Kecanduan Digital — Pesan yang Mengubah Segalanya
Bali selalu terlihat lebih indah menjelang malam.
Langit berubah jingga keunguan, udara mulai lembap setelah panas seharian, dan jalanan Seminyak dipenuhi suara motor bercampur musik dari beach club yang bocor sampai ke jalan utama.
Di atas motornya, Kayla Rain menghela napas panjang sambil berhenti di lampu merah. Notifikasi pekerjaan terus bermunculan di layar ponselnya.
Client Australia.
Project revision.
Invoice overdue.
Biasa...
Di usia tiga puluh tiga tahun, Kayla sudah terlalu terbiasa menjadi “perempuan kuat.” Pemilik bisnis IT kecil yang perlahan berkembang, perempuan yang terlihat tenang bahkan ketika isi kepalanya terasa seperti kabel kusut.
Pernah menikah dua kali. Dua tahun terakhir hidupnya berantakan. Kebangkrutan karena salah mempercayai tunangannya membuat Kayla kehilangan hampir semuanya—termasuk kedua putranya yang kini tinggal di Eropa bersama mantan suami keduanya.
Dan rasa kosong itu tidak pernah benar-benar hilang.
Jadi dia bekerja.
Terlalu banyak.
Karena bekerja membuatnya tidak berpikir.
Malam itu dia hanya ingin pergi ke apartment sahabatnya, Tania, minum wine murah, lalu mengeluh soal hidup seperti biasa.
Nothing special.
Sampai notifikasi itu muncul.
Ting.
Dating app yang bahkan hampir tidak pernah dia buka lagi.
New Match: Jack S.
Kayla berhenti scrolling.
Foto profil pria itu aneh. Tidak ada senyum palsu atau foto flexing seperti kebanyakan pria lain. Hanya pria tinggi memakai kaos hitam kusam di depan area workshop atau tambang.
Just… normal.
Dan anehnya, itu menarik perhatian Kayla.
—
Di sisi lain Seminyak, Jack duduk sendirian di samping kolam renang villa yang terasa terlalu sunyi.
Botol alcohol kosong masih ada di meja dapur. Seharusnya minggu itu menjadi liburan ulang tahun bersama pacarnya.
Shania.
Empat tahun hubungan, dan semuanya hancur setelah pertengkaran brutal semalam.
Villa itu seharusnya dipenuhi musik, alkohol, dan makan malam romantis.
Bukan kamar kosong seperti sekarang.
Dating app itu sebenarnya cuma distraksi bodoh untuk mengalihkan pikirannya beberapa menit.
Sampai dia melihat profil perempuan bernama Kayla Rain.
Dan entah kenapa, dia berhenti scrolling.
- “You look like someone who overworks and forgets to eat dinner.”
—
Kayla langsung tertawa kecil membaca pesan itu.
Bold.
- “And you look like someone who smells like cigarettes and poor decisions.”
Typing…
- “That’s probably the most accurate description anyone’s ever given me.”
Tanpa sadar, Kayla tersenyum.
Percakapan itu terasa mudah.
Terlalu mudah.
Biasanya Kayla cepat bosan berbicara dengan laki-laki baru. Tapi Jack terasa berbeda. Tidak berusaha terlihat sempurna. Tidak terlalu manis. Tidak fake.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama, Kayla merasa nyaman berbicara dengan seseorang.
Begitu sampai di apartment Tania, Kayla langsung menjatuhkan tubuh ke sofa sambil masih memegang ponselnya.
“Finally,” kata Tania sambil membawa wine. “Lo telat.”
“Kerja.”
“Lo hidup isinya kerja doang.”
Tania lalu menyipit melihat senyum kecil di wajah Kayla.
“Nah tuh. Senyum begitu biasanya ada cowok.”
“Apaan sih.”
“HAH. Bener kan?”
Akhirnya Kayla menyerah dan menunjukkan chat itu.
“Ohhh, bule,” goda Tania.
“Namanya Jack.”
“Hot?”
“Belum lihat mukanya jelas.”
“Red flag.”
Kayla tertawa kecil.
Entah kenapa justru itu yang menarik.
Mereka terus chatting. Tentang pekerjaan. Tentang Bali. Tentang insomnia dan kenapa orang dewasa tetap bisa merasa kesepian meski hidupnya sibuk.
Lalu sebuah pesan muncul.
- “It’s my birthday today by the way.”
Kayla berhenti mengetik.
Birthday?
“Oh no,” gumam Tania setelah membaca chat itu. “Jangan bilang lo iba.”
“Aku gak iba.”
“Kayla.”
