6. jo 2.0 (?)

1199 Kata
Sepulang dari tempat kerjanya, Aya langsung disuguhkan buket bunga yang tergeletak di atas kasurnya. Rasa kesalnya semakin memuncak lantaran setiap kali dia melihat buket bunga itu, yang langsung muncul dalam pikirannya adalah Jo yang tidak mengingatnya. Lantaran tak ingin selera makannya hilang, dengan cepat Aya mengambil buket bunga itu dan melemparnya ke tempat sampah. Lagi pula bunga itu tidak ada gunanya, beberapa hari lagi juga palingan layu. Sunsets We wander through a foreign town Baru saja perempuan itu hendak membuka kotak berisikan nasi goreng yang dibelinya dari pedagang pinggir jalan, ponselnya sudah berdering, pertanda ada seseorang yang menelponnya. “Ibu?” Aya mengernyitkan dahinya, seingat perempuan itu, dia baru saja menelpon ibunya pagi tadi. Lagi pula, perempuan paruh baya itu sangat jarang menelpon nya terlebih dahulu. “Halo, Ibu?” ucap Aya dengan suara rendah. “Halo, Nak. Kamu sudah pulang kerja?” tanya Ibu Aya dari seberang sana dengan suara yang terdengar bergetar. Menyadari nada suara ibunya yang aneh, kening Aya semakin berkerut dalam. “Sudah, Bu. Kenapa Ibu telepon? Tumben, biasanya Aya yang harus telepon dulu.” Anehnya, tidak ada jawaban. Keheningan di seberang sana terjadi cukup lama sebelum Aya memutuskan untuk kembali berbicara. “Ibu? Sinyalnya jelek, ya? Bapak mana, coba kasih lihat Bapak. Siapa tahu kuotanya sudah mau habis,” ucap Aya lagi dengan nada was-was. Entah kenapa, hatinya serasa ada yang mengganjal sejak awal ibunya menelpon. “Em … kamu bisa pulang, Nak?” pinta Ibu dengan suara memohon. “Pulang? Ini Aya udah di kosan kok, Bu.” “Pulang ke Jojga, Nak.” Aya terdiam. Sudah pasti ada yang tidak beres di kampungnya sana. “Kenapa kok tumben Ibu bilang gitu? Biasanya Ibu yang paling sering bilang Aya jangan balik ke kampung sebelum jadi orang sukses.” Lagi-lagi, keheningan di seberang sana terjadi cukup lama. “Anu … Bapakmu masuk rumah sakit, Nak.” “HAH?” seketika, Aya langsung berdiri dari kursi, matanya mencolot dengan tangan yang langsung bergetar hebat. “IBU JANGAN BERCANDA GITU AH!” teriaknya dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. “Tadi sore di kerjaannya Bapak tiba-tiba pingsan. Ini sekarang di UGD,” jelas Ibu Aya dengan suara tertahan, berusaha menahan tangisannya. “Kenapa nggak bilang dari sore, sih?!” Karena rasa panik sekaligus shock yang melandanya, Aya sampai tidak sadar telah membentak sang Ibu. “Kalau nggak bisa pulang tidak apa-apa. Aya tenang aja, nanti Ibu selalu kasih kabar terbaru Bapak, ya. Kamu di sana makan yang bener, jangan bergadang, oke?” “Gimana bisa tenang, Ibu! Aya mau nyusul ke sana.” “Malam begini? Bahaya, Nak. Kalau kamu ndak bisa ya ndak usah, Ibu bisa kok ngurus Bapak sendirian,” cegha Ibu. Tapi memang dasarnya Aya keras kepala. Tanpa pamit, dia,langsung mematikan sambungan telepon, sibuk memasukkan bajunya ke dalam tas, meninggalkan nasi gorengnya yang sama sekali belum disantap begitu saja. *** “Ini lo serius nggak mau mampir makan dulu? Ini satu kilometer lagi ada rest area,” tawar Ryan untuk kesekian kalinya. Aya yang sibuk memeriksa pesan masuk dari ibunya berdecak. “Bisa-bisa gue muntah kalau sampai gue mampir makan dulu. Ini bokap gue di rumah sakit, Yan!” balas Aya frustasi. “Ya kan makan itu wajib, Ya. Ini kita bakal jalan 8 jam lebih loh,” ucap Ryan lagi yang masih ngotot untuk menyuruh Aya makan. Pasalnya, perempuan itu terakhir kali makan tadi siang bersamanya, kalau di tengah jalan tiba-tiba maag kan bahaya, mana mereka sama sekali tidak punya persediaan obat. “Nggak mau gue, Yan … udah