14. penenang

1252 Kata
Rasanya, bibir Aya ditahan oleh sesuatu yang tak kasat mata sehingga tidak sedikitpun dari ujung bibirnya bergerak membalas senyuman antusias Ryan yang masih setia duduk di kursi kantin rumah sakit hingga pukul 5 sore. “Gimana? Bokap lo nggak apa-apa, kan?” tanya Ryan yang tidak bisa membaca jawabannya dari raut wajah Aya. Perempuan itu tak membalas. Aya tetap menunduk dalam, menatap teh hangat yang sama sekali tidak menarik di matanya. Kenyataan bahwa Ayahnya mengidap penyakit kanker sama sekali tidak bisa diterima. “Nggak mungkin,” gumam Aya sambil menggeleng tak percaya. Mungkin Ayahnya harus dibawa ke rumah sakit yang lebih bagus dan dites ulang. Ayahnya tidak mungkin sakit. Ryan mengangkat satu alisnya. Kini, dia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres. “Ya? Bokap lo nggak apa-apa, kan?” ulang Ryan dengan penuh kehati-hatian. Kepala Aya terangkat, menatap Ryan dengan wajah serius. “Lo tau rumah sakit yang bagus di mana? Nggak harus di sekitaran sini. Gue mau tes ulang.” Ryan menelan ludahnya. Dugaan pria itu benar, ada sesuatu yang tidak beres. “Ya, hasilnya ….” Ucapan Ryan itu langsung membuat air mata Aya tumpah. Mengenai hasil dari tes Ayahnya, Aya sengaja belum memberitahu kedua orang tuanya. Perempuan itu pun sama sekali belum menemui mereka. Aya bersumpah tidak akan memberitahu mereka sebelum dia sendiri percaya dengan hasilnya. “Ng—nggak mungkin, hasilnya pasti salah, Yan,” rancau Aya dengan tersedu-sedu. Melihat keadaan temannya itu, Ryan dengan sigap pindah posisi, menduduki kursi kosong di samping Aya sambil memberikan elusan pelan pada punggung Aya untuk menguatkannya. Mulut Ryan terkunci. Dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, membuat pria itu ragu untuk berkata barang satu huruf saja yang bisa berakibat fatal. Sebelum Aya menceritakan apa yang terjadi, Ryan tidak berani membuka mulutnya. “Yan, kok lo nggak jawab gue sih? Lo tahu rumah sakit yang bagus dimana nggak?” Aya bertanya ulang dengan nada suara sedikit membentak. Ryan menarik napasnya dalam-dalam, berusaha membuat dirinya setenang mungkin sebelum meladeni Aya. “Gue nggak bisa kasih saran sebelum lo ceritain apa yang terjadi ke gue, Ya,” jawab Ryan. Mendengar jawaban yang tidak sesuai dengan harapannya, tangisan Aya semakin menjadi-jadi. Punggung perempuan itu bergetar hebat. Rasanya, seperti jutaan ton beban menimpa Aya sekaligus, sama sekali tidak memberikan perempuan itu cela untuk bernapas. “Ya, lo nggak perlu memendam semuanya sendirian. Gue temen lo, lo bebas cerita sama gue soal apapun, termasuk masalah lo,” ucap Ryan dengan lembut, berusaha meyakinkan Aya. Aya menari napasnya dalam-dalam. “Bokap gue didiagnosa kanker paru-paru,” jawab Aya dengan wajah yang masih menunduk, tidak ingin mengetahui ekspresi apa yang ditampilkan Ryan. Aya sungguh benci saat seperti ini. Saat dia dalam kondisi mengenaskan dan cerita pada seseorang. Melihat ekspresi yang seakan-akan menyatakan rasa “kasihan” sungguh membuat hati Aya terluka. Dari dulu hingga detik ini, Aya paling benci dikasihani oleh orang lain. Ryan masih terdiam, berusaha menyusun kalimat terbaiknya yang dapat menghibur Aya. “Lo nggak perlu nyemangatin gue atau apapun itu. Cukup jawab lo tahu rumah sakit yang bagus, nggak?” “Lo nggak percaya sama hasil diagnosis dokternya?” tanya Ryan yang berhasil membuat Aya tak berkutik. Ya, dia tidak mempercayainya. Bahkan jika lebih dari seratus dokter mengatakan hal yang sama, dia masih tidak mempercayainya. Aya tidak mau mempercayainya. “Bokap gue selama ini sehat-sehat aja, Yan. Dia setiap hari nelepon gue, sering bercanda, nggak pernah mengeluh apapun, masa tiba-tiba kena kanker. Mustahil tahu nggak!” jelas Aya ngotot, berusaha meyakinkan Ryan bahwa ini semua tidak benar. “Lo belum kasih tahu orang tua lo, kan?” Aya terdiam, tidak menjawab yang langsung dimengerti Ryan sebagai jawaban “ya”. Ryan menghela napasnya. “Kalau orang tua lo nanya kenapa tiba-tiba pindah rumah sakit terus tes ulang lo bakal jawab gimana?” “Ya … gue tinggal bilang kalau hasil tes di rumah sakit ini nggak valid. Lagian mau seribu kali tes juga nggak ada ruginya,” jawab Aya keukeuh. “Aya.” Ryan menggenggam tangan perempuan itu, berusaha untuk mendapatkan atensi Aya seluruhnya. “Dengerin gue, ya.” Aya menggeleng. “Lo nggak bakal ngerti, Yan. Bokap gue—” “Iya gue tahu gue nggak bakalan bisa ngertiin perasaan lo sekarang sepenuhnya. Tapi please, dengerin gue dulu, Ya,” potong Ryan dengan tegas yang langsung berhasil membuat Aya terdiam patuh. “Daripada lo habisin waktu buat tes ulang kemana-mana, menurut gue lebih baik lo fokus buat penyembuhan bokap lo. Gue tahu, pasti berat buat lo menerima kenyataannya. Tapi Ya, lo nggak bisa terus-terusan denial, ada kalanya lo harus terima sesuatu yang nggak sesuai dengan harapan lo,” jelas Ryan dengan bahasa sehalus mungkin. Tangan Ryan beralih merapikan surai rambut Aya, menyelipkannya di belakang daun telinga. “Tenangin diri lo dulu, orang tua lo sekarang pasti lagi khawatir karena lo nggak segera menghampiri mereka.” Aya mengangguk. Kini, kepala perempuan itu tidak lagi menunduk. Aya menatap lurus pada kedua bola mata gelap milik Ryan. “Tapi Yan, gimana gue bilang ke mereka? Bokap nyokap gue udah tua, gue takut mereka kenapa-kenapa,” ucap Aya terus terang. Disaat seperti ini, otaknya benar-benar tidak berfungsi sehingga Aya sama sekali tidak bisa berpikir jernih. “Jelaskan pelan-pelan, Ya. Lo nggak bisa selamanya bohong sama mereka,” jawab Ryan sambil menyodorkan selembar tisu pada Aya. “Oke, makasih banyak ya, Yan.” “No need to thank me. Kuatin diri lo, Ya. Sekarang, kedua orang tua lo ngandelin lo, oke?” *** Saat mendengar suara knop pintu terbuka, Ibu Aya segera berdiri dari kursinya, begitupun dengan Ayahnya yang langsung terduduk. Keduanya menatap kehadiran Aya dengan wajah penuh ketegangan. “Apa kata Dokter, Nak?” tanya Ibu Aya dengan tidak sabaran. Aya tersenyum tipis, dengan lembut membawa Ibunya kembali duduk di kursi tepat di samping ranjang Ayahnya. Pandangan Aya beralih pada Ayahnya. “Bapak nggak ngerasa keluhan apapun, kan?” tanya Aya setenang mungkin. “Yo ndak. Kan sudah Bapak bilang, Bapak itu ndak kenapa-kenapa. Dokter juga bilang Bapak ndak kenapa-kenapa, kan?” tanya Ayahnya dengan antusias. Aya mengangguk. “Tapi Bapak harus tinggal di sini lebih lama.” Penjelasan Aya barusan langsung membuat kedua orang tuanya membelalak kaget. Ibunya kembali berdiri, memegang kedua pundak Aya, mekasanya memberikan penjelasan. “Bapakmu kenapa, Nak?” tanya Ibu Aya dengan suara bergetar, tinggal menunggu hitungan detik saja sebelum perempuan itu akhirnya menangis. Aya menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan rasa sakit saat mendengar rintihan tangis sang Ibu, memilih menatap lurus ke arah nakas agar dia tidak ikut menangis. “Nduk, Bapak cuma di sini sampai besok kan?” tanya Ayahnya penuh harap sambil menggenggam tangan Aya erat-erat. Masih dengan pandangan yang tertuju pada nakas, Aya menggeleng pasrah. “Paru-paru Bapak rusak, jadi Bapak perlu alat bantu napas dan dirawat lebih lama.” Penjelasan singkat dari Aya itu langsung membuat Ibunya menangis lebih keras, begitu pun dengan Ayah Aya yang meski diam saja, air matanya sudah membasahi pipi penuh kerutan itu. Aya melirik sejenak Ayahnya, mendapati pandangan penuh rasa bersalah yang tertumpahkan padanya. “Maafkan Bapak, Nduk.” Aya menggeleng, tak mampu lagi menahan tumpukan air mata yang memenuhi kelopaknya. Dengan segenap kekuatannya yang tersisa, Aya menumpahkan semua air matanya sambil berpelukan dengan Ayahnya, sama-sama menyesali keputusan Tuhan yang memberikan cobaan besar pada mereka. Tanpa Aya sadari, ponsel perempuan itu sedari tadi bergetar, menandakan ada beberapa pesan masuk. Ryan: Gue harus balik ke Jakarta, maaf nggak bisa nemenin lo Ryan: Kalau ada apa-apa cerita aja ke gue Ryan: Jangan lupa makan sama istirahat. Lo bakal butuh tenaga lebih
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN