Seingat George, Jerome Keith adalah pemuda sombong yang masuk ke klub sepak bola pertengahan bulan Mei lalu, di saat yang bersamaan dengan masuknya dia ke klub yang diketuai oleh seorang Kendall Robertson. Pemuda yang juga masuk dalam daftar orang buruannya.
Kesimpulannya setelah meneliti sikap dan sifat Jerome selama beberapa minggu terakhir adalah, pemuda itu besar dalam keluarga biasa. Namun, gaya hidupnya bermasalah. Ia adalah seseorang dengan pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup.
Singkatnya, Jerome adalah pengikut setia dari hedonisme.
Dia terbiasa menggunakan barang mewah, mulai dari sepatu, celana, ikat pinggang, jam tangan, bahkan jaket dan kendaraan yang ia naiki pun semua bermerek dan mahal.
Dari kabar burung yang sempat George dengar, Jerome akan membeli mobil sport. Jika ini merupakan keberuntungan, maka George dengan senang hati mengucap syukur sebab ia akan meminta mobil baru kepada orang tuanya.
Sedangkan mobil lamanya akan ia jual kepada Jerome. Sekaligus, menjebak pemuda yang waktu itu mengenakan kaus hitam.
Jika saja George tidak memberitahu rencananya kepada Tom, mungkin pelaksanaannya sudah dimulai sejak minggu pertama atau tiga hari berselang sejak kejadian yang menimpa Grace. Hanya karena tidak ingin Tom menyadari perbuatannya, maka George berusaha mengulur waktu. Beberapa bulan cukup untuk mengawasi mereka bertiga.
"Kau memaafkan mereka?!"
Antonio berseru tidak percaya dengan apa yang ditangkap rungunya. George berniat memaafkan orang-orang yang sudah menodai Grace? Bukankah itu gila?
"Aku memang memaafkan mereka, tapi tidak dengan perbuatannya." George tampak tak acuh dengan ekspresi syok Toni. Dia lebih memilih menatap layar ponselnya yang menampilkan website penjualan senjata ilegal.
Toni berdecak. Memang kejadian itu sudah lewat, dan Grace pun sudah pulih dari ketakutannya terhadap dunia luar, meski harus tetap didampingi oleh orang yang dapat dipercaya.
Tetapi, ini berbeda. Pelaku pelecehan seksual seperti tiga orang kakak kelas mereka akan bersikap leluasa dan tidak akan menyadari kesalahan mereka. Ketiganya tidak akan merasa bersalah terhadap apa yang mereka perbuat. Mereka bertiga harus dibuat jera.
"Tapi, George—"
"Tenanglah, Ton. Apa yang kupilih adalah yang terbaik."
George tersenyum. Tentu saja semua yang ia pilih telah ia pikirkan baik-baik. Termasuk konsekuensinya. Berkat adanya Toni dan Tom—dua anak orang paling berpengaruh di kotanya, maka dia tak perlu merasa risau rencananya akan gagal.
George akan menjalankan rencana ini dengan baik.
**
"Owens sepertinya telah memaafkan perbuatan kita."
Kendall menyalakan rokoknya, lantas mengisap benda yang terbuat dari tembakau pilihan itu dengan nikmat, kemudian menanggapi perkataan Matthew, "Maksudmu, saat kita menggoda kekasihnya?"
Matthew menggangguk pelan, "Ya, kejadian beberapa bulan yang lalu."
Jerome terkekeh mendengar ucapan sang sahabat, "Orang gila macam apa yang memaafkan kita, heh?"
Ketiga lelaki itu lalu tertawa sarat dengan ejekan. Sejak pertama kali melihat putra keluarga Owens di klub sepak bola, mereka sudah menargetkan George menjadi sasaran kejailan di tahun kedua mereka.
Mereka kesal dengan pemuda itu, sebab George tidak pernah mengikuti latihan klub dan di saat anggota klub lain berkumpul untuk membahas pertandingan dan kegiatan klub, dia hanya menghabiskan waktunya dengan membaca buku di bawah sebuah pohon.
Sungguh tak ada niat untuk masuk ke dalam perkumpulan mereka. Hal itulah yang menyebabkan George menyendiri, ketimbang berkumpul melakukan hal yang kurang menyenangkan.
Lalu, apa tujuanmu masuk ke klub, George?
**
Beberapa bulan sebelumnya ....
"Kau janji akan masuk klub, kan?" Grace menunjuk George dengan telunjuk panjang yang kukunya diwarnai merah darah. Begitu mengkilat.
Ia menatap tajam sang kekasih. "Bukankah aku pernah bilang, George? Kalau aku masuk klub pemandu sorak, maka kau harus masuk klub sepak bola!" ucap Grace kesal.
"Meski aku tidak suka sekalipun?" George jengah dengan setiap kicauan yang keluar dari mulut gadis di hadapannya. Ia tak habis pikir, mengapa waktu itu dia menerima Grace sebagai kekasihnya?
Dia tak mengetahui fakta jika berpacaran akan membuatnya merasa dikekang dan diintimidasi seperti sekarang. Seharusnya, George bertanya terlebih dahulu kepada Tom yang ahli soal masalah ini.
"Ya, tentu saja! Pokoknya, aku ingin kau segera masuk ke klub!"
"Baiklah, aku akan masuk!" Tak ada pilihan lain, selain menuruti perkataan sang kekasih jika tak ingin diadukan ke pamannya gadis itu, Smith.
"Jangan salahkan aku jika aku hanya bermain-main di klub."
**
"Hah, menggelikan! Masuk klub karena disuruh seorang gadis." Kendall yang telah menghabiskan rokoknya langsung membuang puntungnya ke lantai, dan menginjaknya dengan kuat. "Dia benar-benar bodoh!" ejek sang ketua klub sekali lagi.
