“Lo mau vanilla latte, kan?”
Pandangan Aya langsung beralih dari berkas yang diberikan Ryan beberapa menit lalu. Perempuan itu mengangguk. “Hm, kayak biasa gulanya sedikit aja.”
Setelah pria itu berbincang dengan kedua orang tua Aya cukup lama, Aya akhirnya mengajak Ryan ke kantin rumah sakit berhubung mereka berdua belum sempat makan siang.
Tak lama berselang, Ryan kembali dengan segelas americano dan vanilla latte yang langsung disodorkan pada Aya. “Tadi Bu Amel barusan chat gue buat stay di daerah sini dulu, takutnya klien protes lagi.”
“Kalau gitu lo jalan-jalan lah dulu. Masa iya sampai Jogja nggak jalan-jalan, nggak asik tahu,” saran Aya.
Ryan menggeleng. “Gue mau di sini aja boleh nggak sih?”
Mendengar itu, dahi Aya seketika berkerut. Dia ingat dulu sekali Ryan pernah cerita ingin jalan-jalan mengelilingi Jogja. Eh, kenapa sekarang dia malah mau mendem di rumah sakit. “Ngapain? Mau bantu petugas jagain ruangan jenazah lo?”
Ryan mengedikkan bahu. “Males aja gue. Ya kali jalan sendiri, mana gue nggak tahu arah. Kalau nyasar sampai Surabaya kan berabe. Mending disini nemenin lo. Ya nggak?” Ryan menaik-turunkan alisnya yang langsung membuat Aya berdecak.
“Gaya amat lo! Kalau di sini sih lo bakal jadi babu. Mau emang?” tantang Aya sambil menunjuk laptop-nya yang sudah panas bukan main.
“Oke! Cuma sehari, no problem,” jawab Ryan dengan begitu gampangnya.
“Lah beneran?!” mata Aya membelalak, Saking kagetnya, perempuan itu hampir menumpahkan vanilla latte yang baru diminumnya.
“Ck! Nggak percayaan amat lo,” protes Ryan yang tersinggung saat ditatap penuh keraguan oleh Aya. “Kebetulan gue bebas tugas satu hari nih. Gue nggak maksa sih, kalau lo nggak mau dibantu ya udah, gue jalan-jalan keliling rumah sakit aja.”
Mata Aya mengerjap beberapa kali. Apa jangan-jangan hati nurani Ryan tanpa sengaja tertukar dengan hati nurani orang baik. “Kok … kok lo tumben baik sih?” tanya Aya polos.
“Cih! Dari mana aja lo? Gue dari dulu juga baik kali. Kalau nggak baik mana mungkin gue disayang satu perusahaan.”
Refleks, Aya melemparkan gumpalan tisu pada Ryan. Bisa-bisanya dia menyebut dirinya kesayangan satu perusahaan padahal jelas-jelas mereka berdualah yang paling sering dikucilkan bahkan dengan teman satu tim sendiri.
“Ngaco lo!”
Ryan tertawa terbahak-bahak. Memang dasar anak muda, suka sekali menertawakan nasib yang miris. “Jadi gimana, mau di tolong nggak? Penawaran terakhir nih,” ulang Ryan sambil memasang wajah sok jual mahal.
“Hehehe.” Aya seketika tersenyum sok imut sambil menggerakan laptopnya secara perlahan ke arah Ryan. “Tolongin dong bestie ….”
Ryan memutarkan matanya sambil berusaha menahan senyum. “Tadi aja pura-pura kaget.”
“Hehehe, ini kerjaannya ringan kok. Lo tinggal salin ulang poin-poin penting yang dikirim klien lewat email ke word. Nggak banyak, palingan dua jam siap. Gue mau nyusul konsep projek iklan kaos kaki. Ya?” jelas Aya yang masih memasang wajah sok imut.
“Ringan sih ringan, tapi kok emailnya yang masuk seratusan lebih, ya,” komentar Ryan yang menatap rentetan email belum terbaca dengan wajah nelangsa. Baru kali ini dia memilih pilihan yang buruk.
“Nggak semuanya kok, semampu lo aja. Nanti gue traktir makanan deh.”
Ryan tak membalas ucapan Aya. Sekarang, dia telah masuk ke dunianya sendiri, sibuk menelaah setiap isi pesan yang masuk dan menyalinnya di word, begitupun dengan Aya. Perempuan itu sibuk mencoret-coret kertas HVS dengan pensilnya tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
“Lo nggak pergi, Ya?” tanya Ryan secara tiba-tiba.
Seketika, Aya menghentikan aktivitas mencoret-coret kertasnya, beralih menatap Ryan dengan tatapan bingung. “Hah, pergi ke mana?” Aya bertanya balik.
“Bukannya jam 3 bokap lo bakal jalani tes, ya? Atau gue salah ingat kali. Sorry sorry, ganggu.”
“Eh—” seketika, nyawa Aya rasanya akan melayang. “Ini jam berapa?” tanyanya panik.
Ryan melirik jam yang melingkar di tangan kanannya sesaat. “Lima menit lagi jam tiga.”
“Aduh … gue telat!” panik Aya yang langsung sibuk membereskan barang-barangnya. “Yan, gue tinggal di sini nggak apa-apa, kan? Jangan ke mana-mana ya, gue mau nemanin bokap gue tes dulu. Oke?”
Ryan mengangguk setuju tanpa protes. “Santai aja, gue nggak bakal ke mana-mana kok.”
“Oke, kalau gitu gue pergi dulu ya.”
“Eh, Ya!” teriakan Ryan langsung membuat langkah Aya terhenti.
“Apa?!”
Ryan menaikkan telapak tangannya secara perlahan lalu menurunkannya lagi dengan gerakan yang lebih pelan. “Tenang … orang tua lo bakal ikut panik kalau lo kayak gitu. berdoa aja sama Tuhan. Gue yakin, bokap lo pasti nggak kenapa-kenapa kok.”
Mendengar itu, sontak senyuman Aya terukir tipis. “Thanks, Yan.”
***
“Sudah, siap?” tanya seorang suster dengan ramah.
Sontak, Aya mempererat genggaman tangannya pada sang Ayah. Ujung-ujung jarinya sangat dingin saking groginya.
“Ini Bapak saya nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Aya untuk yang kesekian kalinya.
Suster itu tersenyum mendengar pertanyaan Aya. “Saya tidak bisa memastikan apapun saat ini. Setelah menjalani tes nanti, Dokter akan menyampaikan secara detail apa pasien baik-baik saja,” jawab sang suster yang memiliki stok kesabaran tak terbatas.
“Tapi—”
“Ssstt, sudah,” potong Ayah Aya yang tahu kalau anaknya itu akan menanyakan pertanyaan tidak penting lagi. “Kamu kok jadi alay begini, sih?” protesnya.
Benar juga. Tujuan Aya berada di sini untuk menenangkan ayahnya sebelum menjalani tes, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Ayah Aya terlihat sangat santai, malah Aya yang panik bukan main sampai-sampai jarinya dingin begitu.
“Tapi Pak, nanti kalau—”
“Kita lihat nanti hasilnya bagaimana. Ndak usah nebak-nebak kamu, Nduk. Kamu ndak pintar nebak,” potong sang Ayah lagi.
Aya mengacak-acak rambutnya. “Nanti di dalam Bapak nggak usah panik, ya.”
Ucapan Aya sontak membuat Ayah, Ibu, dan suster tertawa secara bersamaan.
“Bapak loh dari tadi adem ayem, kamu yang panik sendiri,” ucap Ibu yang masih berusaha menghentikan cekikikannya.
Sontak, pipi Aya langsung merona menahan malu. “Ah … mana ada. Ibu ngarang aja,” elak Aya yang berusaha menyelamatkan harga dirinya yang tinggal nama.
“Jadi gimana? Pasien dan keluarga siap?” sang suster bertanya ulang.
Mereka bertiga mengangguk secara bersamaan.
Suster itu tersenyum lega. “Pasien akan kami bawa ke ruang pemeriksaan sekarang, ya. Ibu dan Mbaknya bisa menunggu di ruang tunggu. Nanti kalau sudah ada hasilnya, akan kami panggil untuk menemui Dokter,” jelasnya.
“Terima kasih,” ucap Aya sebelum ranjang ayahnya dibawa oleh sang suster pergi.
Setelah memastikan bayangan ayahnya tidak lagi terlihat, pandangan Aya beralih pada sang Ibu. “Ibu pergi ke ruang tunggu sebentar. ya. Aya mau ngurus sesuatu di meja administrasi lantai bawah.”
Aya menatap pintu lift yang tertutup secara perlahan dengan pikiran kosong. Kepalanya kembali menerka-nerka kemungkinan apa yang terjadi pada ayahnya. Sejak tadi pagi, hati Aya merasa tidak nyaman. Seakan-akan sesuatu yang buruk akan terjadi.
“Eh, tunggu-tunggu!”
Teriakan itu sontak membuat tangan Aya bergegas memencet tombol “buka” yang ada di lift, membuat pintu lift yang sedikit lagi tertutup kembali terbuka lebar.
“Terima ka--”
Aya menelan ludahnya dengan susah payah. Seorang pria tinggi dengan rona merah di pipinya. Dari ujung kepala sampai kaki, terpancar aura keramahan yang sangat dikenali Aya.
Rendra.
Mungkin ini pertanda buruk yang dimaksud oleh hatinya sejak tadi pagi.
Tidak ingin bercengkrama dengan musuh lamanya itu, Aya langsung menundukkan wajah, berpura-pura tidak mengenali Rendra yang kini sudah menatapnya dengan tatapan penuh tanda tidak suka.
“Di lantai tiga ada Jo. Awas aja kalau gue lihat lo cari muka sama dia.”