"Aku lapar mas, kepingin makan sate lontong dengan kuah kacang yang pedas.” Entah keberanian dari mana Bening mengatakan hal itu pada suaminya, kepalanya kini dipenuhi dengan makanan berasal dari beras lunak tersebut, dihidangkan hangat-hangat tak lupa ditaburi bawang goreng.
“Kamu serius Ning? Mau cari kemana sate jam 4 pagi begini? Mana aada yang jualan jam segini? Lebih baik kamu tidur saja jangan buat kepalaku semakin pening dengan permintaan mu yang aneh-aneh itu,” tandas Bayu memijit keningnya.
Bening terperanjat mendengar bentakan Bayu. Baru saja laki-laki itu bersikap lembut tapi kini laki-laki itu kembali pada kebiasaannya.
“Maaf” ucap Bening bergetar. Dengan terburu-buru Bening merubah posisi tidurnya menyamping memunggungi Bayu dan mengabaikan tangannya yah diinfus.
“Apa kau tidak bisa bergerak lebih lembut Bening? Tanganmu itu diinfus!” peringat Bayu memastikan infus istrinya tetap berjalan normal, namun hal itu tak mampu meluluhkan perasaan Bening yang sudah terlanjur sakit hati, Bening hanya mengutarakan keinginannya tapi kenapa laki-laki itu membentaknya? Kalau tidak mau membelikan yah sudah.
Tidak taukah suaminya kalau dirinya sudah kehilangan seluruh makanan yang ia makan hari ini? yah wajar kalau Bening mengeluh kelaparan.
***
Dengan telaten Bening membantu mengkontrol makanan yang terhidang untuk acara akad yang akan diadakan setelah makan siang, sesekali Bening bersenda gurau dengan keluarga dari suaminya, dari awal dirinya masih bersama dengan Adelio, keluarga suaminya ini begitu terbuka menyambutnya.
“Wajahmu pucat sekali nak, kamu sakit?” tanya mertua Bening khawatir.
“Masih kelihatan pucat yah mah?” Padahal Bening sudah menggunakan make up lebih tebal menutupi pucat pada wajahnya.
“iya nak, kamu sakit? Sorot mata kamu itu loh gak bisa bohong sayang, kamu juga kurusan.”
“Mungkin karena Bening kecapean aja ma, kerjaan di kantor lumayan padat.” Alibi Bening memilih alasan random.
“Loh kamu kerja? Sejak kapan Bening?” Bening gelagapan ia lupa mengatakan kalau dirinya sudah bekerja.
“Sudah hampir satu minggu ma, maaf Bening baru kelupaan cerita sama mama”
“Memangnya uang dari suamimu kurang?” Meski terdengar lembut, tapi pertanyaan itu seolah-olah dirinya seperti tidak cukup dengan apa yang ia punya, padahal bukan itu alasannya.
“Bukan begitu ma, duit dari mas Bayu sangat cukup, hanya saja Bening mau mempunyai kesibukan, seharian di rumah terus gak ngapa-ngapain bosen juga, makanya Bening nyambi kerja, mas Bayu kasih izin kok,” terang Bening menjelaskan.
“kalau kalian sama-sama kecapean kapan kalian memberikan mama cucu? tetangga mama saja baru 9 bulan menikah, sudah 4 bulan saja usia anaknya.” Bening terkekeh mendengar ucapan mertuanya, padahal tentu mertuanya itu lebih paham dari dirinya mengapa hal itu bisa terjadi.
“Itu namanya kebobolan mama,” canda Bening kembali tersenyum.
“Mama paham, tapi mama juga kepengen gendong cucu kandung mama sendiri dari kamu sama Bayu.”
“Doanya aja Mah, kalau sudah rezeki nanti pasti Bening sama mas Bayu bakalan ngerepotin mama.”
“Tante, Beningnya jangan dicecar gitu dong. Kasian menantu tante ditagih cucu melulu. Bayu tuh yang dikasih tau biar rajin ngelonin istrinya.” Bening menggeleng tak paham dengan jalan pikiran sepupu suaminya satu itu, mulutnya seperti kereta api tua, tidak ada remnya.
"Mulut mu itu loh Din."
“Loh bener loh aku, Bayu harus sering ngelon kamu kan istrinya.Tan, Dinda pinjam sebentar menantunya yah, bye tante cantik.” Walaupun terkadang Dinda sangat menyebalkan, tetapi kali ini Bening merasa berterima kasih karena Dinda menariknya dari teror mertuanya yang terus-menerus menanyakan kabar kehamilannya. Bisa-bisa bening pingsan bila terus-terusan dicerca perkara cucu yang entah kapan dititipkan padanya.
“Kamu mau makan apa? Aku tau kamu pasti belum makan dari tadi pagi kan? Mau aku bantu ambil atau aku minta Bayu yang ambilin? Gak usah merasa canggung kalau lapar yah makan Ning.” Kembali Bening meringis pelan, merasa tersindir dengan sikapnya yang memang akan makan kalau disuruh makan, dan hal itu terkadang membuatnya kesulitan sendiri.
“Aku belum lapar kok Din kalau lapar mah udah habis semuanya aku makan. Lagi pula acara akadnya sebentar lagi, aku mau menyaksikan itu.”
“Setidaknya kau makan dulu, kau harus minum obat kan?” Dinda tau kalau Bening sakit, karena tadi subuh ketika mereka sampai Bayu meminta tebusan resep padanya.
“Yah tapi aku sedang malas nanti saja, tadi pagi aku udah minum obatnya.”
“Karena itu kau harus makan tepat waktu Bening agar bisa minum obat.”
“Tidak masalah, aku jamin tidak akan mati hanya karena terlambat makan dan minum obat, lagi pula aku sudah mendingan.” Kali ini Bening memilih fokus pada salah satu MC yang mengarahkan pada kedua mempelai laki-laki dan wali untuk duduk pada posisi masing-masing, sementara mempelai wanita duduk di belakang bersama para perempuan yang menyaksikan akad siang ini.
“Sah.”
Satu kata sakti yang menandakan lolosnya perkara ijab dan kobul suatu pernikahan, menjadi penanda ada tanggung jawab dan hak yang harus dijalankan kedua mempelai.
Bening mengangkat kedua tangannya mengamini tiap doa yang keluar untuk keberkahan keduanya, terselip nama Bayu saat ia mengusapkan kedua tangan pada wajahnya.
“Khusuk sekali kamu Bening, aku seperti melihat kau sebagai mempelai bukan sebagai tamu.”
“ Kita memang harus khusuk dalam meminta kan?”
“Sebahagia kamu aja Bening,” balas Dinda kembali fokus pada mempelai yang sedang menandatangi buku nikah namun juga sesekali menoleh pada Bening yang kini fokus memperhatikan Bayu.
“Samperin gih, dilihat mulu.Udah hak milik sekaligus hak pakai, jangankan dipegang, bongkar pasang juga bisa,” canda Dinda yang membuat Bening gelagapan karena ketahuan sedang menatap suaminya sendiri.
“Astaga Dinda mulut kamu. Lagi pula aku tidak memperhatikan mas Bayu.”
Sekali lagi Dinda tergelak. “Memang aku ada bilang nama Bayu? Perasaan aku bilangnya hak milik dan hak pakai deh bukan Bayu.”
Bening memilih bungkam, tidak akan ada menangnya bila ia meladeni Dinda. “Mencintainya setulus hati bukan dosa kan Din?”
Pertanyaan tersebut tentu membuat Dinda terdiam. “Bukannya memang seharusnya begitu?”
“Tapi kita tidak bisa memaksakan hati seseorang, maksud aku kita tidak bisa memaksa hati kemana berlabuh karena ada Dia yang maha membolak balik hati.”
“Yah benar, seperti pengantin baru itu kan maksud kamu Bening?”
“yah mereka... eh Din aku dengar kamu mau melanjutkan S3 mu, kamu tidak mau menikah? Aku tidak ingin ikut campur, hanya saja kamu tau kan perempuan itu punya limit waktu?” Sebenarnya ucapan barusan seperti tamparan untuk dirinya sendiri.
“Ning, aku lapar banget, kita lihat-lihat dulu yuk takutnya habis gak kebagian kitanya.” Bening mengangguk. Ia paham kalau perempuan itu sedang tidak ingin membahas hal tersebut tanpa harus mengatakannya.
“Jadinya kita makan apa? Dari tadi kita hanya keliling. Bahkan minuman ku saja sudah habis,” keluh Bening yang mulai kesal karena mereka hanya berjalan tanpa menyentuh apapun, bahkan perutnya kini sudah mulai berontak minta diisi.
“Habisnya banyak banget aku jadi bingung.”
“Kita makan siomay aja gimana Din? Lagi males makan nasi.”
***
“Bening, dari tadi kamu lihatin Bayu segitunya, samperin gih! Dari pada dilihatin mulu.”
“Enggak kok, aku nggak lagi lihatin dia, sok tau kamu Din.” Bening berusaha kembali pada makanannya, meski tak ada selera sedikitpun.
“Kamu gak perlu bohong Ning, tapi yah sudah dari pada kamu malu aku iya aja deh, tapi nih yah kalau boleh tau, Bayu bagaimana sikapnya sama kamu?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu? Maksud aku kamu kan sepupunya tentu kamu lebih tau dari pada aku.”
“yah aku tau Bayu itu baik, kalau sebagai seorang suami dia seperti apa?”
“Yah itu dia baik, memang apa lagi?”
“Maksud aku yang spesifik gitu cantik, perhatian, cuek, penyayang, bucin, cemburuan atau apa gitu. Kalau baik mah standar banget, abang tukang parkir depan juga baik”
“Kamu malah menyamakan mas mu dengan tukang parkir, yah dia suami yang baik sama aja seperti suami-suami yang lain.” memang apa lagi yang akan dikatakan Bening? Mengatakan kalau dirinya telah dimadu? Ia tidak ingin dikasihani oleh siapapun termasuk keluarga suaminya sendiri.
“Bagus deh, kalau Bayu berani macem-macem kamu kasih tau aku aja biar aku yang kasih pelajaran buat dia.”
“Ada-ada aja kamu Din, dari pada bahas Bayu mendingan kamu habisin batagornya kalau kuahnya encer gak enak.”
***
Udara malam ini terasa lebih dingin, selain karena daerah pegunungan, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan sehingga udara terasa lebih menusuk tulang.
“Belum tidur Bay?”
“Din, kamu ngapain di sini? sudah malam tidur gih!”
“Kau sendiri ngapain di sini?”
“Aku baru selesai menerima telepon.” Dengan pandangan mencibir Dinda kembali bertanya.
“Dari istri kedua lu?” seketika Bayu tersedak ludahnya sendiri, ia kesulitan menjawab pertanyaan dari sepupunya, dari mana perempuan itu tau kalau dirinya menikah kembali? Apa Bening mengadu pada sepupunya?
“kenapa diam? gue benar kan? lu tenang aja bukan Bening yang cepuin, bahkan dia menutupi aib-aib lu bang, kurang apa lagi sih tuh perempuan?”
“yah tadi aku berbicara dengan Rina.” Bayu mengangguk pelan.
“Jangan sebut namanya, gue muak dengar namanya. gue muak bukan karena dia merebut lu dari Bening. Tapi karena lu terlalu bodoh, dia dulu yang ninggalin lu dan sekarang dia menjadi hama di hidup kalian, maaf kalau ucapan gue menyinggung lu bang. tapi gue nggak terima dengan perlakuan dia dulu dan bagaimana lu sampai sakit, dan sekarang dia lu kawini, b**o sih kalau kata gue. ”
“Din dia punya alasan. Saat itu dia sedang mengejar mimpi-mimpinya.”
“apapun itu, gue nggak perduli. Lu dengar sendiri kan kalau Bening benar-benar menutupi kelakuan kalian. Asal lu tau bang, perempuan juga punya batas toleransi atas perlakuan timpang yang lu lakukan, jangan salahkan dia kalau sampai Bening yang memilih pergi dari kehidupan lu, atau memang itu yang lu mau? Lu harus ingat Bay sampai kapanpun istri muda lu itu udah menjadi daftar black list dalam keluarga apalagi tante, lu tau betul hal itu. Meskipun pada akhirnya tante menerima kalian itu tidak akan merubah perasaan seorang ibu yang anaknya dipermainkan.”
“Gue cuma gak mau tuh cewe nyakitin lu lagi yang cuma buat lu sakit. Akh sudah lah berbicara pada orang yang sedang dimabuk cinta buta sangat sulit dan percuma, lebih baik lu tidur. gue cuma mau bilang kalau dulu aja dia bisa ninggalin lu tanpa kabar demi dirinya sendiri apa bedanya saat ini?”
Usai mendapat kuliah tujuh menit dari Dinda Bayu memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan Bening, kantuknya sudah mulai menyerang, terlebih besok masih ada hari yang melelahkan.
Ia tidak akan marah pada Dinda karena sepupunya itu tau semua yang terjadi pada dirinya, dan kemarahan itu bentuk kepeduliannya dan juga rasa sayangnya pada Bening.
Hampir setengah jam menunggu Bening menggunakan kamar mandi, tapi belum ada tanda-tanda kalau perempuan itu akan keluar dari kamar mandi.
“Loh mas Bayu, kamu dari tadi berdiri di situ?” tanya Bening keluar kamar mandi sembari mengusap wajahnya.
“Kamu ngapain aja di kamar mandi selama itu? Aku juga mau pakai.”
“Maaf mas tadi perutku mules, mungkin salah makan, aku duluan yah mas, capek sekali.”
“Ning, kamu mimisan?” cegat Bayu memastikan darah yang keluar dari hidung sang istri.
“Masih keluar yah mas?” tanya Bening mencari tisu terdekat dengan posisi mendongakkan kepala.
“Maksudnya?”
“Enggak maksudnya...”
“Badan kamu anget, kenapa kamu gak bilang sama aku? Kita ke rumah sakit!”
“Enggak perlu mas, aku sudah minum obat yang kemarin. Udah biasa kok kalau aku kecapean aku mimisan.” ucap Bening sambil menengadah agar darahnya tidak kembali mengalir karena ia tak menemukan di mana tisunya.
“Sudah biasa kamu bilang? perbaiki duduk mu jangan mendongak seperti itu nanti darahnya malah masuk ke saluran pernapasan, tunggu aku sebentar dan bernapas dengan mulut tetap pegang hidungmu seperti ini aku ambil es batu sebentar,” perintah Bayu mendudukkan Bening pada ranjang mereka.
“tidak perlu mengangguk, tetap tenang. Ingat jangan menengadah!” peringat bayu.
Hampir lima menit Bening menunduk bahkan tengkuknya sudah terasa pegal, barulah Bayu datang mengompres batang hidungnya. Bahkan membuat heboh satu rumah, sampai mama Bayu saja mengunjungi dirinya.
“Kamu kenapa bisa mimisan Nak?”
“Jangan ditanya dulu mah, biar mimisannya berhenti dulu,” tutur Bayu berusaha menenangkan mamanya.
“Yah sudah, kamu kompres Bay kalau tiga puluh menit belum reda langsung bawa ke rumah sakit, mama keluar dulu.”
“Iya mah” jawab Bayu tanpa merubah fokusnya pada hidung sang istri.
Bayu bernapas lega ketika darah Bening berhenti keluar bahkan istrinya itu sudah tertidur meski sesekali ia mendengar istrinya ngelantur, panasnya sudah mereda terlebih saat neneknya membawakan teh manis anget untuk istrinya.
***