Untuk yang kesekian kali, Aya membasuh wajahnya dengan air dingin di tengah malam. Sudah tiga hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali perempuan itu menutup matanya, bayangan akar pikiran-pikiran buruk yang akan menimpa Ayahnya terpampang sangat jelas, membuat Aya takut untuk tertidur.
Aya kembali ke kamar, menatap Ayahnya yang sedang tertidur pulas. Guratan kelelahan itu sangat terpampang jelas di mata Aya sekarang. Seharusnya, dia lebih peka. Seharusnya Aya melarang Ayahnya untuk bekerja keras di usia tuanya, seharusnya Aya menjadi anak yang berbakti.
Ratusan penyesalan berputar di sekeliling Aya, membuat perempuan itu merasa telah menjadi anak durhaka. Kalau saja Aya lebih perhatian pada mereka, sudah pasti Ayahnya tidak akan terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan alat bantu pernapasan yang membuatnya tidak nyaman.
“Nak,” panggilan lirih itu langsung mengalihkan seluruh atensi Aya.
Dengan sedikit energi yang tersisa, Aya tersenyum pada seorang wanita paruh baya yang terbaring lelah di atas sofa. “Iya, Bu?” jawab Aya sambil berjalan menghampiri Ibunya.
“Kok Ibu lihat dari tadi kamu ndak tidur-tidur, to? Apa ndak capek?” tanya Ibunya khawatir. “Itu kantung matamu sudah kelihatan.”
Aya menggeleng. “Belum ngantuk, Bu.”
Ibunya mendesah. “Kalau kamu ndak bisa tidur di sini, pulang saja ke rumah. Ibu bisa kok jaga Bapak di sini sendirian. Muka kamu kelihatan capek banget itu, Nak,” tuturnya dengan lembut.
Aya lagi-lagi menggeleng. “Nggak, Bu. Ibu aja yang istirahat di rumah biar Aya yang jaga Bapak.”
Mendengar jawaban anaknya itu. Ibu Aya kembali terdiam, menyaksikan anak semata wayangnya kembali menatap sang Ayah dengan pandangan kosong. “Itu bukan salah kamu, Nak. Bapak sudah tua, wajar kalau sakit. Kamu ndak usah mikir yang aneh-aneh.”
Mendengar itu, tangis Aya kembali pecah. Bukannya merasa lega Ibunya sama sekali tidak menyalahkan Aya, perempuan itu justru merasa semakin bersalah. “Seharusnya Aya lebih perhatian, Bu. Ngajak Bapak sama Ibu tes kesehatan rutin,” sesal Aya yang menumpahkan segala bebannya pada paha Ibunya.
“Sshhh,” Ibu Aya mengelus rambut anaknya. “Kan sudah Ibu bilang bukan salah kamu. Sudah takdirnya begitu, ndak ada yang perlu disesali, Nak.”
Aya menggeleng tak setuju. “Dulu pas Aya sakit Bapak sama Ibu selalu berusaha buat Aya sembuh. Sekarang … sekarang pas Bapak sakit Aya nggak bisa buat apa-apa. Aya anak durhaka, Bu ….”
“Loh, kok kamu mikirnya gitu sih, Nak? Kan dulu kamu sakitnya cuma demam. Sudah-sudah, jangan nangis lagi. Nanti Bapak bangun,” bujuk Ibunya yang sama sekali tiadk mempan. Aya terus menangis dengan suara yang tertahan.
“Aya, umur Bapakmu itu berapa?”
Dengan terisak-isak, Aya menjawab, “65.”
Ibunya tersenyum lembut, senyuman kecil yang tidak sampai membuat matanya menyipit. “Di umur yang sudah lebih dari setengah abad itu, sudah wajar banyak penyakit yang muncul, Nak. Mau dihindari bagaimanapun, takdirnya sudah tertulis seperti itu.”
“Dari pada kamu menyesali yang sudah-sudah, lebih baik kamu belajar untuk lapang d**a. Rencana Tuhan jauh lebih baik daripada rencana manusia, Nak. Ingat, Tuhan tahu yang terbaik. Kalau kamu ndak percaya sama apa yang Ibu bilang, setidaknya kamu percaya sama Tuhan. Selalu ada hal baik diantara ribuan hal buruk.”
Aya menelan ludahnya, memasukkan semua kata yang keluar dari mulut wanita paruh baya yang merawatnya itu dengan seksama.
“Sudah sedihnya. Kita dukung Bapak sama-sama, ya? Kalau kamu sedih, Bapak psti lebih sedih. Terima semuanya dengan lapang d**a, Tuhan pasti bakal nunjukin jalan mana yang harus kamu tempuh. Paham, Nak?”
Aya mengangguk lemah. Sekali lagi, Aya harus belajar menerima kenyataan pahit
***
Sudah dua jam penuh Aya fokus pada layar ponsel dan laptopnya secara bergantian. Jam yang menunjukkan pukul 11 malam itu sama sekali tidak mempengaruhinya untuk bergegas istirahat. Perempuan itu bersumpah tidak akan menutup matanya sebelum dia menemukan apa yang dicarinya.