Jerome ikut menginjak-injak sampah yang beberapa saat lalu masih diisap dengan nyaman oleh sang sahabat, kini benda yang tersisa setengah itu telah hancur di bawah kakinya.
"Kita lihat ke depannya, bila dia masih bersikap seperti itu, maka kita harus mengeluarkannya dari klub!"
**
George menemui seorang lelaki di sebuah kafe dekat sekolahnya. Ia mengenakan kaus putih dengan gambar band rock terkenal, dengan jaket berwarna hitam yang eksentrik. Tidak cocok dengan penampilannya sehari-hari.
"Kau tidak keberatan dengan harganya?" tanya orang asing di hadapan George, pemuda Owens hanya mengangguk kecil. Suatu tumpukan uang tidak bisa mengalahkan kepuasan pribadi.
"Baiklah, aku setuju dengan tawaran ini, Tuan." Lelaki bertubuh besar dengan kisaran tinggi 191 cm menyodorkan tangan kanan, mengajak George bersalaman. Bukti mereka menyetujui perjanjian.
George menerimanya dengan senang hati. "Aku akan mengirim instruksinya kepadamu. Jangan memulainya sebelum aba-aba dariku," bisiknya pelan yang dibalas anggukan oleh sang lelaki asing.
"Baiklah, jalankan tugasmu. Semoga harimu menyenangkan." George menyeringai setelah mengucapkannya.
Ketika lelaki yang ia temui sekitar 15 menit yang lalu beranjak pergi dan hilang dari pandangan, George langsung memeriksa ponsel yang sempat ia abaikan ketika diskusinya berjalan.
Ada 27 pesan masuk, dan 3 panggilan tak terjawab di ponsel yang telah ia atur dalam mode getar. Semua dari Grace.
George mendengkus, "Tidak bisakah gadis berisik ini tidak menggangguku sekali saja? Padahal pekerjaan ini untuk dirinya juga."
Monolognya terhenti ketika sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponselnya. Dari Mr. An. Seulas senyum terpasang di wajah Geogre yang rupawan.
"Kerja bagus, Mr. An." Dia langsung mengetik pesan balasan kepada sang eksekutor pertama.
Tangkap, dan bawa mereka ke bangunan tua yang berada di pelosok hutan yang terletak di kota B. Aku akan menunggumu di sana.
**
"Gadis tadi payah! Berapa kau menyewanya?" Jerome meneguk minuman bersoda dalam kaleng miliknya. Matanya merah, dan sesekali mulutnya mengeluarkan sendawa dari perutnya yang tampak buncit.
Kendall mengedikkan bahu, wajahnya merah padam, "Aku tidak menyewanya. Dia sendiri yang menawarkan diri kepada kita."
"Tch! Jangan mau jika ada lagi gadis yang mendekati kita."
Ketiga orang dengan paras tampan, serta gaya yang cukup memukau berjalan sempoyongan di pinggir jalan. Mereka dalam keadaan mabuk, dan kekenyangan setelah pulang dari pesta.
Matthew yang paling parah, dia bahkan menabrak tiang listrik dan membuat kedua orang temannya memarahi pemuda mabuk itu.
Sore hari yang cukup cerah seharusnya tidak mereka digunakan untuk sekadar mabuk-mabukan dan berpesta pora. Akibatnya, ketiga orang lelaki itu melupakan mobil mewah mereka yang terparkir di rumah sang pembuat acara dan berjalan pulang ke rumah dengan jalan kaki.
Bahkan, matahari sudah semakin tenggelam dan ketiganya masih berjalan di luar dalam kondisi mabuk berat.
Alkohol dan akal sehat, laksana minyak dan air. Tidak akan pernah bersatu di suatu waktu yang bersamaan.
Matthew, Jerome dan Kendall berjalan lambat, tanpa mengetahui jika ada yang tengah mengawasi mereka dari dalam mobil yang membuntuti ketiganya secara perlahan.
Mobil merah itu berhenti di samping tiga orang laki-laki yang mabuk, kepala seseorang dengan masker di wajah menyembul keluar. "Butuh tumpangan?" tanyanya ramah.
Jerome yang cegukannya tidak berhenti, terang saja langsung mengangguk dan memasuki mobil tanpa pikir panjang. Sedangkan Kendall dan Matthew tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya masuk juga ke mobil sedan tersebut.
"Bawa kami ke komplek perumahan kami," ucap Kendall tidak jelas. Dua orang lelaki asing yang memberi tumpangan hanya tersenyum tipis di balik masker.
"Laksanakan, Tuan."
**
"Ketiganya dalam keadaan tertidur pulas."
George tersenyum senang menatap tiga mangsanya yang berada di kursi belakang mobil milik salah satu anak buahnya. Ia buru-buru menunjuk bangunan di belakang tubuhnya, lantas berkata. "Ikat, dan bawa mereka ke dalam!"
Lelaki bermasker hitam mendengkus berulang kali, ia buru-buru melepas kain penutup mulut dan hidung, lalu menyimpannya di kantong. Seorang lainnya mengikuti.
"Kau juga ikut, George! Aku dan Tom sudah sangat kelelahan karena seharian ini bekerja untukmu!"
George tertawa kecil mendengar ucapan sang sahabat. Dia benar-benar berterima kasih kepada mereka berdua yang telah membantunya menangani tiga hama pengganggu. "Baiklah, Mr. An. Kalian berdua bekerja dengan sangat baik. Terima kasih."
Antonio menyunggingkan senyum tipis. Apa yang tak mungkin ia berikan kepada sahabatnya itu? Berkorban pun, ia rela.
"Sama-sama. Sekarang, ayo jalankan rencanamu, Tuan Genius!"