Ruangan itu terasa terlalu sunyi setelah kata-kata Nadia meluncur begitu saja dari bibir Nindya.
Arman menatap istrinya dengan sorot mata asing. Bukan marah, bukan terkejut melainkan curiga. Seolah ia sedang menilai seseorang yang tiba-tiba berubah wajah.
“Apa maksudmu bicara seperti itu?” tanyanya dingin.
Nadia dalam tubuh Nindya menatap balik tanpa menghindar. Jantungnya masih berdetak keras, bukan karena takut, melainkan karena tubuh ini belum sepenuhnya terbiasa menerima amarahnya.
“Tidak ada,” jawabnya singkat. “Aku hanya…sadar.”
Ratna tertawa kecil, suara yang sengaja dibuat lembut. “Sadar?” Ia melipat tangan di depan d**a. “Sejak kapan kamu bicara seperti perempuan pintar?”
Kalimat itu biasanya akan membuat Nindya terdiam. Menunduk dan hanya menelan hinaan.
Namun kali ini, Nadia justru mengangkat alis tipis. “Sejak aku hampir mati karena perbuatan kalian,” jawabnya datar.
Suasana mendadak menegang.
Ibu mertua Nindya muncul dari arah dapur, wajahnya masam. “Tidak usah drama,” katanya ketus. “Kalau memang tidak sanggup jadi istri yang baik, jangan cari perhatian dengan pura-pura pingsan.”
Nadia menoleh perlahan. Setiap kata perempuan itu masuk ke kepalanya, disusun, dinilai, lalu dikunci rapi.
“Lingkungan yang sempurna untuk menghancurkan seseorang,” batinnya.
“Aku mau ke kamar,” katanya singkat, lalu berbalik tanpa menunggu izin.
Langkahnya mantap, meski kepalanya masih berdenyut. Di dalam kamar, Nadia mengunci pintu, lalu bersandar di baliknya. Napasnya terengah, tubuh ini akhirnya menyerah pada tekanan yang ditahan sejak tadi.
Ia menatap tangannya sendiri. Lebih kecil. Lebih kurus. Ada bekas luka lama di pergelangan sepeti bekas terjatuh, bukan perhiasan.
“Ini… bukan tubuhku,” gumamnya.
Ia melangkah ke depan cermin. Wajah yang menatap balik adalah wajah Nindya. Pucat, mata sembap, tapi kini ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya. Sorot milik Nadia Gayatri.
Tiba-tiba, ingatan lain menyerbu. Ranjang rumah sakit. Langit-langit asing. Botol obat. Surat cerai.
Nadia mencengkeram tepi meja rias saat potongan terakhir menyatu dengan sempurna.
“Jadi…” bisiknya. “Kamu mati.”
Kesimpulan itu datang begitu saja, tanpa emosi berlebihan. Sebagai pengacara, ia terbiasa menghadapi kematian dalam berkas-berkas perkara. Namun kali ini, kematian itu melekat pada tubuh yang ia huni.
“Kamu bunuh diri,” lanjutnya lirih.
Ada rasa berat di dadanya. Bukan tangis. Bukan pilu. Melainkan kesadaran pahit bahwa perempuan ini benar-benar telah didorong ke batasnya.
Ketukan keras di pintu memecah lamunannya. “Nindya!” suara Arman terdengar tajam. “Keluar. Kita belum selesai bicara.”
Nadia menghela napas pelan.“Konflik tidak memberiku waktu bernapas,” pikirnya.
Ia membuka pintu. Arman berdiri di sana, wajahnya dingin. Ratna tampak di belakangnya, bersandar santai di dinding, seolah ini pertunjukan yang menghibur.
“Kamu tidak bisa terus bersikap seperti ini,” kata Arman. “Aku sudah cukup sabar.”
“Sabar?” Nadia mengulang, nadanya datar. “Lima tahun bersikap dingin, jarang pulang, lalu menuduh tanpa bukti. Itu yang kamu sebut sabar?”
Ratna menyeringai. “Oh, jadi sekarang kamu berani bicara?”
Nadia menoleh. “Aku selalu berani. Hanya saja dulu tidak pernah diberi kesempatan.”
Arman mengepalkan tangan. “Aku tidak mau ribut. Aku hanya ingin ini cepat berakhir.”
“Dengan cara menceraikanku,” potong Nadia.
Hening.
Tatapan Arman mengeras. “Kamu tahu.”
Nadia tersenyum tipis. “Aku selalu tahu. Hanya saja sekarang aku tidak akan berpura-pura bodoh.”
Ratna melangkah maju. “Jangan sok kuat, Nindya. Kamu tetap perempuan yang sama.”
Nadia menatap Ratna lama. Sangat lama. Tatapan yang membuat senyum Ratna perlahan memudar.
“Tidak,” jawab Nadia pelan. “Aku bukan lagi perempuan yang sama.”
Ia berbalik, berjalan kembali ke kamar, menutup pintu dengan tenang. Namun di dalam kepalanya, sesuatu sudah berubah.
Ia bukan lagi korban yang menunggu dihancurkan.Ia adalah orang luar yang masuk ke medan perang dengan prespektif baru.
Nadia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang tertutup tirai tipis. Malam masih panjang. Dan ia tahu, konflik ini tidak akan selesai hari ini. Namun satu hal sudah pasti. Jika ini tahun 1998, jika ia terjebak di tubuh seorang istri yang nyaris mati karena fitnah, maka kali ini permainannya akan berbeda. Dan tanpa disadari siapa pun di rumah itu, seorang pengacara dari masa depan baru saja bangun dari kematian.
Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Cahaya matahari masuk lewat jendela ruang tamu, memantul di lantai marmer yang dingin. Nindya duduk di meja makan, secangkir teh di depannya belum tersentuh. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melewati malam penuh konflik.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu depan. Ibu mertuanya masuk tanpa mengetuk, seperti biasa. Wajah perempuan itu kaku, sorot matanya langsung mengarah ke Nindya seolah keberadaannya adalah kesalahan.
“Kau masih berani duduk santai?” suara itu tajam. “Setelah membuat keributan semalam?”
Nindya mengangkat wajahnya perlahan.
“Aku sedang sarapan,” jawabnya datar.
Ibu mertua itu tertegun sesaat, lalu tertawa sinis. “Kurang ajar. Sejak kapan kamu berani membalas?”
Nindya berdiri. Gerakannya pelan, namun mantap. “Sejak aku sadar aku tidak wajib diam saat dihina.”
Kening ibu mertua itu berkerut. “Kamu bicara apa? Jangan berlagak pintar!”
Perempuan itu melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya sejengkal. Bau minyak kayu putih dan amarah terasa jelas.
“Kamu pikir Arman akan membelamu?” bentaknya. “Perempuan sepertimu seharusnya bersyukur masih dipertahankan!”
Nindya menatapnya lurus. Tidak menunduk. Tidak gentar.“Aku tidak butuh dibela oleh siapa pun,” jawabnya tenang. “Aku hanya menuntut diperlakukan sebagai manusia.”
Ucapan itu menjadi pemantik.
Wajah ibu mertua memerah. Tangannya terangkat tinggi, refleks lama yang biasa membuat Nindya gemetar. Namun kali ini berbeda, sebelum tamparan itu mendarat. Nindya menangkap pergelangan tangan itu di udara, cengkeramannya kuat dan tegas.
“Apa… apa yang kamu lakukan?!” ibu mertua itu terkejut, suaranya bergetar.
Nindya mendekat satu langkah. Tatapannya dingin, penuh kendali.
“Cukup,” katanya pelan. “Jangan pernah kamu berani-berani mengangkat tangan kepadaku lagi.”
Cengkeraman itu tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membuat ibu mertua itu sadar kalau ini bukan lagi Nindya yang bisa diperlakukan sesuka hati.
“Aku bukan perempuan lemah,” lanjut Nindya. “Dan aku juga berhak untuk dihormati dan dihargai.”
Ia melepaskan tangan itu perlahan.
Ibu mertua mundur setapak, napasnya memburu, antara marah dan tidak percaya.
“Kamu… kamu berubah,” gumamnya.
Nindya menatapnya tanpa emosi. “Ya. Aku berubah.”
Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, Nindya berdiri tanpa gemetar karena jiwa di dalam tubuhnya kini tidak lagi takut.
Arman keluar dari kamarnya dengan wajah masam.
“Ada apa pagi-pagi ribut?” tanyanya dingin. Pandangannya langsung tertuju pada ibunya yang tampak masih emosi.
“Lihat istrimu itu!” bentak sang ibu. “Sekarang dia berani melawan orang tua!”
Arman menoleh ke arah Nindya. “Minta maaf,” katanya tanpa bertanya apa pun. “Sekarang.”
Nindya menatapnya tenang. Tidak ada air mata. Tidak ada gemetar. “Tidak,” jawabnya tegas.
Arman mengerutkan kening. “Apa katamu?”
“Aku tidak akan minta maaf,” ulang Nindya. “Karena aku tidak melakukan kesalahan.”
Suasana mendadak membeku. Untuk pertama kalinya, perintah Arman tidak lagi berarti apa-apa bagi Nindya.