“Kamu kenapa sih,? Sejak kapan aku pernah bilang gitu. Kan udah aku jelasin dari aku kecil sampai sekarang juga aku cuma pernah suka sama kamu, Na.”
Coba saja ada mesin yang bisa memproyeksikan ingatan-ingatan di otak, pasti Aya sudah membelinya supaya Jo mengingat perkataannya dan perlakuannya pada Aya di masa lalu. Sumpah, apa jangan-jangan Jo kena amnesia sampai-sampai dia tidak mengingat Aya sama sekali.
“AYO SEMUANYA YANG JOMBLO YANG BELUM NIKAH AYO KUMPUL DISINI!” teriakkan lantang dari pembawa acara membuat semua orang terkejut.
“Kamu udah nikah, Ya?” tanya Lana tiba-tiba.
Aya menggeleng. “Belum.” Boro-boro nikah, move on saja masih belum tuntas.
“Kalau gitu ikut itu, yuk!” Lana langsung menggandeng tangan Aya, membuat perempuan itu tak bisa melakukan apapun selain mengikuti langkah penuh semangat Lana mendekati kerumunan perempuan yang ingin ikut serta menganggap bunga dari pengantin.
“Eh, tapi kan ….”
“Udah, ikut aja. Siapa tahu dapat kan. Bisa tuh, bulan depan nikah,” potong Lana sambil mengedipkan sebelah matanya. “Kesempatan emas nggak boleh di sia-siain, Ya.”
Aya menghela napasnya, perempuan itu menyerah. “Tapi kita di belakang aja, ya. Sesak banget itu di depan.”
Lana membalas dengan menunjukkan jempol tangannya, tersenyum puas sebelum akhirnya perempuan itu menoleh ke belakang, menatap Jo. “Jo, aku kesana dulu ya. Kamu jangan kemana-mana!” pamit Lana.
“Oke sayang!”
Lagi-lagi Aya merasakan hatinya patah saat Jo menyebut Lana dengan panggilan “sayang” padahal kan tidak ada yang salah dengan ucapan Jo. Mereka berdua adalah sepasang kekasih, kalau Jo menyebut “sayang” ke Aya, itu baru salah.
“Udah di sini aja.” Aya memberhentikan langkah tepat di barisan paling belakang.
“Yakin nggak mau maju lagi? Biasanya kalau lempar-lempar gini yang dapat itu barisan paling depan,” ucap Lana sedikit kecewa.
Aya tersenyum tipis. “Kamu kayaknya semangat banget, mau ngode Jo, ya?” tanya Aya jail sambil menyenggol bahu Lana.
Aya memang hobi mencari penyakit. Perempuan itu sengaja menggoda Lana untuk melihat sejauh mana hubungan antara Lana dan
Jo. Entah darimana datangnya ide bodoh yang hanya akan membuat hatinya makin sakit.
“Ah apa sih.” Lana menyisingkan rambutnya ke belakang telinga, pertanda kalau dia sedang salah tingkah. “Jo mah sibuk kerja,
nggak mungkin dia mikir sejauh itu.”
“Tapi kan kalian udah pacaran 3 tahun lebih, pasti dia mikir gitu. Percaya deh sama aku, paling lama setahun lagi,” lanjut Aya.
Lana mengangguk samar. “Iya sih, doain aja. Orang tua aku sama Jo juga udah ngebet, hehehe.”
Seperti yang diperkirakan, senjata makan tuan. Bukannya merasa lebih baik, hati Aya terasa semakin hancur mendengar tanggapan Lana.
“Aku doain yang terbaik buat kalian, ya.” Aya tersenyum sendu.
Lana juga ikut tersenyum, sangat lebar sampai matanya menyipit. “Makasih banyak doanya, Ya. Nanti kalau udah ada tanggal tepatnya, aku pasti bakal undang kamu.”
“SEMUANYA SIAP?” teriakan pembawa acara langsung membuat mereka kembali pada dunia nyata. Kini, mereka tidak lagi berada
di barisan paling belakang lantaran semakin banyak perempuan yang berkumpul.
“SIAP!” Lana berteriak bersamaan dengan perempuan lainnya. Di antara kerumunan itu, hanya Aya yang sama sekali tidak berkutik, membiarkan tubuhnya terdorong ke belakang. Toh, sejak awal dia memang tidak berminat mendapatkan bunga itu.
“Oke, dalam hitungan ketiga pengantinnya bakal lempar bunga. Ayo mendekat lagi semuanya! Kita mulai sekarang!” teriakan menggelegar pembawa acara bersamaan dengan dorongan-dorongan brutal sama sekali tidak membuat Aya bersemangat.
