Malam Terakhir Seorang Istri
“Kamu tahu kenapa aku masih membiarkanmu tinggal di rumah ini?”
Suara Arman terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Nada yang sama seperti setiap kali ia berbicara pada Nindya selama lima tahun pernikahan mereka.
Nindya berdiri di ruang tamu, kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Matanya menatap lantai marmer yang dingin, menghindari tatapan dua orang di hadapannya.
Arman berdiri bersandar di sofa, sementara Ratna, perempuan yang selalu ia kenal sebagai “teman lama”….duduk santai di sana, seolah rumah itu memang miliknya.
“Karena aku kasihan,” lanjut Arman. “Kamu tidak punya siapa-siapa.”
Ratna terkekeh pelan. Tawanya terdengar manis, namun penuh ejekan. Ia berdiri, melangkah mendekat ke arah Nindya, lalu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Kasihan?” Ratna mengulang kata itu dengan senyum tipis. “Arman terlalu baik padamu, Nindya. Kalau jadi aku, sudah lama aku pergi dari rumah ini.”
Nindya mengangkat wajahnya perlahan. Dadanya terasa sesak. “Aku istri sah Arman,” katanya lirih, suaranya hampir tenggelam.
Ratna tertawa lebih keras kali ini. “Istri?” Ia melirik Arman. “Apa kamu pernah merasa punya istri?”
Arman tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, sikap yang sudah sangat Nindya kenal. Diamnya Arman selalu lebih menyakitkan daripada kata-kata kasar.
“Kamu tahu apa bedanya kamu dan aku?” Ratna kembali bicara. “Aku dicintai. Kamu hanya… status.” Kata-kata itu menghantam Nindya tepat di d**a.
Di saat yang sama, di kota lain, tahun yang berbeda. Hujan turun dengan deras. Lampu-lampu mobil memantul di aspal basah. Nadia Gayatri menggenggam setir mobilnya erat-erat. Matanya terasa perih, kepalanya berdenyut hebat. Jam di dashboard menunjukkan hampir tengah malam.
Empat jam tidur. Seperti biasa.
“Aku harus sampai rumah…” gumam Nadia, mencoba fokus.
Lampu lalu lintas terlihat berbayang. Tangannya gemetar saat menginjak rem. Pandangannya mengabur, seolah dunia berputar pelan namun kejam.
Di rumah itu, Ratna melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Kamu tahu, Nindya,” katanya manis, “Arman hanya menunggumu pergi dengan cara baik-baik.”
Nindya menatap Arman, matanya memerah. “Aku tidak pernah selingkuh,” katanya. “Aku tidak pernah melakukan apa pun yang kalian tuduhkan.”
Arman akhirnya menatapnya. Tatapan dingin, asing. “Tidak penting,” jawabnya singkat. “Yang penting, aku tidak ingin bersamamu lagi.” Kalimat itu terasa seperti vonis.
Di jalan raya, Nadia tiba-tiba merasa dadanya nyeri. Kepalanya berdenyut semakin kuat.
“Kenapa… sekarang…” bisiknya.
Ban mobilnya selip.
Sementara itu, Ratna melangkah lebih dekat ke Nindya, berbisik dengan suara cukup keras untuk didengar Arman.
“Kamu harusnya sadar diri. Perempuan seperti kamu tidak pantas untuk dicintai.”
Nindya merasa lututnya melemas. “Arman…” panggilnya pelan.
Namun Arman justru berkata dengan nada dingin yang mematikan harapan terakhirnya, “Kamu tidak lebih dari bangkai hidup di rumah ini.”
BRAKKK!
Suara benturan keras memecah malam.
Mobil Nadia tergelincir, menghantam pembatas jalan. Kaca pecah. Dunia terasa berputar cepat sebelum semuanya berubah gelap.
Jika aku mati malam ini, tidak ada seorang pun yang akan mencariku.
Kalimat itu terlintas di benak Nadia sesaat sebelum kesadarannya benar-benar lenyap.
Di rumah itu, Nindya terhuyung.
Kata-kata Arman terus terngiang di telinganya. Bangkai hidup. Tidak dicintai. Tidak diinginkan.
Dadanya terasa sakit. Napasnya pendek-pendek. Pandangannya mulai menggelap.
Ratna tersenyum puas melihat wajah Nindya yang memucat.
“Akhirnya sadar juga,” katanya dingin.
Nindya mencoba bertahan, namun tubuhnya tidak lagi menurut. Ia meraih d**a, lalu jatuh terduduk di lantai. “Arman…” bisiknya sekali lagi.
Namun kali ini, bukan Arman yang menjawab.
Dunia Nindya runtuh. Kesadarannya terlepas, seperti ditarik paksa dari tubuhnya sendiri. Suara-suara di sekitarnya menjauh, digantikan oleh keheningan yang mencekam.
Gelap. Dalam kegelapan itu, dua jiwa saling bersinggungan di dua waktu yang berbeda, di dua takdir yang sama-sama retak.
Sebuah kesadaran perlahan muncul. Nindya membuka mata.
Bukan langit-langit rumahnya yang ia lihat, melainkan cahaya lampu yang menyilaukan. Suara sirene menggema. Bau bensin dan darah memenuhi inderanya.
Tubuhnya terasa asing. Berat. Sakit. “Di mana… aku?” gumamnya lemah.
Di kejauhan, seseorang berteriak panik. “Korban tidak sadar! Cepat panggil ambulans!”
Nindya menutup matanya kembali, tanpa tahu bahwa malam itu bukan hanya hidupnya yang berakhir. Tapi juga hidup orang lain yang kini mulai menyatu dengannya.
Kesadaran itu tidak kembali perlahan. Ia jatuh, seperti ditarik paksa ke dalam ruang sempit yang bukan miliknya.
Nadia tersentak. Udara masuk kasar ke paru-parunya. Dadanya terasa nyeri hebat, seolah baru saja ditekan kuat-kuat. Kelopak matanya terbuka dengan susah payah, dan hal pertama yang ia lihat bukanlah lampu ambulans, bukan pula jalan raya.
Langit-langit putih kusam. Retakan halus di sudutnya dan cat yang menguning dimakan usia. “Ini… seperti bangunan lama,” batinnya kacau.
Kepalanya berdenyut. Rasa sakit datang bersamaan dengan banjir ingatan yang bukan miliknya.
Suara perempuan menangis. Ruang tamu. Kata-kata kejam. Wajah seorang pria yang dingin.
Nadia meringis, mencengkeram dadanya. “Apa ini…?” bisiknya serak.
Pintu kamar terbuka kasar.
“Nindya!”
Suara itu asing, namun entah kenapa membuat jantung Nadia bergetar. Seorang perempuan setengah baya masuk dengan wajah cemas bercampur marah.
“Kamu pingsan begitu saja! Apa kamu sengaja mau mempermalukan kami?” bentaknya.
Nadia menatap perempuan itu dengan bingung. “Nindya?” ulangnya pelan.
Perempuan itu mengerutkan kening. “Kamu masih pura-pura?” Ia mendecak kesal. “Bangun! Jangan bermain drama di depan Arman!”
Arman….Nama itu menghantam keras di kepala Nadia.
Seketika, potongan ingatan yang bukan miliknya menyatu dengan kesadarannya. Suami. Penghinaan. Selingkuhan.
Nadia menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat ia menopang tubuhnya untuk duduk. Tubuh ini terasa lebih ringan dari tubuhnya sendiri. Lebih rapuh, namun penuh bekas luka yang tidak terlihat.
“Apa yang terjadi padaku…?” gumamnya.
Bukan pertanyaan itu yang dijawab.
“Nindya, jangan buat masalah lagi,” ujar laki-laki muda yang sedang duduk di sofa. Tatapannya Dingin, jauh, dan penuh kemarahan. “Kalau kamu mau pingsan, jangan di depan Ratna.”
Ratna….Nadia mengangkat wajahnya.
Di dekatnya, seorang perempuan berdiri dengan senyum tipis. Tatapan menang, puas, dan merendahkan tatapan yang terlalu familiar bagi Nadia yang selama ini hidup di dunia penuh intrik.
“Oh, syukurlah kamu sadar,” kata Ratna manis palsu. “Aku kira kamu benar-benar sudah mati.”
Darah Nadia berdesir. Bukan takut, melainkan marah. Marah yang dingin dan terkendali.
Ia perlahan berdiri. Setiap pasang mata tertuju padanya, seolah menunggu Nindya yang biasa. Perempuan lemah yang akan menangis, meminta maaf, atau berlutut.
Namun yang berdiri sekarang… berbeda. Tatapan Nadia menajam. Bahunya tegak.
“Jadi,” katanya pelan, menatap langsung ke arah Arman, “inilah orang-orang yang merasa berhak menghancurkan hidupku?”
Arman terdiam.
Ratna mengernyit, tidak suka dengan nada itu.
Untuk pertama kalinya malam itu, ruangan terasa sunyi. Dan tanpa mereka sadari, jiwa yang kini menghuni tubuh Nindya bukan lagi perempuan yang bisa diinjak sesuka hati.
Konflik belum berakhir. Ia baru saja dimulai.