“…Sedikit.”
Bayangan seorang pria asing menghabiskan ulang tahun sendirian tiba-tiba membuat dadanya terasa aneh.
Mungkin karena dia tahu rasanya merasa sendirian di tengah kota yang ramai.
- “I was supposed to go out. Change my mind."
- “Birthday gets less exciting when you get older anyway.”
Kayla menggigit bibir bawahnya pelan,
Dangerous.
Karena dia tipe orang yang terlalu mudah tersentuh oleh kesepian orang lain.
Tania langsung merebut ponselnya.
“Double date aja.”
“Apa?”
“Aku mau ketemu Daniel nanti malam. Kita ajak dia.”
Kayla tertawa tidak percaya.
“Aku baru kenal dia satu jam.”
“So what? Kita di Bali.”
Kayla menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya mengetik:
- “Birthday boy shouldn’t spend his night alone.”
Balasan datang beberapa saat kemudian.
“Dinner?”
Jantung Kayla berdetak sedikit lebih cepat.
—
Malam datang terlalu cepat di Bali.
Kayla berdiri di depan cermin apartment Tania memakai dress hitam sederhana. Tidak terlalu formal, tapi cukup membuatnya terlihat seperti perempuan yang hidupnya baik-baik saja.
Padahal tidak selalu begitu.
“Aku nervous,” katanya sambil memakai lip gloss.
Tania tertawa. “Lo pernah presentasi depan investor Australia.”
“This feels worse.”
“Karena investor gak bisa bikin lo jatuh cinta.”
Kayla langsung melempar bantal ke arahnya.
Ponselnya bergetar.
Jack.
- “Hey… I don’t think I should come.”
Senyum Kayla perlahan hilang. Pesan lain kembali muncul.
- “Long day. I’m exhausted.”
Dan anehnya, rasa kecewanya muncul terlalu cepat untuk seseorang yang bahkan belum pernah dia temui.
- “No worries. I’ll still go eat.”
Seen.
Dan tidak ada balasan lagi.
—
Restaurant dekat pantai itu cukup ramai dengan musik acoustic dan aroma seafood bakar. Kayla duduk berseberangan dari Tania sambil sesekali melirik pintu masuk.
Lima belas menit.
Dua puluh menit.
“Maybe he’s not coming,” kata Tania pelan.
Kayla tersenyum tipis. “It’s okay.”
Dan itu bohong.
Karena bagian paling menyebalkan dari dirinya adalah dia selalu berharap terlalu cepat.
Saat pelayan menuangkan wine, ponselnya bergetar lagi.
- “Still there?”
- “Yeah.”
Typing…
* “I’m coming.”
“OH MY GOD,” bisik Tania.
“Shut up.”
Tapi jemari Kayla langsung dingin.
Dan beberapa menit kemudian—
dia datang.
Tinggi. Jauh lebih tinggi dari bayangan Kayla.
Kaos hitam polos. Jeans gelap. Tattoo memenuhi lengan kirinya. Rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang sedang malas melakukan apapun.
Dan wajah itu—
bukan tipe wajah sempurna, namun sangat tampan.
Tapi terasa nyata.
Matanya langsung mencari Kayla begitu masuk.
Dan saat tatapan mereka bertemu, sesuatu di d**a Kayla terasa jatuh pelan.
Oh.
Jack berjalan mendekat sambil memasukkan tangan ke saku.
“You stayed.”
Aksen Australianya rendah dan berat.
Kayla tersenyum kecil.
“You came.”
Beberapa detik pertama terasa aneh.
Bukan awkward.
Lebih seperti… familiar.
Seolah mereka sedang melanjutkan percakapan yang sudah dimulai sejak lama.
Mereka berbicara tentang hidup, pekerjaan, insomnia, dan alasan Jack berada di Bali.
Semakin lama Kayla memperhatikannya, semakin dia sadar satu hal:
Jack bukan tipe pria yang pandai membuat kesan baik.
Dia terlalu jujur. Terlalu apa adanya.
Dan justru itu yang membuatnya sulit diabaikan.
Di tengah percakapan, Jack memandang Kayla beberapa detik lebih lama.
“What?”
Jack menggeleng kecil.
“You don’t look like your photos.”
“Bad or good?”
“More dangerous.”
Kayla tertawa pelan, tapi kalimat itu tinggal lebih lama di kepalanya dibanding seharusnya.
Karena malam itu, tanpa mereka sadari—
sesuatu sudah dimulai.
Bukan cinta.
Belum.
Tapi sesuatu yang nantinya akan terasa terlalu dalam untuk dihentikan.