“SATU!”
“DUA!”
Pandangan Aya tertuju pada dua pasang manusia yang berada di pelaminan yang memunggunginya. Siapa sih yang menjadi pelopor acara lempar bunga ini? Aya ingin sekali bertanya darimana dia tahu kalau orang yang mendapatkan bunga adalah orang yang akan menikah dalam waktu dekat. Mungkin saat dia ada waktu luang nanti dia akan mencari jurnal ilmiah yang membahas tentang omong kosong ini.
“TIGA!”
Tepat dalam hitungan ketiga, bunga yang dipegang pengantin perempuan melayang. Rasanya Aya seakan-akan berada di dalam putaran film yang sedang dalam mode slow motion.
Aya menatap serius ke mana arah bunga itu menuju. Gerakan bunga di udara terlihat sangat lambat, melayang jauh hingga ke barisan
paling belakang. Terus mendekat hingga Aya sadar bahwa bunga itu tepat berada di depan matanya.
“Dapat,” ucap Aya lirih saat tiba-tiba saja tangannya terangkat, menangkap bunga itu dengan sangat mudah.
Semua mata tertuju padanya, sementara Aya hanya bisa bengong sambil mencerna apa yang baru saja dilakukan tangannya itu.
“YA UDAH ADA YANG DAPAT BUNGANYA! WAHHH SELAMAT BAGI YANG DAPAT! JANGAN LUPA UNDANG SAYA, YA!” teriak si pembawa acara dengan heboh.
Aya menatap Lana yang berjalan cepat menuju tempatnya berdiri dengan senyuman bangga.
“Selamat ya, Aya!” ucap Lana sambil memeluk Aya yang masih saja tak bergeming.
“Eh, kenapa?” tanya Aya yang gagal mencerna semua hal yang terjadi dalam satu kedipan mata.
Lana tertawa, menunjuk buket bunga yang digenggam Aya dengan erat. “Kamu dapat bunganya! Sebentar lagi kamu pasti bakal nikah. Jangan lupa undang aku, ya!” jelas Lana dengan penuh semangat, menatap Aya dengan mata berbinar.
Kepala Aya menunduk, menatap buket yang ia pegang lekat-lekat. Entah bagaimana kejadiannya sampai-sampai Aya-lah yang mendapatkan buket itu.
Lana tiba-tiba saja memegang kedua pundak Aya. “Atau jangan-jangan … jodoh kamu ada di sini, Ya!” seru Lana dengan nada misterius.
Secara otomatis, kepala Ayua bergerak menelusuri setiap tamu yang hadir, hingga akhirnya dia berhenti pada seseorang yang berdiri di ujung sana, menatap lurus entah pada Aya atau Lana yang merupakan kekasihnya.
Jo. Otak Aya tiba-tiba saja menyebut nama pria itu. Sepertinya Aya sudah kehilangan setengah dari kewarasannya sampai-sampai dia berpikir akan menikah dengan Jo di depan pacarnya lagi.
“Ah, mana mungkin!” elak Aya sambil menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan pikiran tak masuk akal yang bersarang di otaknya.
Lana tertawa keras. “Ih, kok kamu kayak salah tingkah gitu sih?” tanyanya yang semakin membuat Aya gugup. Apa ekspresinya semudah itu dibaca?
Aya memukul lengan Lana dengan sangat pelan. “Nggak, lah! Aku aja nggak kenal siapa-siapa di sini.”
Mata Lana kembali menyipit. “Atau jangan-jangan ada yang menarik perhatian kamu di sini?”
Aya dengan tegas menggeleng. “Nggak mungkin!”
“JO SINI DEH!” teriak Lana sambil melambaikan tangannya, membuat Jo langsung melangkah mendekati mereka.
“Kenapa, Na?” tanya Jo.
Lana menunjuk buket yang digenggam Aya. “Lihat! Aya dapat buket bunganya loh! Sebentar lagi Aya bakal nyusul nikah, Jo.”
Jo mengikuti kemana arah tangan Lana menunjuk. Pria itu menatap buket yang dipegang Aya selama beberapa detik sebelum
akhirnya tersenyum tipis. Kepala Jo kembali terangkat, pria itu menatap Aya dengan begitu dalam, membuat perempuan itu langsung
bernostalgia. Cara Jo memandangnya masih sama seperti dulu, sangat dalam.
“Selamat ya, Aya. Kalau kamu menikah nanti jangan lupa ngundang Lana. Kalau sampai kelupaan dia bisa ngambek, bahaya.”