“Bapak ndak mau!” tolak Ayah Aya dengan tegas, langsung memalingkan wajahnya dari halaman website yang ditunjukkan Aya.
Meski Aya sudah menebak hal ini sebelumnya, perempuan itu tetap saja merasa kecewa. “Pak, ini kesempatan tahu! Mana boleh disia-siakan begitu,” bujuk Aya dengan wajah memelas.
Aya bersumpah pada dirinya sendiri dia akan melakukan apapun supaya Ayahnya mau mengikuti kemoterapi yang ia tawarkan, bahkan Aya sudi memohon ditengah keramaian sekalipun supaya Ayahnya setuju.
“Kesempatan opo! Wong Dokter saja bilang penyakit Bapak ini ndak bisa diapa-apain lagi, Ya. Bapak ini tinggal nunggu ajal saja!”
“PAK!” Aya dan Ibunya berteriak bersamaan saat mendengar ucapan sang Ayah.
Dengan gemas, Ibu Aya memukul lengan pria paruh baya itu. “Kamu ini kalau ngomong disaring dulu, kalau didengar malaikat bagaimana? Omongan itu doa tau!” tegurnya tak suka.
Napas Aya terasa sesak. Meski sulit bagi perempuan itu untuk bicara, Aya tetap berusaha tenang. “Pak, nggak boleh hopeless gitu. Nggak ada yang nggak mungkin kalau kita berusaha. Mau, ya?” mohon Aya sekali lagi.
“Kalian kok maksa Bapak terus, sih? Bapak ndak mau yang begituan, Nduk. Kalau sudah takdir ya terima saja. Sudah sudah! Bapak mau tidur.” Tanpa memperdulikan anak dan istrinya, Ayah Aya langsung menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepala.
Aya membuang napas kasar, menatap sang Ibu sambil memberi isyarat padanya untuk segera keluar.
“Kamu yang sabar ya, Nak.” Ibu Aya langsung mengelus pundak sang anak saat mereka sudah berada di luar kamar rawat inap. “Emosi Bapak masih belum stabil, kamu ndak boleh ikutan marah,” lanjutnya.
Aya mengacak-acak rambutnya gelisah. “Tapi Bapak bilang Bapak nggak mau ikut kemoterapi, Bu,” eluh Aya dengan suara yang tertahan lantaran tenggorokannya terasa seperti tercekik.
Aya tahu persis bagaimana sikap sang Ayah. Watak mereka—keras kepala—sangat mirip meski cenderung parah Ayahnya. Sekali mengatakan “tidak” maka selamanya akan seperti itu. Bahkan Aya tidak ingat kapan terakhir kalinya sang Ayah berubah pikiran.
“Nanti kita coba bujuk baik-baik, ya?” Ibu Aya berusaha menenangkan anaknya.
Aya menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Perempuan itu tidak habis pikir, yang perlu dilakukan Ayahnya hanyalah menjalani kemoterapi, Aya tidak berharap lebih dari itu. Perempuan itu yang akan mengurus pembayaran dan t***k bengeknya.
Dengan emosi yang masih memuncaki isi kepalanya, Aya kembali masuk ke dalam ruangan, dengan kasar menarik selimut Ayahnya.
“Aya, kamu ini kenapa sih!” teriak Ayahnya dengan wajah merah padam menahan amarah, begitupun dengan Aya.
Dengan air mata yang tak lagi bisa ditahannya, Aya berkata, “BAPAK ITU CUMA AYA SURUH JALANI KEMOTERAPI LOH! AYA YANG BAKAL NGURUS SEMUANYA, BAPAK TINGGAL TERIMA BERSIH. KENAPA SUSAH BANGET SIH?!” balas Aya dengan teriakan nyaring yang menyebar ke seluruh sudut ruangan.
Ayahnya mematap Aya dengan sepasang mata yang membulat marah. “Sejak kapan Bapak ajarin kamu ndak sopan seperti itu sama orang tua, hah?”
Aya berdecak kesal, melemparkan botol air mineral yang digenggamnya sehingga menimbulkan suara dentuman yang cukup keras. “Aya nggak bakal kayak gini kalau Bapak nggak keras kepala, Pak!”
“Aduh … sudah sudah,” Ibu Aya mencoba untuk menengahi keduanya, berusaha membawa Aya menjauh dari sang Ayah namun gagal lantaran genggaman wanita paruh baya itu ditepis begitu saja dengan Aya.
“Kamu ndak ngerti bahasa Indonesia, ya? Bapak bilang ndak mau ya berarti sampai matipun Bapak ndak bakal jalani seperti yang kamu bilang itu! Ndak usah coba-coba yang aneh, Bapak sudah siap. Mau mati besok juga Bapak sudah siap, Nduk!”
“Bapak itu jangan mikirin diri sendiri! Lihat Ibu, lihat Aya! Kami khawatir sampai nggak bisa tidur nyenyak, nggak bisa makan, pusing mikiran cara supaya Bapak bisa sembuh. Bapak malah seenaknya bilang udah siap mati. Bapak nggak mikirin perasaan kami ya?!” balas Aya yang jika saja tidak ditahan oleh Ibunya, sudah pasti perempuan itu akan melayangkan pukulan pada sang Ayah.
“Aya, sudah Nak. Bapak biarin istirahat dulu, ya?”
“Bapak jangan egois!” Aya kembali berteriak, sama sekali tidak memperdulikan ucapan Ibunya. “Hidup Bapak bukan cuma milik Bapak! Kalau Bapak nggak ada, Ibu sama Aya gimana, Pak? Pikirin keadaan kami juga kalau Bapak nggak ada!”
Mendengar keluh kesah anak semata wayangnya, Ayah Aya terdiam, menatap perempuan itu dengan pandangan dingin tanpa ekspresi.
“Keluar.” Satu kata singkat itu langsung membuat Aya terdiam, menatap Ayahnya tak percaya.
“Pak ….” Aya berkata lirih, seakan energinya yang, membludak tadi tidak lagi tersisa.
“Keluar, Ya,” ulangnya, masih dengan suara dingin tak berperasaan.
“Jangan pernah ke sini lagi. Bapak ndak mau lihat anak durhaka seperti kamu di akhir hidup Bapak.”
***
Sudah setengah tisu Aya habiskan untuk menyeka air matanya. Selama 3 jam penuh, dia habiskan dengan menangis tersedu-sedu di kamar sendirian.
“Jangan pernah ke sini lagi. Bapak ndak mau lihat anak durhaka seperti kamu di akhir hidup Bapak.”
Apakah salah bagi seorang anak berharap orang tuanya bisa hidup sehat kembali? Apakah salah bagi Aya untuk menginginkan kesehatan Ayahnya? Apakah salah bagi Aya ingin Ayahnya hidup lebih lama?
Mengingat perkataan Ayahnya itu kembali membuat Aya menangis tersedu-sedu. Baru kali ini Aya merasakan hatinya hancur karena sang Ayah.
Perempuan itu menatap satu koper yang sudah dipenuhi oleh bajunya dengan mata sembab, dia akan kembali ke Jakarta dengan bus terakhir malam ini. Aya tidak ingin menjadi anak yang lebih durhaka dari ini. Oleh karena itu, dia menuruti permintaan terakhir sang Ayah—pergi.
Untuk yang ketiga kalinya, telinga Aya menangkap suara nada dering ponselnya yang tergeletak begitu saja tepat di samping Aya.
Ryan. Nama yang sama seperti sebelumnya.
Aya menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya sebelum akhirnya mengangkat telepon dari Ryan.
“Halo, Yan?” ucap Aya dengan suara bergetar yang tidak dapat disiasati.
Ryan terdiam sejenak. “Lo habis nangis, Ya” tanya Ryan dengan ragu.
“Kenapa lo nelpon, Yan?” tanya Aya balik, sengaja mengubah topik pembicaraan.
“Oh, anu … kata Tante gue, daftar kemoterapinya rada ribet. Kalau lo mau, Tante gue bisa bantu, biar lo nggak perlu ngantri. Gimana, Ya?”
Mendengar kemoterapi, napas Aya kembali terasa sesak. Dengan sigap, Aya menutup mulutnya gara Ryan tidak mendengar isakan tangisnya.
“Halo Ya? Masih di sana, kan? Lo kasih tahu aja tanggal mau mulai kemoterapi, nanti tante gue urus sisanya,” lanjut Ryan.
Tanpa berkata apapun, Aya dengan sepihak menutup sambungan teleponnya. Dia tidak ingin mendengar apapun yang berkaitan dengan sang Ayah sekarang. Perempuan itu tidak sanggup. Rasanya seperti ratusan ton batu jatuh mengenai kepalanya.
Ryan: Sorry Ya, seharusnya gue lebih peka sama kondisi lo
Ryan: Take your time. Gue yakin apapun yang terjadi, itu yang terbaik
Ryan: Kalau butuh teman curhat, just call me.