“BAPAK?!” teriak Aya sambil membuka pintu ruangan bernomor 2.03 itu dengan kasar.
Napas perempuan itu terengah-engah lantaran berlari dari pintu masuk hingga ke sini saat dia menerima telepon dari ibunya kalau ayahnya sudah siuman.
Di atas ranjang, terbaring seorang pria paruh baya yang menatapnya dengan senyuman hangat, memperlihatkan rentetan gigi yang menguning lantaran mengkonsumsi kafein berlebihan.
“Aaaaa, Bapak!” tangis haru Aya pecah, dengan kebahagiaan penuh dia segera memeluk ayahnya dengan seerat mungkin.
Dengan lembut, Ayah Aya membalas pelukan sang anak dengan tak kalah haru. “Wuish … anak Bapak sudah besar sekarang. Mirip siapa sih ini, kok cengeng,” ucap Ayah Aya yang berusaha menghibur anaknya.
Setelah beberapa menit, Aya akhirnya melepas pelukan dengan napas yang terisak-isak. Beralih menatap Ibu yang sedari tadi hanya memperhatikan sepasang ayah dan anak itu dengan tentram “Kata Dokter apa, Bu?”
“Kata Dokter sore nanti Bapak bakal jalani beberapa tes buat nyari penyebab Bapak tiba-tiba pingsan. Ini sekarang disuruh makan dulu.” Ibu Aya menunjuk piring berisikan bubur dan sayur bening yang masih terlihat baru.
“Kok ini belum di makan sama sekali?” protes Aya, menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
Ibu mengedikkan bahu sambil memajukan bibirnya, menghadap ke arah suaminya. “Mboh, tanya tuh Bapakmu. Susah banget diurus.”
Aya menghela napas. Tentu saja … sifat keras kepala yang dimiliki Aya itu berasal dari ayahnya. Ibu pasti sudah memaksa suaminya untuk makan, tapi pria itu tetap menolak. “Kok ini nggak dimakan, Pak?” tanya Aya tegas dengan tangan yang bersedekap di depan d**a.
“Bapak ndak selera, Nduk,” jawab ayahnya dengan wajah menunduk. Pasti pria itu sudah tahu nasibnya setelah ini bakal bagaimana.
Mendengar jawaban yang sangat mengecewakan itu membuat Aya seketika naik pitam. Setelah tidak sadarkan diri selama seharian penuh, bisa-bisanya dia bilang tidak selera makan. “Makan, Pak.”
Dengan wajah yang masih menunduk, Ayah Aya menggeleng pelan. “Perut Bapak rasanya kaya kembung gitu, nanti kalau makan takutnya muntah.”
Aya menggeleng tegas. “Bapak pokoknya harus makan.”
“Nanti muntah, Nduk ….”
“Ya kalau muntah tinggal dibersihin! Yang penting sekarang Bapak makan,” ucap Aya yang sudah menaikkan intonasi suaranya.
“Ta—”
“Makan, Pak,” potong Aya. “Aya suapin, ya?”
Ayah Aya tidak menjawab, pertanda kalau pria itu sudah kalah dalam perdebatan ini.
Menyadari kemenangannya, Aya langsung menjentikkan jarinya dengan penuh semangat. “Oke! Ibu, pindah ke sofa aja, biar Aya yang duduk di kursi ini. Aya mau suapin Bapak,” usir Aya dengan halus yang langsung disetujui oleh ibunya.
Dengan tatapan nanar, Ayah Aya menatap setiap inci bubur yang di sendok oleh Aya. “Jangan banyak-banyak, Nduk.”
Aya mengangguk. “Ini Aya ambil cuma setengah sendok aja, kok. Aaaa ….”
“Enak, kan?” tanya Aya saat ayahnya menelan suapan pertama buburnya.
Ayah Aya menggeleng tidak setuju. “Hambar, ndak ada rasanya. Enakan masakan Ibu di rumah.”
“Makanya, kalau mau makan enak terus yo nggak usah sakit-sakitan,” timpal Ibu dengan tangan yang sibuk merapikan tumpukan bantal.
“Hooh, jangan sakit makanya. Biar bisa makan masakan bintang lima.” Aya ikut menimpal sambil kembali menyuapkan bubur pada ayahnya.
“Ya siapa sih yang mau sakit? Kalau sudah takdirnya sakit ya Bapak bisa apa. Paling-paling ngeluh sama Tuhan,” jawab ayahnya yang tidak ingin terus disalahkan.
“Bapak kok bisa tiba-tiba pingsan gitu sih?” setelah seharian penuh bertanya-tanya, Aya akhirnya bisa menanyakan pertanyaan itu secara langsung.
“Yo ndak tahu, kok tanya Bapak.”
Dahi Aya berkerut mendengar jawaban dari sang Ayah. “Ya kan yang sakit Bapak, Aya tanya ke Bapak lah. Masa iya Aya nanya ke teman Aya. Bapak maksain kerja pas sakit, ya?” tuduh Aya.
“Mana ada!” jawab ayahnya dengan cepat. “Wong dari rumah Bapak sehat bugar, makan banyak. Kalau ndak percaya tanya sama Ibumu sana.”
Pandangan Aya beralih pada ibunya. “Bapak bohong, Bu?”
Ibu Aya menggeleng. “Bener Bapakmu. Sarapannya kemarin malah nambah dua piring.”
Aya diam sejenak, berusaha menerka-nerka penyebab kenapa ayahnya bisa pingsan. “kalau gitu kenapa bisa pingsan, ya?”
Ayah Aya memukul pelan lengan perempuan itu. “Sudah, nanti biar Dokter yang vari tahu. Kamu nggak usah mikir keras gitu, kayak bener aja tebakannya.”
Mendengar itu, Aya langsung tertawa. “Bener juga, ya. Dulu pas pelajaran biologi aja Aya suka tidur, hehehe.”
Tok … tok … tok ….
Suara ketukan pintu membuat perbincangan hangat antara keluarga yang hanya diisi oleh tiga orang itu terhenti.
“Siapa itu, Bu?” tanya Aya heran.
“Yo ndak tahu. Coba kamu buka dulu, siapa tahu ada yang mau jenguk Bapak.”
Aya mengangguk. Dia lantar berjalan mendekati pintu dengan wajah yang menyiratkan ke-kepoan tanpa batas. “Siapa?”
“Hai!”
Kedua bola mata Aya seketika membesar. Perempuan itu bahkan sampai mengerjap berkali-kali untuk memastikan apa yang dilihatnya itu nyata. “Ryan?”
“Tada, surprise!” seru Ryan sambil memperlihatkan dua kantong plastik besar yang digenggamnya.
Meski masih dalam kondisi shock, Aya tetap membukakan pintu lebar-lebar, mempersilakan Ryan masuk.
“Kok lo ada disini?” tanya Aya heran.
“Ada meeting online sama klien yang kebetulan dekat daerah sini. Jadi gue sekalian mampir,” jawab Ryan dengan santai.
“Siapa itu, Nduk?” tanya Ayah Aya, menatap Ryan dengan wajah penuh selidik.
“Ah … Selamat siang, Pak, Buk.” Ryan memberi salam sambil tersenyum ramah. “Saya Ryan, teman kerjanya Aya.”
“Who … kamu Ryan yang mengantar Aya ke Jogja, ya?” tanya Ibu Aya heboh, bahkan sampai berdiri dari sofa dengan mulut yang menganga lebar.
Ryan mengangguk malu-malu. “Iya, Bu.”
Seketika, Ibu Aya langsung berjalan cepat mendekati Ryan, membuat posisi Aya yang tadinya berdiri di sebelah Ryan langsung tergeser. “Aduh, Le. Sini ayo duduk dulu. Maafin Ibu tadi ndak kenal.”
“Ah … ini, Bu.” Ryan memberikan dua buah kantong plastik besar yang dipegangnya pada Ibu Aya sebelum dirinya mendaratkan tubuh di sofa.
“Aduh … kenapa repot-repot toh, Le? Mana ini banyak banget yang kamu bawa,” protes Ibu Aya saat melihat isi dari dua buah kantong plastik itu.
“Nggak banyak, kok. Cuma buah-buahan untuk Bapak sama selimut untuk Ibu sama Aya,” jawab Ryan.
“Lain kali kalau kesini gak usah bawa apa-apa, Le. Kamu sudah bantuin Aya, seharusnya Ibu yang nyiapin apa-apa ke kamu. Kok malah kebalik gini.”
“Nggak ngerepotin, kok,” ucap Ryan yang berusaha meyakinkan Ibu Aya. “Tadi sekalian ada urusan di dekat sini, Bu. Itu juga yang saya kasih nggak seberapa. Aya juga sering bantuin saya di tempat kerja.”
“Kamu mau minum apa? Ibu beliin teh hangat di kantin rumah sakit, ya?” tawar Ibu Aya.
“Ah, nggak usah Bu. Ini sebentar lagi juga mau pergi kok.”
“Pssst!”
Bisikan itu seketika langsung membuat perhatian Aya teralihkan. “Kenapa, Pak?” tanya Aya yang entah kenapa ikut berbisik juga.
Ayah Aya melirik ke arah Ryan dan ibunya yang asik berbincang. “Pacarmu, Ya?”
“Ah, bukan!” jawab Aya tegas. “Teman kerja, Pak. Kebetulan satu tim juga, jadi dekat.”
Mendengar jawaban dari anaknya, Ayah Aya berdecak kecewa. “Sayang banget, padahal Bapak suka sama modelan temanmu itu. Pacaran aja kamu sama dia. Sama-sama jomblo, kan?”