“Di lantai satu ada Jo. Awas aja kalau gue lihat lo cari muka sama dia.”
“Sorry, pusat dunia bukan cuma Jo. Jadi jangan terlalu percaya diri.”
“Astaga!” refleks, Ryan berteriak kaget saat tiba-tiba saja dia dicubit saat sedang fokus menatap layar laptop.
Pelakunya yang lain dan tak bukan adalah Aya. Dengan wajah kesal seperti baru bertemu dengan musuh bebuyutan, Aya melemparkan kertas yang tadi dia dapatkan dari petugas administrasi ke atas meja begitu saja sebelum akhirnya mengambil tempat duduk di samping Ryan.
“Kenapa lo?” tanya Ryan heran sambil menaikkan satu alisnya. Ryan mengenal ekspresi itu—ekspresi yang selalu ditunjukkan Aya setiap kali keluar dari ruangan Bu Amel—tapi tidak mungkin dia bertemu dengan Bu Amel di sini. Jadi pasti ada sesuatu lain yang terjadi.
“Hoy! Ditanya kok malah diam aja, sih,” ulang Ryan sambil mencolok-colok pipi Aya dengan jari telunjuknya. “Ketemu Bu Amel lo?”
Masih dengan mulut yang manyun ke depan, Aya menggeleng.
“Jadi kenapa? Bukannya tadi lo bilang mau nemenin bokap lo tes habis siapin administrasi? Kok malah nangkring di sini.”
“Gue tadi habis ketemu manusia jelmaan iblis.”
“Hah?”
Aya berdecak kesal. Kenapa disaat seperti ini telinga Ryan tidak berfungsi dengan baik, sih? “Manusia jelmaan iblis. Tadi gue ketemu dia di lift,” jelas Aya ulang.
Ryan terdiam sejenak. Alisnya yang seperti ulat bulu itu menyatu, pertanda dia sedang berpikir keras. Manusia jelmaan iblis, satu-satunya yang ada di otak pria itu adalah …. “Bu Amel? Lo ketemu Bu Amel?”
“Bukannn! Manusia jelmaan iblis kok jadi Bu Amel, sih?” jawab Aya kesal. Ternyata, tidak ada faedahnya dia mampir ke sini sebentar. Bukannya mereda, emosinya malah semakin parah.
“Ya … Bu Amel. Kelakuannya kayak iblis, kan? Nggak punya rasa simpati,” ulang Ryan yang masih keukeuh kalau manusia jelmaan iblis yang dimaksud Aya adalah Bu Amel—ketua timnya.
Aya membuang napasnya kasar. “Astaga Ryan ….” kesalnya tertahan. Kalau saja Aya tidak menahan diri, sudah pasti rambut Ryan yang klimis itu akan menjadi korban jambakannya.
“Kalau bukan Bu Amel jadi siapa?”
“Ck, kepo lo!” jawab Aya yang kini malah berdiri dari kursinya.
“Loh loh … lo mau ke mana? Kok malah berdiri.” Refleks, Ryan menarik pergelangan tangan Aya, membuat langkah perempuan itu terhenti.
“Ya mau nyusul nyokap gue lah, pake nanya lagi. Kasian dia nunggu sendirian,” jawab Aya nyolot akibat emosinya yang masih belum stabil.
Dahi Ryan berkerut. “Kok main ninggalin gitu aja, sih? Lo kan belum kasih tahu siapa manusia jelmaan iblis itu ke gue. Tanggung jawab lo, kepo nih gue,” protes Ryan.
Aya lagi-lagi berdecak. “Ah, nggak penting itu. Kalau gue cerita juga lo nggak kenal orangnya. Gue pergi dulu ya, bye!”
***
Untuk yang kesekian kalinya, Aya menarik napasnya dalam-dalam. Sudah lebih dari 15 menit Aya bersembunyi di balik tiang, menatap Ibunya dari kejauhan yang sedang menatap kosong satu pintu yang tertutup rapat tepat di hadapannya.
Tanpa bisa dikendalikan, ujung jari jemari Aya bergetar hebat pertanda bahwa perempuan itu sedang gugup bukan main.
Sebagai seorang anak, sudah seharusnya Aya duduk tepat di samping Ibunya, saling berpegangan tangan atau berpelukan untuk menguatkan satu sama lain, namun entah kenapa begitu sulit bagi Aya untuk melakukannya.
Kalau Aya duduk di samping Ibunya, seketika perempuan itu berubah menjadi sosok manja yang tentu saja akan menangis tersedu-sedu yang ujung-ujungnya akan merepotkan Ibunya.
“Aya, kok mau berdiri di situ, Nak?” tanya Ibu Aya yang akhirnya menyadari kehadiran anak semata wayangnya itu.
Aya tersenyum samar. Jika sudah ketahuan seperti ini, Aya tidak punya pilihan lain selain menghampiri Ibunya.
“Kok tadi lama perginya? Satu jam lebih, loh.” Tanpa melirik sedikitpun, Ibu Aya dengan sigap menggenggam tangan Aya sekuat mungkin sambil sesekali mengelusnya.
“Iya, tadi ngantri Bu. Nggak ada sesuatu yang penting kan pas Aya pergi?”
Ibu Aya menggeleng. “Ndak ada, kok. Ibu cuma khawatir aja, kirain anak gadis Ibu yang satu ini diculik,” jawabnya yang berusaha mencairkan suasana dengan menambahkan sedikit humor.
Usaha besar Ibunya itu berbuah manis. Aya terkekeh pelan, “Ibu ini ada-ada aja, masa Aya yang sebesar ini diculik di rumah sakit.”
Selanjutnya, tidak ada lagi diantara mereka yang membuat suara barang sekecil apapun itu. Aya akhirnya menyerah. Kepalanya yang terasa amat berat akhirnya disandarkan pada pundak sang Ibu yang langsung disambut dengan elusan lembut yang terasa amat hangat, seketika membuat seluruh beban Aya terangkat.
“Kalau Bapak sakit parah gimana, Bu?” Aya tak mampu lagi menahan satu pertanyaan yang sejak dulu bersembunyi di ujung lidahnya.
“Hush … kamu ndak boleh ngomong begitu. Bapak pasti baik-baik aja. Berdua sama yang Maha Kuasa semoga kita semua diberi kekuatan untuk jalani cobaan ini. Paham?” jelas sang Ibu dengan suara bergetar. Tanpa melihat pun, Aya yakin Ibunya itu pasti sedang menahan tangis.
Aya tak menjawab, memilih menatap kosong pada pintu yang beberapa saat lalu terbuka lantaran seorang suster datang membawa berkas yang dilindungi oleh amplop cokelat. Aya yakin, itu pasti berkas hasil tes Ayahnya.
Tak lama berselang, seorang suster keluar sambil menatap Aya dan Ibunya secara bergantian. “Apa Ibu dan Mbaknya wali dari Bapak Suwarno Winata?” tanya suster itu dengan ramah.
Seketika, Aya dan Ibunya berdiri. “Iya iya, benar. Hasilnya sudah keluar?” tanya Aya panik. Tuhan … dia belum menyiapkan diri untuk sesuatu semacam ini.
Suster itu tersenyum sambil membuka pintu lebih lebar. “Salah satunya silakan masuk, Dokter ingin bicara soal hasil tesnya.”
Baru saja Aya hendak melangkah, Ibunya langsung menahan. “Ingat Nak, apapun hasilnya nanti, jangan kelihatan sedih di depan Bapak. Oke?”
Aya terdiam sejenak sebelum menghembuskan napasnya kuat-kuat. “Hm, oke.”
“Dengan wali Bapak Suwarno Winata?” tanya Dokter tepat sesaat setelah Aya duduk di kursi.
Aya mengangguk. “Benar.”
“Kamu siapanya pasien?”
“Anaknya, Dok.”
Mata Aya menatap lurus, fokus menelaah ekspresi Dokter yang menatap layar komputernya. Mulut Dokter itu terkatup rapat dengan alis yang menyatu. Itu tentu saja bukan pertanda yang baik.
“Em … Ayah siapa tidak apa-apa kan, Dok?” Aya berinisiatif bertanya terlebih dahulu dengan penuh kehati-hatian.
Dokter itu lalu menghembuskan napasnya sambil menggigit bibir bagian bawahnya. “Begini … dari hasil CT scan, kondisi paru-paru pasien tidak terlihat bagus.”
Seketika, air mata yang dari tadi ditahan-tahan langsung memenuhi kelopak mata Aya. Hal yang paling ditakuti Aya pun terjadi. “
Ma-maksudnya, Dok?”
“Dari hasil tes tadi, hampir separuh paru-paru kiri pasien rusak, membuat pasien kesulitan bernapas. Hal ini yang menyebabkan
pasien tiba-tiba pingsan. Jika tidak segera diobati, pasien kemungkinan besar akan mengalami kejadian serupa secara terus-menerus.”
Dokter itu lagi-lagi terdiam. Seakan-akan tengah menimbang sesuatu yang lebih buruk lagi. “Kerusakan paru-paru yang dialami pasien ini terjadi karena pasien mengidap kanker paru-paru.”
Mendengar itu, Aya langsung menggeleng tak percaya. Ayahnya selalu terlihat sehat bugar, tidak mungkin dia mengidap kanker.
“Dengan kerusakan separah ini, tindakan paling aman dan terbaik yang bisa kami lakukan adalah operasi donor paru-paru. Donor paru-paru ini hanya bisa dilakukan jika ada pasien yang mati otak dan disetujui oleh pihak keluarga dan bisa juga didapat dari donor salah satu pihak keluarga,” lanjutnya.
“Saya, Dok! Saya akan mendonorkan paru-paru saya.” Aya langsung mengangkat tangannya tanpa keraguan.
Lagi-lagi, Dokter itu menghela napasnya. “Tapi sayangnya, pasien tidak bisa dioperasi.”
“Hah?!”
“Pasien juga mengidap gangguan pembekuan darah yang akan menyebabkan kemungkinan pasien tidak selamat saat operasi. Oleh karena itu, pasien tidak bisa dioperasi.”
Hancur sudah. Aya tidak lagi bias menahan air matanya. Tanpa memikirkan rasa malu, Aya mengeluarkan semua kekecewaannya dengan menangis meraung-raung di depan Dokter dan suster.
“Kami mohon maaf, tapi untuk sekarang yang bisa kami lakukan hanyalah memberikan pasien obat dan alat bantu pernapasan.”