“Apa kamu benar-benar siap menghadapi akibatnya?” Suara di seberang telepon terdengar serius, hampir seperti peringatan terakhir. Nindya berdiri di depan jendela kamarnya, memandang langit yang masih gelap. “Aku gak punya pilihan lain,” jawabnya tenang. Hening sejenak. “Kalau begitu… kita mulai malam ini.” Panggilan terputus. Nindya menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menguncinya. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Keputusan sudah diambil, dan kali ini ia tidak akan mundur. Ia kembali duduk di depan laptopnya, membuka beberapa file sekaligus. Data yang selama ini hanya ia kumpulkan kini mulai ia gunakan. “Ratna suka bermain dengan sudut pandang,” gumamnya pelan. “Berarti aku harus menghancurkan sudut pandang itu dulu.” Jarinya bergerak cepat di atas keyboard.

