha bangkit? Yang berjuang menegakkan keadilan? Negara ini patut dibedah kembali hukumnya! Jangan kau samakan dengan negara asalmu, Tom." Negaranya berbeda dengan negara bebas seperti tempat kelahiran Tom. Di dunia George tak ada yang benar-benar adil. Ia bergegas mengemasi barang-barangnya yang berserakan di atas meja. Setelah memberikan pencerahan kepada sahabatnya-Tom, George harus pergi menemui Grace. Sebelum itu, George menyempatkan diri menoleh kepada Tom, "Aku akan melakukan semuanya sendiri, dengan atau tanpa bantuanmu ataupun Toni." Kemudian pemuda itu pergi dengan langkah yang terburu-buru. Tom hanya menghela napas panjang, kesulitan dengan George yang sulit sekali diberi arahan ketika sudah dilanda emosi. Pemuda Owens itu terkadang tidak bisa berlaku bijak. "Semoga berhasil, Kawan." ** "Grace, buka pintu." George mengetuk-ngetuk pintu kayu yang diwarnai abu-abu gelap dengan sedikit tidak sabaran. Sebab, sudah sejak 30 menit yang lalu sang kekasih belum membukakan pintu. Sedangkan, ia sedang berada di depan kamarnya menunggu. Kejadian mengerikan yang menimpa Grace memang akan sulit sekali dilupakan. Mengingat fakta jika gadis cantik itu hampir terenggut masa depannya oleh para penjahat kelamin yang berengsek. Belum lagi jika orang-orang tersebut berniat buruk, membunuh misalnya? George tidak bisa membayangkan hal itu terjadi pada Grace jika ia terlambat menolongnya. Entah ekspresi seperti apa yang akan ia perlihatkan kepada Smith yang marah. Ia tahu bahwa polisi panutannya itu sangat menyayangi kemenakannya tersebut. "Grace, cepat buka. Ada yang ingin kubicarakan." Tidak ada tanda-tanda Grace akan membukakannya pintu. Tetapi, George yakin, gadis itu mendengar semua ucapannya dari balik pintu kokoh yang terbuat dari kayu mahoni. "Keluarlah sebentar. Mari bercerita denganku." "Pulanglah, George. Aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun sekarang." George tertegun diam, meski begitu, tak ada ekspresi yang ia tampilkan. Ia menyedekapkan tangannya, sembari mengetuk lantai menggunakan kaki kanan hingga menimbulkan bunyi dengan ritme yang beraturan. "Keluarlah, sesekali kau harus menghirup udara sehat. Tidakkah kau merasa jenuh di dalam?" Grace kembali bungkam dari balik pintu, membuat George menghela napas lelah. Gadis yang berstatus sebagai kekasihnya sejak insiden di gudang belakang sekolah, memang sangat keras kepala. Lelaki itu mengetuk pintu kamar sang gadis dengan hati-hati, "Ketika kau sudah siap keluar, hubungi aku, Grace."  George meraba permukaan pintu, kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan pintu yang masih tertutup rapat, tidak mengetahui jika gadis yang ingin ia temui tengah menahan isak tangis dari balik pintu yang berdiri kokoh. "Maafkan aku, George," bisiknya lirih. "Aku merasa tidak pantas bertemu dengan siapa pun setelah kejadian yang kualami waktu itu. Termasuk dirimu ...." Grace yang duduk di depan pintu kembali memeluk lutut, menangis dalam diam. ** George berdiri di depan jendela lantai dua rumahnya. Ketenangan yang dulu sempat hilang kini telah kembali hadir dalam hidupnya yang sempat bising karena suara anak-anak yang menganggu. Keningnya berkerut dalam, ada banyak hal yang sedang ia pikirkan sekarang. Salah satunya adalah cara untuk membalas perbuatan buruk orang-orang berengsek terhadap Grace. Gara-gara mengikuti perkataan dua orang sahabatnya, George harus susah-susah membuat rencana yang pada akhirnya ditolak juga oleh Tom. Ia tak habis pikir. Kenapa ia mau saja menuliskan rencananya dan memperlihatkan kepada anak itu? Jelas dialah yang lebih mengerti dirinya sendiri. Tak ada orang lain yang bisa mengerti dia sebagaimana dirinya sendiri. Memang terdengar rumit. Namun, bagi George, dunianya adalah dunia yang tidak termasuk orang-orang lain di dalamnya. Ia menghela napas dengan perasaan gusar menggelitik di d**a. Masa kecilnya kembali muncul di saat-saat sunyi melanda, menghalau segala kebahagiaan sesaat yang sering ia lakukan di kala senggang. Jujur, ia benci dengan semuanya. Haruskah ia kembali mencari kesenangan baru? George mengambil ponsel pintarnya, menyelisik catatan-catatan yang ia simpan rapi di penyimpanan benda tipis dan kecil, mengamati daftar rencana yang telah ia tulis untuk masing-masing orang yang terlibat. Ketiga orang itu adalah Kendall Robertson, Jerome Keith, dan Matthew Shaw. Identitas mereka semua telah diketahui oleh George, dan ia bersumpah tidak akan melepaskan mereka begitu saja. George menggenggam erat ponselnya, menatap tajam tanah kosong di seberang rumah. Kali ini, akan ia pastikan ketiga orang itu menghamba di bawah kakinya!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN