Kemantapan Hati

1193 Kata

“Sori yah Ning aku nggak sempat ke rumah kamu langsung untuk ngelayat ataupun takziah, noh suami kamu buat aku berasa jadi babu seenaknya ngelimpahin kerjaan ke aku.” Tunjuk Dinda pada abang sepupu tercintanya yang sedang berbicara di ruang tamu dengan laki-laki yang Dinda perkenalkan sebagai calon suaminya. Sementara mereka berdua memilih berbicara di ruang tenga. “Nggak masalah Din, toh kalaupun kamu datang belum tentu bakalan aku layani, kerjaan ku bolak-balik pingsan, mungkin di hari ke 3 setelah kepergian ibu aku udah mulai menerima dan sadar kalau aku nggak sedang bermimpi, paham kan yah maksud aku? Atau jutru belibet kamu dengarnya?” Jelas Bening mengambil posisi disamping sepupu suami rasa sepupu sendiri, usai membawakan dua cangkir the hangat dan beberapa cemilan untuk ‘calon sua

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN