5. suara hati pria

1453 Kata
“Sumpah?!” teriak Bima yang langsung berdiri, membiarkan stik PS-nya tergeletak di atas sofa begitu saja. Setelah 3 tahun lamanya, Bima baru mendengar nama Aya disebut langsung dari mulut Jo. Jo menghela napas, berusaha mengumpulkan tenaganya untuk menjelaskan semuanya pada Bima. “Gue ketemu pas kondangan ke tempatnya Januar.” Hanya perlu menyebut namanya saja, Bima pasti tahu siapa Januar yang dimaksud Jo. Dahi Bima berkerut, sedang menebak sesuatu yang mengganjal kepalanya. “Itu berarti … ada Lana, dong?” tebak Bima yang terdengar ragu. Sambil menyandarkan punggungnya pada sofa, Jo mengangguk singkat. Seperti dugaannya, Bima membulatkan mulut beserta wajahnya sambil berteriak heboh. “NGGAK ADA PERANG DUNIA, KAN? JANGAN-JANGAN LO DARI TADI KELIHATAN BETE GARA-GARA PERANG,” tanyanya panik. Jo berdecak. Pikiran Bima memang selalu liar. “Perang apaan, sih. Orang Lana yang kasih tahu kalau ada Aya. Kalau dia nggak kasih tahu gue nggak bakal sadar, kali.” Masih dengan wajah super kepo, Bima mendekati Jo. “Jadi jadi gimana?” “Gue pura-pura nggak kenal Aya.” “HAH?!” Kalau saja cerita Jo dijadikan film, sudah pasti plot twist ini akan membuat seluruh penonton menganga. “KOK LO GITU SIH!” “Gue tuh pikir Lana mau mastiin gue beneran udah move on sepenuhnya sama Aya atau belum, makanya gue pura-pura nggak kenal Aya,” jelas Jo sambil menggulung dasinya dengan frustasi. “Terus terus?” “Sialnya ternyata tebakan gue salah! Sekarang gue jadi nggak enak sama Aya tahu nggak sih lo!” *** “Lo kenapa, ya?” Ryan—rekan kerja Aya—menatap perempuan itu dengan wajah heran lantaran tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Aya mengacak-acak rambutnya. Dengan wajah kusut, Aya menatap Ryan yang masih kebingungan, “Ini udah break time, kan?” “Em,” jawab Ryan sambil mengangguk. “Lo!” tiba-tiba saja Aya berdiri sambil menunjuk Ryan yang duduk berhadapan dengannya. “Kenapa?” Kedua alias pria yang lebih muda setahun dari Aya itu terangkat. Satu setengah tahun mereka saling mengenal, baru kali ini dia melihat Aya bertingkah aneh. “Gue nggak mau tau, pokoknya hari ini lo harus ikut makan siang sama gue!” perintah Aya dengan wajah super serius. Lagi-lagi satu alis Ryan terangkat. “Gitu doang?” Aya mengangguk dengan cepat. “Kenapa, nggak mau?” Ryan sontak menggelengkan kepalanya sambil tertawa renyah. Pria itu bangkit dari tempat duduknya sambil menggenggam kunci mobil. “Nggak usah ngancam gitu juga kali, kan setiap hari gue juga makan siang sama lo.” Aya menggigit bibirnya. Benar juga, dia selalu makan siang dengan Ryan. Habisnya, dia tidak punya kawan kantor lain selain pria itu. Biasa, perempuan itu memang memiliki sedikit masalah dalam hal bersosialisasi dengan orang baru. “Ya … siapa tahu lo ada janjian makan sama yang lain gitu? Who knows,” ucap Aya yang berusaha untuk tidak terlihat bodoh. Ryan lagi-lagi menggeleng. Untuk terhindar dari lantunan ceramah tidak masuk akal dari Aya, pria itu langsung merangkul Aya. “Mau makan apa hari ini?” “Nggak tahu, lo aja yang mikir. Dari tadi otak gue dikuras buat konsep iklan. Mana kliennya cerewet banget,” jawab Aya yang malah curhat. Sambil berjalan, Ryan terus berpikir makanan apa yang akan mereka santap. “Kalau ayam geprek di seberang aja gimana? Malas juga siang-siang gini cari makan di tempat yang jauh, macet,” tawar Ryan yang akhirnya selesai berpikir. “Hm, boleh.” Suasana yang tak jauh beda dari hari-hari sebelumnya. Jakarta di siang hari panasnya bukan main, ditambah jalanan yang padat dan asap polusi yang sungguh tidak enak untuk dihirup. Aya harus bersyukur Ryan mengajaknya makan di tempat yang dekat karena dia tidak yakin bisa menahan emosinya jika terjebak macet di siang bolong begini. Tangan Ryan yang tadinya melingkar di pundak Aya kini menggenggam pergelangan tangan perempuan itu. “Biar nggak ketinggalan, Ya. Lo kalau nyebrang jalannya suka kayak siput.” Aya hanya menggeleng mendengar olokan Ryan, memilih fokus pada langkah Ryan yang sangat mahir soal sebrang-menyebrang. “Wah, untung nggak rame.” Tanpa sadar, Aya juga meneriakkan hal yang sama di dalam hati. Pasalnya, kedai ayam geprek yang mereka kunjungi ini tidak memiliki pendingin ruangan. Kalau saja sampai penuh pengunjung, tidak terbayang akan sepengap apa. “Lo yang pesen ya, Yan. Biar gue yang cari mejanya,” kata Aya yang langsung disetujui oleh Ryan. “Kayak biasa, kan? Sambelnya