dibilang berapa kali sih.” Ryan menghela napas. Kalau begini, dia bisa apa selain berdoa supaya temannya itu tidak kenapa-kenapa. Sekitar dua jam yang lalu, Aya pergi ke stasiun untuk membeli tiket bus tapi sayangnya, perempuan itu sudah melewatkan keberangkatan terakhir. Aya yang kelewat panik tentu saja tidak bisa menunggu sampai besok pagi, alhasil dia meminta pertolongan Ryan untuk mengantarnya ke Jogja lewat tol. Untungnya, Ryan dengan baik hati langsung setuju. “Lo udah izin sama Bu Amel, Ya?” tanya Ryan lagi, berusaha membangun percakapan gara pikiran Aya sedikit teralihkan. Aya menggeleng. “Kalau gue telepon tengah malam gini takutnya ganggu, gue rencananya izin nanti pagi aja," jawab Aya dengan jari yang masih sibuk mengetik pesan kepada Ibunya yang tidak satupun dibaca. Ryan mengangguk. “Bener juga, kalau nanti Bu Amel nggak percaya sama omongan lo, ntar gue deh yang bantuin jadi saksi.” Dahi Aya berkerut. “Emangnya lo besok masuk kerja, Yan?” tanyanya heran. Ryan lagi-lagi mengangguk. “Masih sempat, kalau gue habis ngantar lo langsung tancap gas balik, masih sempat kok. Kita kan masuk jam 9. Paling-paling telat setengah jam.” Aya meringis tak enak hati. “Hari ini lo izin aja, masa lo langsung balik gitu? Setidaknya istirahat gitu 2 jam-an. Nanti ngantuk di jalan bahaya, Yan.” “Santai, gue udah biasa kok. Dua hari nggak tidur juga gue tahan.” Sontak, Aya langsung memukul lengan Ryan. “Jangan gitu lo! Nyawa ini taruhannya, kalau kenapa-kenapa ntar gue juga yang repot.” Ryan melirik Aya dengan ujung bibirnya yang terangkat. “Cie, khawatir sama gue ya?” Aya berdecak kesal. “Apaan sih lo! Orang gue nggak mau nambah masalah juga. Daripada nambah beban pikiran mending lo cuti sehari, istirahat dulu di rumah gue, siang atau sorenya baru balik ke Jakarta lagi.” Aya memberi saran dengan nada bicara yang memaksa. “Tapi kan—” Ucapan Ryan terputus saat Aya menatap pria itu dengan kedua mata yang tajam, seakan-akan dari mata sinis itu akan keluar laser yang bisa membuat tubuh Ryan bolong. Pria itu berdehem. “Em, oke kalau lo maksa. Tapi orang tua lo nggak masalah, kan? Kalau memang nggak diizinin gue nginap di hotel aja.” “Nah gitu dong!” seru Aya setelah puas mendengar jawaban dari Ryan. “Santai aja kali, nyokap gue juga palingan oke-oke aja. Kan lo yang nolongin gue, malah dia seneng kalau lo nginap sebagai rasa terima kasih,” lanjutnya. Ryan terkekeh pelan. “Terima kasih apaan, santai aja kali kan dia teman. Kalau gue lagi kesusahan juga lo sering nolongin gue.” Aya mengangguk setuju, perempuan itu diam cukup lama, memikirkan sesuatu yang akan ia ungkapkan pada Ryan setelahnya. “Tapi serius, Yan. Gue makasih banget sama lo. Mungkin kalau lo mau gue bisa aja sujud syukur ke lo. Kalau nggak ada lo, mungkin gue bakal nekat jalan dari Jakarta ke Jogja,” jelas Aya dengan sungguh-sungguh. “Apaan sih lo, Ya. Alay banget, kayak baru kenal seminggu aja lo sama gue.” “Tapi gue serius, Yan! Gue nggak nyangka lo bakal sudi ngantar gue ke Jogja, mana lo nggak mau dibayar lagi. Gue harus apa supaya bisa bayar jasa lo?” Ryan melirik Aya, berusaha memastikan apa perempuan itu serius dengan ucapannya barusan. “Lo kerasukan hantu tol ya? Kenapa sih, ini juga nggak seberapa. Lo tinggal bilang makasih juga gue udah puas.” “Nggak. Pokoknya gue harus ngelakuin sesuatu ke lo sebagai balasannya,” desak Aya. Ryan terdiam sejenak. “Just stay by my side. Lo tahu kan gue merantau di Jakarta juga baru dua tahun, nggak punya siapa-siapa di sini. Just stay by my side, that’s enough.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN