46. He is Maniac

1406 Kata
Smith membuka koran harian yang baru saja dibelinya dari tetangga sebelah. Ia membelinya karena penjual koran langganannya tidak datang di hari Rabu yang cerah, dan Smith tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Lelaki berbibir penuh dengan tanda lahir kecil di bagian atas bibirnya senang menikmati berita terbaru yang disajikan beberapa lembar kertas tipis beraroma unik bernama koran. Juga ditemani oleh secangkir kopi dan kicauan burung yang menyambut pagi. Suara derap langkah kaki membuyarkan konsentrasi sang pencinta semua hal yang berkaitan dengan misteri. Smith menoleh, dan seketika tersenyum tipis. "Kau merasa lebih baik hari ini?" tanyanya kepada seseorang yang bergerak menghampirinya di ruang baca. Gadis berambut pirang yang tiba di ruangan itu membalas senyuman paman yang merawatnya. Ia mengangguk kecil, "Sudah lebih baik, Paman Smith. Bukankah beberapa hari yang lalu aku sudah memberitahumu?" Smith tertawa mendengar ucapan anak dari saudaranya, ia buru-buru melipat koran dan menatap gadis yang masih berdiri di dekatnya dengan lekat. "Baiklah. Ayo, Paman antar ke sekolah." "Tidak usah, Paman!" Grace menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepat. "George akan menjemputku sebentar lagi," ucapnya menerangkan. "Apa dia benar-benar bisa menjagamu?" tanya Smith penuh selidik. Dia tahu George mampu, tetapi karena pemuda itu sempat lengah terhadap Grace, akibatnya gadis itu mendapat musibah yang membuatnya mengurung diri beberapa hari di kamar. "Paman tenang saja, George bisa dipercaya!" ucap Grace dengan yakin. Kesungguhan Grace terhadap George, membuat Smith mempercayai pemuda yang menjadi kekasih dari keponakannya itu. "Baiklah, Paman percaya padanya." Bunyi klakson mobil yang ditekan berkali-kali, menghentikan interaksi keduanya. Grace berlari menghampiri jendela dan mengintip ke luar. Senyumnya dengan cepat mengembang. "Paman, Grace berangkat dulu!" "Baiklah, hati-hati di jalan." Smith membalas lambaian tangan Grace. Ketika tak terlihat lagi sosok sang gadis dari balik pintu, Smith kembali membuka koran yang sempat ia abaikan kehadirannya. Tiba-tiba, ponsel lelaki yang kini memiliki janggut tipis di wajahnya berdering dengan nyaring. Secepat mungkin Smith meraih benda tipis yang ia taruh agak jauh darinya. Netranya membesar tatkala melihat nama sang penelepon. "Halo?" sapanya lirih. Seketika kabar yang Smith dengar, meruntuhkan dinding kebekuan yang selama ini ia bangun dengan baik. ** Bangunan yang tersembunyi jauh di kedalaman hutan lindung tampak berdiri kokoh, meski telah diterjang berbagai cuaca. Bangunan yang sebelumnya digunakan untuk meneliti hewan-hewan penguni hutan, dan spesies tanaman langka ini memiliki banyak ruangan di dalamnya. Salah satu ruangan terbesar di sana, digunakan oleh George Owens untuk mengamati tiga objek yang telah ia awasi selama beberapa bulan. Bagi pemuda itu, ketiganya adalah spesimen terbaik yang pernah ada di laboratorium. Tiga tabung besar yang terbuat dari kaca tebal, berada di tengah-tengah ruangan yang juga dipenuhi dengan tabung-tabung kecil hasil penelitian sang ilmuwan muda yang kini berdiri diam, menatap salah satu objek di dalam wadah air berbentuk bumbung. Selang-selang panjang terhubung di benda itu. George tersenyum miring, menatap sosok yang berada di dalam tabung berisi air. Mata Kendall Robertson terlihat terpejam, dengan mulut yang dipasangi selang. Tubuhnya meringkuk di dalam, dengan banyaknya selang yang juga terhubung di tubuhnya yang polos. Efek Propofol yang sempat George suntikkan kepada mereka masih tersisa satu jam, dan George masih berusaha mengumpulkan data-data biologis sebagai bahan penelitian yang baru saja ia peroleh, hasil dari mengawasi tiga orang di hadapannya selama seharian penuh. George menatap catatan yang sedari tadi ia genggam. Ia cukup berhasil menguji coba beberapa penemuan barunya kepada tiga orang 'pasien' yang sedang tidak sadarkan diri. Tanpa diketahui oleh Tom dan Antonio. Suara sepatu yang beradu dengan lantai, menarik perhatian George. "Dasar, maniak. Kau berdiri terus seharian demi mereka, huh?" tanya orang tersebut dengan nada mengejek. Tanpa perlu melihat sang pelaku, George lebih memilih mendekati subjek penelitiannya. "Kau belum makan, George. Aku dan Tom tadi ke pusat kota untuk membelikanmu fast food. Cepat datangi Tom ke ruang sebelah!" Antonio menyusul George yang terlihat sedang mengitari tabung yang berisi seorang Jerome Keith di dalamnya, lelaki yang sering mengatakan hal buruk kepada sang pemuda Owens. George meraba permukaan kaca yang terasa dingin di pori-pori kulit tangannya. Kali ini, George akan bersikap lunak. Dia tidak akan menyakiti mereka secara langsung. Mereka bertiga hanya akan diberi sejenis obat berupa Rohypnol, tepat saat efek obat biusnya telah habis. "George!" "Antonio, coba jelaskan lagi tentang Rohypnol. Obat yang akan kita gunakan kepada mereka." George tiba-tiba bertanya ketika Antonio hendak menepuk pundaknya. Toni terdiam sejenak, memikirkan jawaban sang sahabat. "Yah, Rohypnol adalah sejenis flunitrazepam (benzodiazepin), semacam obat penenang yang sangat mirip dengan valium (diazepam), tetapi jauh lebih kuat pengaruhnya." Antonio melirik George yang tersenyum kecil. "Teruskan, apa pengaruhnya?" George tampak menyukai pembahasan ini. Antonio berdeham sekali, sebelum kembali menjawab, "Obat ini menghasilkan efek penenang, lupa ingatan, relaksasi otot, dan perlambatan respon psikomotor." Tiba-tiba saja George tertawa. Mula-mulanya ia tersenyum lebar menampakkan gigi-gigi rapi dan kecil miliknya, lalu tak lama kemudian, senyumnya berganti menjadi tawa keras yang terdengar menakutkan. Inilah yang membuat George memberikan Rohypnol kepada tiga orang penjahat kelamin yang berani macam-macam terhadap Grace. Kecil, tetapi menakutkan. Harga dari Raped date pill—nama lain Rohypnol yang biasa digunakan oleh pemakainya—relatif cukup murah. Namun, di balik harga yang murah, ternyata obat ini sangat berbahaya. George tak peduli dengan nominal uang yang harus ia keluarkan untuk membalas perbuatan kakak kelasnya. Toh, hanya berkisar 1 sampai 5 dollar saja. "Kenapa kau bertanya lagi, George? Bukankah kau yang menyuruh kami menuangkannya ke minuman mereka sewaktu di bar?" Antonio mendengkus kesal. George menyeringai, "Hanya memastikan pengetahuanmu saja, Sobat." Perkataan George membuat Toni berdecak, "Tch! Kau pikir aku bodoh? Aku tahu Rohypnol itu adalah pil kecil yang bisa larut dengan mudah ke minuman korban. Bahkan pil ini dapat larut dalam minuman alkohol maupun non-alkohol dengan tidak meninggalkan bau dan rasa!" "Tidak berbau dan berasa," ralat George. Toni mendengkus sekali lagi, "Artinya sama saja, George!" Antonio mengetuk-ngetuk kaca yang melindungi tubuh telanjang Jerome dengan sepenuh tenaga, memperlihatkan kekesalannya kepada sang sahabat, "Dengar ya, George!" "Awalnya, Rohypnol menyebabkan relaksasi otot, pusing, dan sakit kepala, lalu memperlambat respon psikomotor seseorang, dan menurunkan segala hambatan. Korban mungkin mengalami kesulitan bergerak atau berbicara." "Korban juga akan mengingat efek obat sebagai perasaan 'mabuk.' Dengan kata lain, karena pengaruh alkohol yang mereka minum, maka efeknya akan semakin terasa!" Antonio menaikkan volume suaranya, mengundang decak kagum George. "Aku juga tahu Rohypnol ini dikenal dapat menyebabkan amnesia, George! Jadi, jangan pikir aku tidak tahu apa-apa ya!" tukas Antonio mengakhiri penjelasan panjangnya, George bertepuk tangan sebagai bentuk apresiasi atas kekesalan sang sahabat dalam menjelaskan. Tentu saja, menghilangkan ingatan seseorang bukanlah idenya. Ide George tentu tidak akan semudah ini. Demi menjalankan rencana, George mengalah dan meminta bantuan kepada Antonio dan Tom. Mereka berdua setuju untuk membantu, tetapi dengan syarat, bahwa George hanya boleh menggunakan rencana mereka. Sebenarnya, George hampir menolak lagi usulan para sahabatnya, tetapi mengingat apa yang ia lakukan ini memerlukan tenaga dan bantuan orang lain, akhirnya ia memilih setuju. Meski di awal menolak, tetapi berkat keduanya, George berhasil memperoleh sumber inspirasi. Ia membawa Jerome, Kendall dan Matthew yang pingsan ke bangunan tua yang pernah ia jadikan markas selama meneliti hutan lindung terbengkalai di kota B. Menjadikan mereka kelinci percobaan dari obat bius yang selama ini ia teliti manfaat dan efek sampingnya, yaitu Propofol. "Kau ada bertemu dengan Profesor gila itu lagi, George?" tanya Antonio secara tiba-tiba di saat George sedang melamun sejenak. Lelaki bersurai cokelat hanya mengangguk singkat. "Apa katanya tentang Propofol? Obat yang tadi kau suntikkan ke mereka? Kau tidak memasang dosis tinggi, kan?" George tersenyum simpul mendengar pertanyaan lelaki bermata biru cerah yang berdiri di sampingnya. "Dia hanya mengatakan, Propofol adalah obat yang digunakan dalam proses pembiusan ketika seseorang akan menjalani tindakan pembedahan. Tetapi, penggunaan yang salah dapat membahayakan. Itulah yang aku caritahu." "Maniak!" sungut Antonio, meski begitu, dia bangga mengenal George. Putra pasangan Owens mengerling genit, membuat Toni langsung memukul kepalanya. George tertawa, "Seandainya kau tidak memberitahuku tentang mereka yang mengalami kejang dan gangguan pernapasan, mungkin sampai sekarang, mereka tidak akan kuberi selang oksigen." Antonio merotasikan matanya, jengah mendengar ucapan pria kelewat pintar seperti George. "Lalu? Ternyata, kau baik hati juga karena memasangkan mereka alat pernapasan." George tertawa, kali ini lebih keras. "Salah, Antonio Parker," tukasnya menyanggah maksud sang sahabat, "justru karena mereka mendapat efek samping dari obat tersebut, aku menjadikan mereka subjek penelitian terbaruku." George memberikan catatan risetnya kepada Antonio, ia lalu bersedekap. "Mereka bertiga adalah subjek penelitian yang paling menjanjikan di tahun ini." Pria dengan mata sebiru lautan mendecih, dan melempar catatan George sembarangan. Tidak peduli jika pemiliknya marah. "Dasar gila! Jangan jadi dokter, George!" Mata lelaki yang namanya disebutkan oleh Toni terpejam rapat, menyembunyikan iris cokelat teduh yang sewarna dengan surai lembut di kepalanya. George tersenyum penuh arti. "Tentu saja tidak, aku menginginkan hal lain, Ton." Matanya kembali terbuka, kali ini menampilkan kilat penuh hasrat dan gairah, yang sarat dengan kelicikan. Tak ada yang tidak mungkin yang bisa ia lakukan. George pasti akan melewati semuanya. "Kau pasti akan terkejut dengan apa yang aku pilih nanti, Sobat. Tunggu saja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN