Ruangan itu yang biasanya rapi kini terasa kacau, seperti pikirannya yang mulai kehilangan arah. Berkas-berkas berserakan di lantai, kursi bergeser tidak beraturan, dan layar laptop masih menampilkan potongan rekaman suara yang terus menyebar. “Kenapa semuanya jadi seperti ini…?!” suara Ratna pecah, tangannya kembali menghantam meja. Ia berjalan mondar-mandir tanpa arah, napasnya tidak stabil. Notifikasi di ponselnya terus berbunyi, seolah menekan dari segala sisi tanpa memberi ruang untuk berpikir. “Ini gak mungkin…” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Pandangannya kembali tertuju pada layar. Suaranya sendiri. Kata-kata yang dulu ia anggap aman kini justru menjadi senjata yang berbalik menyerangnya. “Siapa yang berani melakukan ini…” desisnya, rahangnya mengeras. Pon