“Lo tadi bilang apa, Ya? Sorry banget, gue lagi lembur di kantor ngurus laporan jadi nggak merhatiin tadi lo ngomong apa,” ucap Sandra untuk yang ketiga kalinya dari sambungan telepon.
Aya menghela napasnya, berusaha untuk bersabar. Sandra yang berubah menjadi sosok gila kerja itu benar-benar menguji kesabarannya. “Lo tahu tempat kemoterapi kanker paru-paru yang bagus nggak? Kalau bisa di sekitaran Pulau Jawa aja,” ulang Aya yang sebenarnya sudah muak, tapi dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Meski kemungkinannya 0.001% bagi Sandra untuk mengetahui tempat semacam itu, Aya tetap harus mencobanya.
“Kemoterapi? Untuk apa emangnya?” tanya Sandra balik.
“Ada kenalan gue, bokapnya lagi sakit. Lo tahu tempat begituan nggak?” jawab Aya yang sudah pasrah.
“Ya … gue nggak tahu. Ada-ada aja lo nanya yang begituan ke gue. Lagian kalau cuma untuk kenalan kenapa lo yang repot-repot, sih? Kayak kurang kerjaan aja. Waktu itu berharga tahu, Ya,” ucap Sandra yang seketika langsung menyayat hati Aya.
Aya menelan ludahnya dengan susah payah, berusaha membuat suara sestabil mungkin. “Ah, gue tahu kok kalau lo sibuk. Sorry ya gue ganggu,” balas Aya.
“Hm, kalau gitu gue matiin ya. Dari tadi bos gue udah ngawasin nih. Bye!”
Aya melemparkan ponselnya pada sofa, menatap kosong ke arah layar laptop yang sedang menampilkan halaman pencarian Google. Dela sudah, Sandra sudah, Bima sudah, teman-teman kerjanya sudah. Tapi sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang tahu klinik kemoterapi yang bagus.
Siapa lagi yang harus ditanya? Saking frustasinya, sempat terlintas di kepala Aya untuk membuat iklan bantuan di sepanjang jalan raya.
Sunsetz
We wander through a foreign town
Suara nada dering ponselnya yang terdengar itu kembali membuat Aaya bangkit dari posisi tidur terlentangnya hingga setengah duduk. Satu nama yang terpampang di layar ponselnya membuat Aya langsung tersenyum cerah. Biasanya kalau Ryan menelpon, pasti ada berita baik yang akan diberitahukan oleh pria itu.
“Halo, Yan?”
“Oh, belum tidur, Ya?” balas Ryan yang sedikit terkejut mengetahui Aya mengangkat panggilannya dengan sangat cepat.
Aya lantas membuang napasnya kasar. “Mana bisa tidur gue Yan. Lo tahu sendiri kan,” jawab Aya yang tidak mau menyebutkan secara gamblang kondisinya sekarang. “Lo kenapa telepon gue?”
“Tadi gue minta tolong sama saudara gue buat bantu cari klinik kemoterapi—”
“GIMANA HASILNYA?!” potong Aya yang tidak tahan untuk tidak berteriak. Untung saja sekarang dia tengah berada di rumahnya sendiri.
Ryan terkekeh mendengar reaksi Aya. “Sabar dong Ya, ini juga gue belum selesai ngomong udah main potong aja.”
Aya berdecak. “Ya … siapa suruh lo lama banget ngomongnya. Berasa pidato,” protes Aya yang tentu saja tidak mau disalahkan.
“Kata tante gue, ada satu klinik kemoterapi khusus kanker gitu. Temannya ikut itu di sana udah rada baikan. Tapi dia di Jakarta, pas gue cari tahu juga ternyata belum ada buka cabang di sekitar Jogja,” jelas Ryan.
Seketika, semangat Aya kembali menurun. Di otaknya, sudah terbayang Ayahnya yang berteriak tidak setuju saat Aya menyarankan mereka sekeluarga untuk pindah ke Jakarta.
“Halo Ya, ketiduran ya lo? Kok diam aja,” kata Ryan yang sama sekali tidak mendengar suara Aya selama satu menit penuh.
“Eh, kirim aja alamat kliniknya ke gue, Yan. Biar gue hubungin langsung pihak kliniknya buat tanya-tanya,” jawab Aya yang langsung tersadar dari lamunan liarnya.
“Hm, ini gue kirimin ke lo website-nya ya. Di sana ada kontaknya kok.”
“Makasih banyak ya, Yan. Sorry gue ngerepotin lo terus. Nanti kalau masalah ini udah kelar gue traktir lo seminggu penuh deh,” ucap Aya dengan tulus.
“Hahaha apaan sih lo! Kayak orang asing aja tahu nggak. Lo mau nyusahin gue setahun full juga santai aja, selagi gue bisa bakal gue tolongin kok.”