nggak terlalu pedas,” ucap Ryan memastikan. Aya mengangguk. Langkahnya lalu bergerak menjauh, menatap satu-persatu meja yang kosong, mencari tempat yang berjarak cukup jauh dari pengunjung lainnya supaya pembicaraan mereka nantinya tidak terdengar. “Dapat!” seru Aya yang langsung mendaratkan tubuhnya di kursi. Perempuan itu memilih tempat paling ujung, dekat dengan toilet dan yang terpenting berjarak sangat jauh dari pengunjung lainnya. Tak lama berselang, Ryan datang dengan dua gelas es jeruk di tangannya. “Nggak salah milih tempat lo?” tanyanya sambil menatap pintu toilet dengan tatapan horor. “Nggak,” jawab Aya penuh keyakinan. Sambil memainkan pipet minumannya, Aya kembali mengoceh, “Kita harus eksplorasi, Yan, Masa iya makan di depan mulu, sekali-kali di pojok gini dong.” “So … apa?” Aya langsung menghentikan gerakannya memainkan pipet, beralih menatap Ryan kebingungan. “Apa yang apa?” tanyanya. “Lo tiba-tiba milih tempat paling ujung gini, pasti lo mau ngomong sesuatu, kan?” jelas Ryan dengan percaya diri. Satu setengah tahun sudah dia mengenal Aya dengan segala keajaibannya yang entah kenapa sangat mudah untuk menempel di otak cowok itu. Mendengar itu, Aya langsung tersenyum. “Tapi lo harus jawab jujur pertanyaan gue, ya. Awas kalau sampai ketahuan bohong!” Ryan mengangguk. “Lagian kapan juga gue pernah bohong.” “Cih!” Aya membenarkan posisi duduknya hingga berhadapan lurus dengan Ryan. “Lo pernah suka sama cewek nggak?” tanya Aya dengan serius. Meski terlihat kebingungan dengan pertanyaan Aya yang diluar dugaan nya, dia tetap menjawab. “Pernah dong.” “Pernah ditolak sama cewek yang lo suka?” tanya Aya lagi, “Ya … pernah.” Ryan ragu-ragu menjawab pertanyaan yang satu itu. Kalau diingat-ingat lagi sungguh memalukan, semoga saja Aya tidak mengejeknya gara-gara pernah ditolak. “Nah!” Aya menjentikkan jarinya. Dia bertanya dengan orang yang tepat. “Kenapa emang lo nanya kayak gitu?” “Apa yang lo lakuin kalau ditolak sama cewek?” Ryan melotot. “Lo serius nanya kayak gitu?” tahay Ryan balik, memastikan setiap kata yang keluar dari mulut Aya itu serius. Aya berdecak “Udah jawab aja!” Ryan menelan ludahnya. Kalau sudah seperti ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah perempuan itu. “Ya … move on. Emang gimana lagi coba?” Jawaban dari Ryan langsung diberi hadiah lemparan gumpalan tisu dari Aya. “Dasar cowok!” “Loh, gue salah apa?!” Ryan tak terima, membalas Aya dengan melemparkan balik gumpalan tisu itu. “Berapa lama lo move on?” tanya Aya yang kebawa emosi. Ryan mengacak-acak rambutnya. Dia dalam posisi serba salah sekarang. Kalau dia jawab, Aya pasti akan marah dan kalau dia tidak jawab, sudah pasti Aya akan menghajarnya. “Em … tergantung.” “Tergantung apa?” Ryan menghela napas, sekarang ia memasrahkan keselamatan jiwa dan raganya kepada Tuhan yang Maha Esa. “Tergantung seberapa sukanya gue sama cewek itu.” Aya terdiam, matanya bergerak kesana kemari, pertanda jika ia sedang berpikir keras. “Kalau misalnya satu tahun udah dapat cewek baru, itu dia seberapa suka?” “Kalau setahun mah ….” Ryan terdiam, tak ingin melanjutkan kalimat yang nantinya akan mengancam nyawanya. “KALAU SETAHUN APA?!” desak Aya sambil mengguncang lengan Ryan, membuat pria itu tidak bisa duduk dengan tenang. “Janji nggak marah?” Ryan mengacungkan jari kelingkingnya. “Janji!” jawab Aya yang juga ikut mengacungkan jari kelingkingnya. “Kalau cuma setahun trus dapat cewek baru, berarti dia nggak bener-bener suka sama lo. Palingan juga cuma dijadikan bahan pelarian atau emang dasarnya tuh cowok bosenan,” jelas Ryan. Seketika, Aya kehilangan semangatnya. Jadi selama ini, Jo tidak pernah serius menyukainya. Pantas saja pria itu sama sekali tidak mengingat Aya. 3 tahun yang ia lalui sambil berusaha melupakan Jo … rasanya sangat tidak adil. Melihat Aya yang tiba-tiba saja murung, Ryan langsung mengusap-usap punggung perempuan itu. “Lain kali, cari cowok yang beneran tulus, Ya. Nggak mandang lo dari segi fisik, tapi dari dalam diri lo. Lo juga gitu, jangan cari cowok yang tampangnya oke doang, tapi pastikan dalamnya juga oke.” Kening Aya berkerut. “Emang ada cowok kayak gitu?” tanyanya skeptis. “Ada dong.” “Mana?” “Ini di depan lo.” Kening Aya kembali berkerut. “Apaan, di depan gue tembok.” Kini, berganti kening Ryan yang berkerut. “Loh, kan gue ini jelas-jelas di depan lo.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN