Sudah lima menit lamanya, namun Ryan tetap menatap perempuan yang duduk di seberangnya dengan melongo, mengabaikan begitu saja tugasnya yang menumpuk.
Ryan kembali mengerjapkan matanya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dilihatnya sekarang bukanlah ilusi. “Ini beneran lo, Ya?” tanya Ryan untuk yang kedua kalinya.
“Hm,” jawab Aya singkat, sama sekali tidak memperdulikan reaksi Ryan yang menurutnya berlebihan. Perempuan itu bekerja di sini, kenapa Ryan terlihat begitu kaget dengan kehadirannya?
Ryan berdehem. Kepalanya tiba-tiba saja menebak pasti ada sesuatu yang tidak beres dengan Aya. “Lo … lo nggak apa-apa kan, Ya?” tanya Ryan dengan penuh kehati-hatian, takut salah bicara.
Tanpa keraguan, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada perempuan itu, Aya mengangguk. “Selain kerjaan gue yang menumpuk, yeah I’m fine,” jawab Aya yang masih fokus pada layar laptopnya.
Ryan menghembuskan napasnya lega. Mungkin saja Aya kembali ke jakarta untuk mengecek klinik kemoterapi yang disarankan Ryan.
“Aya.” Suara dingin yang muncul dari ruangan petak tak jauh dari mereka langsung membuat Aya seketika keringat dingin.
Bu Amel—ketua timnya—sedang menatap Aya dingin dari depan pintu ruangannya, seakan-akan mengisyaratkan perempuan itu dalam bahaya.
“Iya, Bu?” jawab Aya dengan tegang. Jantungnya berdetak tak karuan.
“Ke ruangan saya sekarang.”
Tanpa berpikir panjang, Aya mengangguk setuju. Jika dia disuruh menghadap Bu Amel di ruangannya, sudah pasti Aya akan diomelin habis-habisan.
“Psstt! Kenapa lo?” bisik Ryan yang kepo habis.
Dengan ekspresi tak tenang, Aya mengedikkan bahunya. “Nggak tahu gue. Doain aja semoga nggak kena lempar pot bunga gucci.”
Meski Aya mengambil langkah sekecil mungkin, tetap saja rasanya begitu cepat perempuan itu sudah berdiri kaku di depan pintu ruangan Bu Amel yang tertutup rapat.
Tok … tok … tok ….
“Permisi, Bu.”
“Masuk.”
Setelah mendapatkan persetujuan, Aya membuka knop pintu dengan sepelan mungkin, berusaha untuk tidak membuat suara sekecil apapun.
“Silakan duduk, Aya,” Bu Amel menunjuk satu kursi tepat di depan mejanya.
Aya mengangguk, segera duduk di kursi yang tadi ditunjuk oleh Bu Amel. Jika dalam posisi seperti ini, Aya merasa seperti seorang pelajar badung yang sedang diinterogasi oleh guru BK.
Aya mengetuk-ngetuk pahanya gelisah, berusaha menerka-nerka ada apa gerangan Bu Amel memanggilnya.
“Ini saya nggak salah baca e-mail yang kamu kirim, kan?” tanya Bu Amel dengan intonasi menyindir.
Aya menelan ludahnya. “Maaf Bu, e-mail yang dimaksud itu yang mana ya?” tanya Aya dengan suara yang super pelan bak cicitan, untung saja indera pendengaran Bu Amel di atas rata-rata jadi perempuan itu masih bisa mendengar apa yang dikatakan Aya.
“E-mail yang kami kirim tadi pagi. Permohonan untuk menambah projek.”
Seketika, Aya langsung paham. Saking groginya, Aya sampai lupa akan e-mail yang baru dikirimnya pagi ini.
Dengan samar, Aya mengangguk. “Benar, Bu. Saya memang mengirimkan e-mail permohonan itu tadi pagi.” Aya mengkonfirmasi.
Jawaban Aya sontak membuat tawa Bu Amel pecah. Tidak, bukan tawa penuh canda seperti saat sedang menonton acara komedi, tapi tawa penuh sinis yang membuat Aya langsung menundukkan kepala dalam-dalam.
“Kamu semenjak di Jogja makan apa, hey? Kok mendadak konslet gini,” ujar Bu Amel bersama dengan sisa-sisa tawanya.
Meski merasa tak senang, Aya hanya bisa menundukkan kepalanya. Saat ini, prioritas utamanya adalah uang. Perempuan itu tidak ingin melakukan hal bodoh yang hanya akan merugikan dirinya.
“Proyek yang kamu kerjakan sekarang saja baru dua yan clear, kamu mau minta tambahan lagi?” tanya Bu Amel tak percaya.
Aya menelan ludahnya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk menjawab keraguan Bu Amel. “Saya akan menyelesaikan sisa projek saya paling lama minggu depan, Bu. Sesuai dengan deadline yang Ibu berikan.”
“Ck … ck … ck ….” Bu Amel menggelengkan kepalanya tak habis pikir. “Anak jaman sekarang. Suka minta kerja tambahan tapi nanti bukannya dikerjain, malah curhat di medsos bilang perusahaan tidak memanusiakan karyawannya.”
Mendengar asumsi itu, Aya langsung menggeleng tegas. “Saya bersumpah tidak akan melakukan itu, Bu. Kalau Ibu berkenan, saya bisa buat sumpah di atas materai,” tegas Aya.
“Kamu ini tiba-tiba ngotot minta projek tambahan kenapa sih?”
Aya terdiam, sedang menimbang-nimbang apakah dia harus berkata yang sebenarnya atau tidak.
“Kalau kamu tidak jawab ya sudah. Silakan keluar sekarang. Saya tidak mau mengambil resiko dengan menyetujui sesuatu yang bahkan saya sendiri tidak yakin,” tegas Bu Amel dengan suara acuh.
Aya menelan ludahnya. Dia tidak ada pilihan lain selain mengatakan yang sebenarnya. “Saya sedang butuh uang, Bu.”
Jawaban Aya langsung mengukir senyuman miring Bu Amel. Pandangan mata wanita 40 tahunan itu semakin sinis saja. “Sudah saya duga. Memang anak jaman sekarang selalu suka foya-foya. Nggak bisa mengira-ngira gaya hidup dengan penghasilan. Kamu ini nggak usah ikut-ikutan orang kaya. Pakai barang branded, makan di restoran mewah. Orang gaji kamu standar UMR aja banyak gaya.”
Aya meremas ujung bajunya, berusaha bereaksi setenang mungkin akan tuduhan Bu Amel yang keterlaluan. “Saya butuh uang buat biaya pengobatan Ayah saya, Bu. Bukan untuk foya-foya seperti yang Ibu pikirkan.”
***
Dengan gerakan cepat, Ryan langsung menahan Aya untuk membua satu lagi kaleng cola. Total sudah 3 kaleng dia habiskan sendiri, kalau sampai Aya menelan satu kaleng lagi, bisa-bisa perempuan itu akan sakit perut.
“Apaan sih lo, Yan!” seru Aya kesal saat Ryan dengan seenaknya meneguk cola-nya.
Sebagai gantinya, Ryan mendekatkan the hangatnya yang belum diminum pada Aya. “Lo minum teh hangat gue aja nih, gue lagi pengen cola,” jawab Ryan tanpa rasa bersalah.
Aya berdecak. “Apaan sih, padahal lo bisa ambil sendiri di kulkas.”
“Lo tadi dipanggil Bu Amel kenapa, Ya?” tanya Ryan yang sengaja mengalihkan pembicaraan.
Jika tidak sedang dalam waktu makan siang seperti ini, Ryan tidak akan bisa menyebut nama Bu Amel sembarangan apalagi di area sekitar kantor lantaran Bu Amel mempunyai pendengaran super yang bisa menangkap suara apapun, terlebih suara orang-orang yang sedang membicarakannya.
Sambil melahap nasinya, Aya menjawab, “Gue minta kerjaan tambahan.”
Jawaban Aya itu sontak membuat Ryan bingung. Setahunya, kerjaan Aya saja sudah menumpuk, apalagi jika ditambahkan pekerjaan lainnya. “Serius lo?!”
“Hm.”
Kening Ryan berkerut. “Ngapaian? Kerjaan biasa aja lo sering ngeluh kebanyakan.”
“Nggak ada ….’
Jawaban Aya yang terdengar bias itu seketika membangkitkan lagi keyakinan Ryan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada Aya.
“Em … bokap lo udah baikan, Ya? Kok lo udah balik lagi ke Jakarta,” ucap Ryan yang berusaha mengulik sesuatu.
“Gue nggak bisa fokus ngerjain kerjaan gue kalau di Jogja. Makanya gue balik ke Jakarta. Ohya Yan, nanti pulang kerja lo senggang nggak?”
Ryan mengangguk. “Gue nggak ada rencana apa-apa balik kerja nanti. Kenapa emang?”
“Tolong anterin gue ke klinik yang Tante lo rekomendasiin itu ya? Gue mau ngecek sendiri kliniknya.”