Pagi itu datang dengan ritme yang mulai terasa berbeda. Tidak ada lagi keheningan yang sepenuhnya canggung, namun juga belum berubah menjadi kehangatan yang utuh. Arman sudah duduk di ruang makan dengan laptop terbuka di depannya, berusaha tenggelam dalam pekerjaan. Namun pikirannya tidak benar-benar ada di sana. “Aku harus tetap fokus.” gumamnya pelan, meski matanya tidak benar-benar membaca layar. Beberapa saat kemudian, Nindya keluar dari kamarnya dengan tas di tangan. Langkahnya tenang, namun ekspresinya menunjukkan bahwa ia sudah mempersiapkan sesuatu di kepalanya. “Kamu berangkat sekarang?” tanya Arman tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Nindya mengangguk. “Iya, hari ini ada rapat guru.” Arman akhirnya menutup laptopnya perlahan. “Aku antar,” katanya singkat. Nindya terdia

